Rakyat Dukung Mana? 

Perang Total Moeldoko atau Jihad Totalnya Habib Rizieq Syihab

Safari
Perang Total Moeldoko atau Jihad Totalnya Habib Rizieq Syihab
Habib Rizeq Shihab

Jakarta, HanTer— Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Moeldoko belum lama ini telah Membuat istilah perang total untuk pemilu 2019. Pernyataan Moeldoko  ini  di respon oleh Imam Besar Habib Rizieq Syihab (HRS) dengan menyerukan jihad total.

Pernyataan dua tokoh ini menjadi pro kontra. Rakyat dukung mana? Perang totalnya Moeldoko atau Jihad totalnya Habib Rizieq?

"Saya pikir masyarakat akan lebih mendukung jihad total karena jihad itu sudah pasti untuk kebaikan. Tidak ada jihad untuk yang tidak baik. Walaupun ada beberapa pihak yang menggunakan kata jihad untuk yang tidak baik maka jelas hal tersebut salah," kata politisi Demokrat Ferdinand Hutahaean kepada Harian Terbit, Kamis (21/3/2019).

Menurutnya, pemilihan kata perang total dan jihad total ini merupakan dua makna yang berbeda meskipun arahnya sama yakni menjadi yang terbaik. Perang dan jihad sama-sama bisa disebut perang juga tetapi yang pasti, jihad itu untuk memerangi yang salah. Dan kata perang belum tentu memerangi sesuatu yang salah atau tidak baik. 

Ferdinand mengatakan, banyak orang yang menggunakan kata jihad tapi salah implementasinya. Namun jika mempunyai akal sehat tentu akan  berjihad untuk kebaikan. Begitu pun antara jihad dan perang total yang saat ini sedang banyak diperbincangkan jelang Pilpres 2019, tentu masyarakat akan lebih memilih berjihad untuk kebenaran, berjihad untuk kebaikan dari pada berperang entah mau memerangi siapa tidak jelas.

"Saya pikir Moeldoko (Kepala Staf Kepresidenan - KSP) dengan kalimat perang total tidak jelas mau memerangi siapa. Tetapi kalau jihad itu jelas untuk memerangi keangkaramurkaan dan ketidakbaikan untuk menuju kebaikan rakyat dan bangsa ke depan," tegasnya.

Ferdinand mengakui, dalam alam demokrasi yang saat ini sedang berkembang, istilah perang dan jihad memang tidak tepat digunakan. Namun adanya kata jihad total juga atas jawaban dari pernyataan Moeldoko yang menyatakan perang total di Pilpres 2019. Sehingga orang atau pihak yang berpikiran waras akan siap menyatakan jihad untuk melawan perang yang disampaikan Moedoko itu.

"Didalam demokrasi, tidak seharusnya 2 kata itu muncul, karena demokrasi adalah pesta rakyat. Tapi Jihad itu adalah jawaban atas perang total dari Moeldoko," paparnya.

Kekecewaan

Sementara itu, analis Sosial Universitas Bung Karno (UBK), Muda Saleh mengatakan, tidak heran ketika ada ajakan jihad dari Pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq banyak pihak antusias yang mengikutinya.

"Banyak yang mendukung jihad total merupakan sebuah gelombang kekecewaan yang dilandasi ketidakadilan terhadap pendukung paslon 02. Karena kita tahu ada siapa saja yang ditangkap, yang terakhir Ahmad Dhani, Buni Yani. Ini menjelaskan bahwa konteks yang dilakukan Habib Rizieq masih dalam koridor ketidakadilan dalam masalah hukum," jelasnya kepada Harian Terbit, Kamis (21/3/2019). 

Muda menilai, banyak pihak yang mendukung jihad total dari ajakan Habib Rizieq juga pada dasarnya diciptakan oleh kubu Jokowi sendiri juga karena ada diskriminasi hukum. Kubu Jokowi juga terlihat seperti ada ketakutan akan kekuatan Islam. Jika memang di kubu Jokowi betul-betul menjaga keutuhan Pancasila maka tidak ada pihak - pihak disekeliling Jokowi yang tersangkut KPK.

Muda berharap, istilah perang total ala kubu Jokowi diganti, karena merusak peradaban serta pola pikir masyarakat Indonesia. Sementara Jihad versi Habib Rizieq merupakan bentuk kesadaran yang diciptakan atas kesetaraan hak di Indonesia. Oleh karena itu mari bijak dan betul-betul memiliki niat yang baik untuk menciptakan Pemilu damai agar proses demokrasi di Indonesia menjadi contoh bagi negara-negara di Asia. 

Di Amerika, kata Muda,  isu pribadi menjadi senjata lawan, itu bahkan dilihat biasa, karena pribadi, selama tidak membawa unsur merugikan masyarakat. Di Eropa peradaban masyarakatnya sudah tinggi dan perang visi dan misi menjadi senjata utama. Di Indonesia perang hoax, sibuk mendegradasi suara lawan, tanpa memberikan visi-misi, ini memalukan. 

“Saya melihat kubu Jokowi sibuk bagaimana memecah suara Prabowo-Sandi, sementara paslon 02 sibuk mengkampanyekan visi misinya dibidang ekonomi, politik, dan hal lainnya. Sebuah ketimpangan konsep politik yang membuat orang di luar sana  menilai Indonesia adalah bangsa yang besar menjadi kecil,” tandasnya. 

Muda Saleh mengemukakan, istilah ‘perang total’ yang disampaikan kubu petahana sangat tidak etis, mengingat istilah perang itu mengandung arti luas, seperti hendak perang melawan negara lain. Bagi masyarakat yang memahami arti luas tentu tidak ada masalah, karena paham bahwa ini adalah perang ideologi, perang politik yang sedang digaungkan pemerintah. Namun bagi masyarakat awam maka istilah tersebut bisa diartikan perang melawan sebuah hal yang menakutkan.

"Istilah perang total dapat mengganggu psikologis masyarakat Indonesia. Masyarakat di daerah yang menerima informasi terbatas akan melihat ini ada sebuah pertempuran yang dilakukan para elit di atas, dan ini menjadikan masyarakat sebagai korban isu panas Pilpres 2019," ujar Muda.

Imam Besar Habib Rizieq Syihab (HRS) merespon istilah perang total yang disampaikan Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Moeldoko.

“Ayo mari kita menjadi pejuang-pejuang perubahan menuju Indonesia yang lebih baik, jangan lupa kalau dari seberang sana ada seruan perang total, maka dari seberang sini kita akan jawab dengan jihad total,” kata Habib Rizieq dikutip Suara Islam Online, Kamis (14/3/2019) melalui videonya yang beredar saat bersama Ustaz Zulkifli Ali di Mekah.

Habib Rizieq menjelaskan bahwa sikap bela agama, bangsa dan negara adalah jihad, “Tapi tetap dengan cara yang konstitusional,” jelasnya.