Prabowo: Elite Pemerintah Tidak Pikirkan Rakyat

Safari
Prabowo: Elite Pemerintah Tidak Pikirkan Rakyat

Jakarta, HanTer - Pengamat politik dari Institute for Strategic and Development Studies (ISDS) M Aminudin setuju dengan pernyataan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto yang menyatakan "Tak pikirkan Rakyat, Elite Pemerintah Sudah Tak Bisa Diharapkan". Karena realitasnya rezim saat ini tidak memikirkan rakyat. Apalagi era Pemerintah Jokowi menggenjot impor komoditi yang ugal-ugalan dan tanpa aturan dari mulai beras, garam, bahkan besi baja yang bisa dihasilkan Indonesia sendiri. 
 
"Selain itu di era Jokowi pula memasukan pjluhan ribu atau lebih TKA Tiongkok ke Indonesia yang kesemuanya merusak ketahanan dan kedaulatan wilayah dan kedaulatan ekonomi Indonesia," tegas Aminudin kepada Harian Terbit, Minggu (10/3/2019).
 
Menurut Aminudin, dengan berbagai kebijakan era Jokowi yang tidak terkontrol tersebut maka terlihat nyata bahwa defisit neraca perdagangan Indonesia 2018 terburuk dalam sejarah Indonesia pasca 1975. Oleh karena itu tidak heran jika publik saat ini menilai bahwa elite pemerintah saat ini sudah tidak bisa lagi diharapkan. Karena hampir semua kebijakan yang dikeluarkan orientasinya bukan untuk kepentingan rakyat tapi untuk kelompok tertentu. 
 
Aminudin meminta agar Jokowi  lebih jujur kepada rakyat dengan mempertegas bahwa program selama ini yang dilakukan adalah pro ke pemilik modal besar dan asing. Jujurlah bahwa unicorn sejenisnya adalah bukti program Jokowi tidak berpihak pada rakyat banyak. Padahal saat ini banyak rakyat membutuhkan uluran tangan agar tidak sulit untuk menghadapi hidup yang semakin berat. 
 
Sudah Basi
 
Sementara itu, Koordinator Koalisi Masyarakat Anti Hoaks, Dolly Yatim mengatakan, pernyataan  Prabowo yang menyatakan "Tak pikirkan Rakyat, Elite Pemerintah Sudah Tak Bisa Diharapkan" merupakan pernyataan yang sudah basi. Karena sejak Jokowi berkuasa juga sudah memikirkan rakyatnya. 
 
Dolly memaparkan, saat ini Team TKN Jokowi-Ma'ruf Amin sudah tahu bahwa rakyat sudah tidak pro mereka lagi. Karena selama memimpin Indonesia wong cilik telah dilupakan. 
 
"Tidak ada sosok bagk kami, tetapi jika Capres mau berjanji kembali ke UUD 45 Asli maka akan kami dukung. Sebab UUD tersebut mengembalikan hak Pribumi atas NKRI ini. Presiden hanya pelaksana GBHN saja dan gak bisa macam-macam," jelasnya.
 
Ketua Badan Relawan Nusantara (BRN) Edysa Girsang mengatakan, harusnya setiap orang yang menduduki posisi di setiap lini pemerintah, terutama presiden harus mengabdikan hidupnya untuk rakyat Indonesia. Jangan dia (presiden) hidup tenang disaat rakyatnya masih ada yang kelaparan, menangis karena digusur akibat pembangunan dan akhirnya hidup menggelandang. 
 
Oleh karena itu ucapan Prabowo terkait "Elite Pemerintah Sudah Tak Bisa Diharapkan karena Pikirkan Rakyat" bukan isapan jempol. "Saat ini rakyat jadi dagangan politik. Karena sejauh ini apa yang disampaikan saat Debat Capres apakah berbanding lurus dengan kemakmuran kehidupan rakyat? Jangan bilang bahwa ini semua sedang proses," ujarnya.
 
Eki, panggilan akrab Edyasa menuturkan, yang membuat Jokowi tidak pro rakyat karena kungkungan politik. Ditambah dengan demokrasi transaksional yang membuat seorang kepala negara tak punya otoritas penuh. Oleh karena itu siapaun yang  akan menjadi presiden akan begitu (tidak akan memikirkan rakyat) jika demokrasi model yang dijalani tak cepat dirubah.
 
Untuk merubah demokrasi sesuai keinginan rakyat juga tidak membutuhkan waktu lama. Selama ada komitmen dari para elit untuk membuat rakyat sejahtera. "Waktu bisa cepat atau bisa lambat, semua terletak pada komitmen para elite yg ada dalam kekuasaan dan akan berkuasa," paparnya. 
 
Bela Rakyat Jelata 
 
Cawapres RI Ma'ruf Amin menyebut Jokowi adalah sosok pembela rakyat jelata, yang dibuktikan melalui empat tahun kepemimpinannya sebagai Presiden. 

"Beliau sudah terbukti. Itulah sebabnya ketika saya diajak menjadi cawapres saya mau, karena beliau pembela rakyat jelata," kata Ma'ruf saat menghadiri deklarasi dukungan Relawan Jokowi-Ma'ruf Amin (Jokma) di Lapangan Gajah Mada Kota Medan, Sabtu.