MUI: Haram Memilih Pemimpin Pembohong

Safari
MUI: Haram Memilih Pemimpin Pembohong

Jakarta, Hanter - Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Anton Tabah Digdoyo mengatakan, pemilu intinya adalah memilih pemimpin, baik untuk tingkat  eksekutif dan legislatif. Bagi Islam memilih tidak bisa dipisahlan dengan agama karena memilih pemimpin masuk ranah ibadah bukan muamalah. Puluhan kali Allah SWT perintahkan memilih pemimpin tidak boleh sembarangan sehingga harus seiman.

"Pemimpin itu harus benar-benar cinta Allah dan RasulNya, bela Islam, dan amar maruf nahi munkar. Ini tersirat di Pancasila, UUD 45 dan diperkuat dengan Fatwa MUI 2009," tegas Anton kepada Harian Terbit, Rabu (27/3/2019).

Anton menuturkan, selain harus seiman, pemimpin juga harus berkarakter sidik (jujur), amanah (tidak bohong), tabligh (aktif dakwah), fatonah (cerdas), tidak bodo plonga plongo. Diperkuat dengan Fakwa MUI 2015 juga haram memilih pemimpin capres - cawapres, calon anggota DPR yang pembohong. Oleh karenanya dalam pemilu haram tidak memilih pemimpin atau golput. 

Tendensius

Sementara itu Direktur Eksekutif Lokataru, Haris Azhar menilai golput justru merupakan pihak yang netral dan tak bisa disangkutpautkan dengan adanya kekacauan.

Menurut Haris, jika terjadi kekacauan, hal itu merupakan buah dari adu argumentasi yang dibuat dua kubu pasangan calon dalam Pilpres 2019. Sebab, selama ini akar dari kegaduhan di ruang publik, khususnya media sosial berasal dari dua kubu yang bertarung. 

“Argumentasi seperti itu tendensius dan tidak logis, seolah-olah kekacauan karena golput. Apa buktinya golput bikin kacau, yang bikin keonaran, kan, statement para pendukung 'proyektor'. Saya sebut 'proyektor' karena mereka ini ngerjain proyek saja, proyek untuk saling bermusuhan,” kata Haris saat dihubungi reporter Tirto, Selasa (26/3/2019).

Haris mengatakan, golput merupakan pilihan, sama seperti memilih pasangan capres-cawapres ataupun para calon legislatif yang bertarung untuk masuk parlemen. 

Menurut Haris, agama Islam diturunkan untuk menjaga akal pikiran dan hati nurani. Ia mengatakan, jika hati nurani seseorang tidak percaya pada kontestan pada Pemilu 2019 ini, maka sama saja mereka turut menjaga hati nurani dan akal pikirannya.

#Pilpres   #mui   #presiden   #pemilu