Berkamuflase di Balik Partai Politik, Kelompok Radikal Tumbuh Subur di Sejumlah Daerah

Harian Terbit/Sammy
Berkamuflase di Balik Partai Politik, Kelompok Radikal Tumbuh Subur di Sejumlah Daerah
Ketua Presidium (IPW) Neta S Pane

Jakarta, HanTer -- Indonesia Police Watch (IPW) menyebut kelompok radikal dan eks teroris tumbuh subur dan bangkit di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Papua karena konsentrasi kepolisian sedang fokus pada Pemilu 2019.

"Konsentrasi jajaran kepolisian untuk mengamankan proses pileg dan pilpres sepertinya membuat kelompok kelompok radikal dan eks teroris mendapat celah untuk tumbuh dan berkembang," kata Ketua Presidium (IPW) Neta S Pane melalui pesan singkat di Jakarta, Jumat.

Rentetan pembakaran mobil di Jawa Tengah dan penembakan yang terus terjadi di Papua, disebut Neta, merupakan gambaran bahwa kelompok kelompok radikal mendapat peluang untuk beraksi.

Untuk itu, IPW meminta jajaran kepolisian merapatkan barisan dan melakukan deteksi dini serta melakukan antisipasi pada kelompok kelompok radikal dan eks teroris yang mendapat ruang gerak selama proses pemilu.

Polri perlu memaksimalkan polsek dan polresnya dalam melakukan pagar betis.

Menurut dia, kelompok radikal bermain di antara euforia dan dinamika politik yang kian panas serta adanya partai politik yang haus dukungan untuk mengamankan elektabilitas.

Polri diingatkan tidak gamang dan khawatir dinilai tidak netral karena kelompok-kelompok itu berkamuflase di balik partai politik.

Tumpas KKB

Presiden Joko Widodo memerintahkan TNI dan Kepolisian Indonesia untuk menyelesaikan persoalan kelompok sipil bersenjata di Papua.

"Iya ini sudah saya perintahkan sejak peristiwa yang pertama dulu untuk dikejar, diselesaikan," kata dia, kepada wartawan usai meresmikan tol Bakauheni-Terbanggi Besar, di Gerbang Tol Natar, Jumat.

Menurut Presiden, seperti dilansir Antara, tantangan dalam pengejaran pelaku penembakan yakni medan hutan belantara yang berat.

Hal itu mempersulit personel TNI dan polisi untuk mengejar dan menangkap mereka.

Sebelumnya terjadi penyerangan kepada pos TNI sehingga baku tembak antara kelompok sipil bersenjata dengan TNI di Distrik Mugi, Kabupaten Nduga, Kamis, tidak terhindarkan.

Kejadian itu menggugurkan tiga prajurit TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Nanggala, yakni Sersan Dua Mirwariyadin, Sersan Dua Yusdin, dan Sersan Dua Siswanto

Sementara itu, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menilai TNI perlu melakukan operasi yang lebih ofensif dalam menumpas gerakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Nduga, Papua, dan sekitarnya, setelah tiga prajurit TNI tewas pada Kamis (7/3).

"Setelah tewasnya sejumlah prajurit TNI dan warga sipil, diperlukan respons yang lebih tegas dan terukur. Karena itu, operasi yang lebih ofensif tampaknya sangat diperlukan untuk menumpas gerakan KKB di Nduga dan sekitarnya," kata Bambang dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat.