Masih Ingat Petani Brebes yang Pernah Curhat ke Sandiaga. Kini Ditahan Polisi

An
Masih Ingat Petani Brebes yang Pernah Curhat ke Sandiaga. Kini Ditahan Polisi
Moh Subkhan, petani asal Brebes, Jawa Tengah, yang pernah ramah dibicarakan karena videonya curhat ke Cawapres Sandiaga Uno viral

Jakarta, HanTer -- Polres Brebes, Jawa Tengah, menetapkan Moh Subkhan (45) sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana penganiayaan. Penyidik pun melakukan penahanan terhadap Subkhan.

Subkhan ialah sosok yang sempat ramai diperbincangkan publik setelah videonya saat berkeluh kesah soal harga bawang yang jatuh kepada calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno viral di media sosial. Ia juga merupakan eks anggota KPUD Kabupaten Brebes.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Jawa Tengah Komisaris Besar Agus Triatmaja mengatakan penyidik menetapkan Subkhan sebagai tersangka setelah melakukan penyelidikan, penyidikan, dan gelar perkara atas laporan Sukrono (60), pihak yang diduga korban penganiayaan Subkhan.

"Iya [tersangka] berdasarkan hasil gelar perkara 13 Maret 2019," kata Agus seperti dilansir CNNIndonesia.com, Rabu (20/3).

Berdasarkan hasil penyidikan, dia menerangkan, diketahui bahwa dugaan tindak penganiayaan yang dilakukan Subkhan terhadap Sukrono terjadi pada Sabtu (9/3) sekitar pukul 21.00 WIB.

Saat itu, menurut dia, Sukrono bersama dua orang rekannya sedang berada di tepi jalan Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulukamba, Brebes untuk memperbaiki baliho salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden yang roboh. 

Kemudian, tiba-tiba datang seseorang dengan mengendarai sebuah mobil dan memukul serta mencekik Sukrono.

Akibat tindak penganiayaan itu, Sukrono sempat dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka sobek ada bibir sebelah kiri bawah.

Mendapat penganiayaan itu, Sukrono membuat laporan ke Polres Brebes. Penyidik lalu melakukan penyelidikan, penyidikan, gelar perkara, hingga akhirnya memutuskan untuk melakukan penahanan terhadap Subkhan.

Menurut Agus, Subkhan dijerat dengan Pasal 351 ayat (2) KUHP. "Iya [ditahan]," ujarnya.