RR: 100 Hari Kerja Prabowo Akan Turunkan Harga Sembako dan Listrik, Ibu-Ibu Bisa Hemat Rp1,5 Juta

Oni
RR: 100 Hari Kerja Prabowo Akan Turunkan Harga Sembako dan Listrik, Ibu-Ibu Bisa Hemat Rp1,5 Juta

Jakarta, HanTer - Tokoh Nasional yang juga ekonom senior, Rizal Ramli mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya terhenti di angka 5 persen per tahun karena sistem makro ekonomi yang selama ini diterapkan bersifat konservatif.

Rizal mengungkapkan, calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto sudah meminta langkah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Caranya, dalam waktu 100 hari kerja akan langsung mengambil kebijakan menurunkan tarif dasar listrik, agar kaum ibu mampu menghemat uang hingga Rp600 ribu per bulan.

“Lalu kedua menurunkan harga bahan makanan dari itu ibu-ibu bisa berhemat Rp50 ribu, sehingga dalam satu bulan bisa menghemat Rp1,5 juta,” papar Rizal usai menghadiri deklarasi alumni perguruan tinggi se- Sumsel pendukung 02 di Palembang, Minggu (31/3).

Kemudian ditambah penghematan listrik tadi membuat mereka memiliki daya beli. “Dampaknya, sektor ritel akan hidup kembali, dan ekonomi otomatis akan bertambah 1 persen,” lanjutnya.

Kemudian, masih kata Rizal, capres Prabowo juga ingin membangun 1 juta unit rumah untuk rakyat setiap tahun.

“Kalau bangun 1 juta unit rumah setiap tahun, lapangan kerja akan bertambah 3,5 juta baik langsung maupun tidak langsung. Kemudian, ekonomi akan kembali terdorong 1,5 persen. Nah dari situ saja artinya sudah bisa menambah pertumbuhan ekonomi hingga 7,5 persen, belum lagi rencana pengembangan sawah dan lain-lain,” kata mantan Menko Bidang Maritim dan Sumber Daya ini.

Rizal mengaku prihatin banyak petani kebun di luar Jawa, khususnya Sumatera dan Sulawesi mengeluhkan anjloknya sejumlah harga komoditi perkebunan. Seperti sawit yang anjlok hingga di bawah Rp10 ribu per kg, sementara biaya panen dan angkutnya saja sudah lebih dari Rp20 ribu.

Menurut Rizal, seharusnya dana akumulasi pajak ekspor sawit yang nilainya mencapai puluhan triliun rupiah tidak dibagikan kepada perusahan sawit besar. Justru dana itu bisa dipakai untuk menetapkan harga dasar sawit. Sehingga membuat harganya bisa lebih tinggi. begitu juga dengan kopra, karet, segalanya,

“Jelas sekali kalau pemerintah sekarang tidak mampu mencari solusi yang cerdas,” katanya.