Penembakan di dua Masjid, New Zealand

Pengamat: Umat Islam Jadi Target Aksi Terorisme

Harian Terbit/Safari
Pengamat: Umat Islam Jadi Target Aksi Terorisme
Pelaku penembakan massal di Selandia Baru, Brenton Harrison Tarrant, muncul di Pengadilan Daerah Christchurch

Jakarta, HanTer -- Aksi biadab penembakan terhadap Jamaah Solat Jumat Masjid al Noor dan Masjid Linwood Kota Christchurch, New Zealand di katagorikan tindak pidana terorisme. Dalam penembakan brutal di dua masjid tersebut dunia dipertotonkan aksi terorisme super biadab dan tidak diragukan lagi pelakunya adalah teroris.

"Dari peristiwa ini memberikan bukti dan indikasi kuat bahwa pada aspek pengawasan aparat terkait isu ancaman keamanan (terorisme) hanya muslim yang menjadi fokus target," ujar pengamat teroris dari The Community Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya, Minggu (17/3/2019).

Harits menilai, hakikatnya doktrin pluralisme dan moderatisme Barat hanya pepesan kosong. Banyak realitas yang ditampilkan Barat  tidak relevan dengan doktrin diatas.

Ancaman aktual dan potensial terhadap komunitas Islam diberbagai belahan dunia bisa datang dari kelompok-kelompok ultra radikal dengan melakukan aksi terorisme, genocida, atau aksi-aksi biadab antikemanusiaan lainnya.

“Lebih lagi secara faktual banyak kasus yang menimpa umat Islam diberbagai belahan dunia ketika mereka minoritas sangat rentan menjadi target aksi teror, intimidasi, intoleransi, aksi ultra radikalisme dan vandalism,” papar Harist.

Islamofobia

Sementara itu, Direktur The Islah Center Mujahidin Nur mengatakan, aksi brutal penembakan jamaah di dua masjid di New Zealand merupakan kejadian biadab dan tak berperikemanusiaan yang menyisahkan traumatik dan ketakutan pada umat Islam. Aksi tersebut terjadi karena menguatnya gelombang Islamofobia (sikap takut sekaligus benci terhadap Islam dan umat Islam) di negara-negara barat.

Kedua, pembunuhan massal terhadap umat Islam di dua Masjid itu adalah menguatnya ideologi nasionalisme kulit putih (ideology of white nationalism) yang berkembang dan mengglobal ke berbagai Negara Barat. Brenton Tarrant, pelaku penembakan meyakini bahwa Islam dan umat Islam adalah ancaman yang bisa menghancurkan Peradaban Barat (western civilization) dari invasi asing (agama Islam).

Untuk meredam ideologi itu maka perlunya negara-negara Barat untuk melakukan sinergi maksimal dengan media dibantu dengan organisasi-organisasi Islam, dan lembaga-lembaga pendidikan untuk menekan gelombang Islamaphobia.