Pancasila VS Khilafah, Propaganda Menyesatkan

Safari
Pancasila VS Khilafah, Propaganda Menyesatkan
Ilustrasi

Jakarta, HanTer-- Pengamat intelijen dari the Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya mengatakan, relasi khilafah dengan kontestasi Pillres 2019 merupakan propaganda yang cenderung menyesatkan rakyat Indonesia. Apalagi dengan menyebutkan Pemilu 2019 adalah pertarungan Pancasila (NKRI) Vs Khilafah.

Oleh karenanya, kata Harist, apa yang dihembuskan terkait pertarungan Pancasila Vs Khilafah sumbu putarnya adalah kekuasaan. "Mereka syahwat kekuasaan, sehingga menghalalkan segala cara untuk memenangkan konstestasi," ujar Harits Abu Ulya kepada Harian Terbit, Minggu (31/3/2019).

Menurutnya, khilafah sejauh ini hakikatnya baru pada level gagasan, bicara soal keamanan dalam analisis intelijen yang jujur dan obyektif maka khilafah tidak akan menempatkan sebagai ancaman aktual tapi potensial.

"Dan ancaman potensial juga masih bisa dielaborasi lebih detil untuk menakar kwalitas ancaman. Jadi isu khilafah dijadikan propaganda untuk memonsterisasi salah satu rival dalam konstentasi pilpres 2019 adalah cacat narasi," jelas Harits yang 15 tahun lebih melakukan pengkajian terkait proses pengarustamaan gagasan Khilafah di Indonesia.

Justru kalau rakyat sadar, sambung Harits, propaganda Pancasila/NKRI Vs Khilafah dalam Pilpres 2019 adalah upaya untuk memecah belah anak bangsa hanya karena demi syahwat kekuasaan yang overdosis. Justru yang perlu kajian serius adalah tentang potensi rusuh jika pasangan 01 kalah dalam Pilpres. Evidentnya adalah secara sosiologis perilaku pemilih fanatik ideologis dan non ideologis di akar rumput dari pasangan 01 banyak yang nalarnya cekak alias sumbu pendek.

"Ini rawan di provokasi untuk melakukan aksi-aksi yang bisa mengoyak kedamaian rakyat. Jadi kesimpulanya adalah; tindakan para propagandis jauh lebih berbahaya bagi kedamaian dan keamanan rakyat Indonesia dibandingkan dengan konten propagandanya. Karena para propagandis menebar hoaks dan adu domba antar anak bangsa. Waspadalah terhadap para komprador di sekeliking kekuasan," tandasnya

Hoaks

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Bunda Mulia (UBM) Silvanus Alvin mengatakan, rusuh jika Prabowo menang Pilpres 2019 ada potensi hoaks. Tapi memang perlu dibuktikan lebih dulu terkait potensi rusuh tersebut dengan dikoordinasikan ke aparat penegak hukum terlebih dulu agar ada titik terang dan jelas.

Silvanus menyakini potensi rusuh tersebut tidak akan terjadi siapapun pemenang dalam pilpres nanti.  "Saya rasa tidaklah, ini bukan zamannya lagi rusuh seperti itu," tandasnya.

Silvanus memaparkan, sejak reformasi, pemilu yang digelar selama ini cenderung berakhir dengan damai. Bila ada gesekan tentu tidak sampai mengakibatkan perang saudara. Dalam debat capres kemarin, kedua kandidat juga sudah sepakat untuk terus mengikat rasa persaudaraan.

Tidak Terjadi

Pengamat politik Indonesian Public Institute (IPI) Jerry Massie mengatakan, potensi rusuh jika Prabowo menang Pilpres 2019 bisa saja terjadi dan bisa saja tidak terjadi. Karena potensi tersebut bagian public opinion. Apalagi di AS saja saat Donald Trump menang pilpres tapi di ldemo dimana-mana sehingga hampir saja terjadi chaos politik. Jerry pun berharap semoga hal tersebut tidak terjadi dan tetap aman, siapapun yang terpilih menjadi presiden.

Jerry menganalisa, pihak yang bermain agar Indonesia rusuh adalah orang - orang khusus yang terlatih dan profesional. Oknumnya ada yang punya banyak kepentingan baik bisnis dan politik. Karena setiap pilpres ada yang berencana menggagalkannya. Namun demikian jika akan ada keributan pasti dapat diatasi. Hoaks saja upaya masif yang dilakukan di awal pilpres merupakan salah satu indikatornya.