Anggota DPR Kritik Kasus Penembakan Tidak Boleh Dibiarkan

Danial
Anggota DPR Kritik Kasus Penembakan Tidak Boleh Dibiarkan
Anggota DPR RI Fraksi PDIP, Effendi M.S Simbolon

Jakarta, HanTer - Polda Metro Jaya masih terus mengembangkan kasus penembakan ruangan kerja anggota DPR, selain penyidik telah resmi menetapkan dua orang sebagai tersangka terkait kasus tersebut, polisi telah melakukan rekonstruksi.

Seperti diketahui, ada dua orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka, yaitu berinisial IAW dan RMY yang diduga sebagai pelaku, termasuk penyitaan barang bukti berupa senjata api berserta amunisinya dari kedua oknum aparatur sipil negara (ASN) di Kementerian Perhubungan (Kemenhub) . 

"Iya benar, sementara ini kasus masih penyidikan," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono kepada wartawan di Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Sebelumnya anggota DPR RI Fraksi PDIP, Effendi M.S Simbolon mempertanyakan sudah sejauh mana penyidikan yang telah dilakukan polisi, dalam hal ini Polda Metro Jaya.

"Jangan dibiarkan (kasus) penembakan itu tidak jelas begitu dong, ruangan saya juga tembus, sangat membahayakan nyawa siapa saja," kritik Effendi kepada wartawan di Gedung DPR RI, Senayan Jakarta, Selasa (12/3/2019).

Effendi mengaku bingung dengan penjelasan dari pihak kepolisian, sebab menurutnya aneh. "Saya ingin diajarkan bagaimana caranya menembak sampai peluru bisa berbelok-belok begitu," sindirnya. 

Untuk diketahui, ketika itu Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Nico Afinta mengatakan, kedua tersangka pada saat latihan menembak di Lapangan Tembak Senayan, sekonyong-konyong, terdapat dua peluru yang digunakan nyasar dan menembus ruang kerja anggota DPR yang kebetulan tidak jauh dari lokasi.

"Berdasarkan barang bukti peluru, senjata dan identitas yang dimiliki, dapat disimpulkan karena kelalaiannya," ujar Nico di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (16/10/2018).

Usai dua terduga diamankan, polisi juga telah menyita sejumlah barang bukti diantaranya 1 pucuk senjata api jenis Glock 17, 9 x19 buatan Austria berwarna hitam coklat dan 1 pucuk senjata api merek AKAI Costum buatan Austria kaliber 40 warna hitam.

Dua senjata itu digunakan berasal dari seorang temannya pada Februari 2018, dimana senjata api itulah yang dikuasai dan dipergunakan oleh para pelaku saat latihan di Lapangan Tembak Senayan.

Keduanya dijerat Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara.

Penembakan terjadi pada Senin 15 Oktober kemarin sekira pukul 14.45 WIB. Peluru mengenai ruang kerja Anggota Komisi III Fraksi Gerindra Wenny Waraouw, saat itu sedang menerima tamu seorang pendeta bernama Hesky Roring dan polisi AKBP Ronal Rumondor.

Selain ruangan Wenny, peluru juga menembus jendela kamar tepatnya di nomor 1313, lantai 13 yang dihuni Anggota DPR dari Fraksi Golkar fraksi Partai Golkar Bambang Heri Purnama. Peluru tajam itu mengenai jilbab Tenaga Ahli Bambang, tembus dan sobek.