Al Khaththath: Umat Islam Jangan Salah Pilih Pemimpin

Safari
Al Khaththath: Umat Islam Jangan Salah Pilih Pemimpin

Jakarta, HanTer - Pemungutan suara pada pemilu 17 April 2019 mendatang menjadi momentum penting bagi umat Islam. Di sisi lain, hari pemilihan presiden dan wakil presiden akan menentukan nasib umat Islam ke depan. 

Demikian ditegaskan Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khaththath dalam orasi saat apel siaga FUI di depan Kantor KPU RI, Jakarta Pusat, Jumat (1/3/2019).

”17 April adalah hari penentuan ada atau tidak umat Islam di Indonesia. Salah memilih pemimpin habis umat Islam,” kata Al Khaththath yang disambut pekik takbir, “Allahu Akbar” oleh massa sembari pose dua jari khas pendukung pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Hadir sejumlah tokoh pada aksi ini, antara lain Mantan Ketua MPR Amien Rais, Abdul Jabar, Eggi Sudjana, dan lainnya.

Selanjutnya, Al Khaththath menyerukan kepada massa aksi untuk memutihkan tempat-tempat pemungutan suara (TPS) saat hari pencoblosan Pemilu 2019.

Tak hanya itu, dia pun mengimbau agar mencoblos sesuai hasil Ijtimak Ulama 2018 dan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam memilih pemimpin. Hal itu, kata dia, perlu dilakukan demi menjaga aspirasi umat Islam terjaga.

"Kita siapkan 2.000 eksemplar fatwa MUI yang ditempelkan di masjid nanti. Kita coblos sesuai fatwa MUI yang hasil Ijtimak Ulama 2018. Kalau TPS sudah putih, masjid ulama sudah putih, maka jin setan tidak berani melakukan kecurangan," kata Al Khaththath. 

Al Khaththath meminta massa untuk bergerak dari rumah ke rumah menyampaikan isi dari hasil Ijtimak ulama serta fatwa MUI tersebut. Dia meminta agar mereka memilih capres yang memperjuangkan kepentingan umat Islam.

"Kami bertekad untuk bergerak dari pintu ke pintu di tengah umat guna membangun kesadaran politik umat Islam dan agar mensukseskan pilpres dan pileg," ujar Al Khaththath.

Aksi tersebut menuntut KPU bisa bersih dan adil di Pemilu 2019. Massa dari Forum Ulama Indonesia bergerak menuju kantor KPU, Jakarta, Jumat (3/1/2019) dalam rangka menggelar aksi damai menuntut lembaga penyelenggara pemilihan itu bersikap netral serta jujur dan adil tanpa kecurangan. 

Laknat Allah

Sebelumnya, Amien Rais yang juga Ketua Dewan Persaudaraan Alumni (PA) 212 menuntut KPU dan Bawaslu untuk adil dalam mengawasi Pemilu 2019. Menurutnya, laknat Allah menanti jika KPU dan Bawaslu tidak bisa berlaku adil dan membiarkan kecurangan.

"Kalau sampai curang, dan terbukti, tentu kita akan buat perhitungan. Dan laknat Allah akan menimpa mereka," teriak Amien dari atas mobil komando. 

Meski demikian, Amien Rais mendoakan KPU dan Bawaslu agar mendapatkan barokah apabila menjalankan tugas dengan jujur dalam pelaksanaan pemilu 2019. "Saudara-saudaraku, kalau teman-teman KPU, Bawaslu, baik pusat atau daerah bekerja bagus, jujur, tidak curang, kita doakan mereka mendapat barokah, rahmat, hidayah dari Allah SWT," ujarnya.

Dalam pernyataannya, FUI menegaskan siap menyukseskan terwujudnya Pemilu yang bersih, jujur, adil, dan tanpa kecurangan, menolak segala bentuk kecurangan dalam pelaksanaan Pemilu, dan ikut berpartisipasi penuh dalam mewujudkan Pemilu bersih, adil, jujur, adil, dan tanpa kecurangan.

Sementara itu, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman mengatakan, mengantisipasi pemilu tanpa kecurangan tentu melibatkan banyak pihak. Bukan hanya penyelenggara pemilu, tapi juga antisipasi dari peserta pemilu terhadap pendukung-pendukungnya, juga pantauan pihak keamanan.

"Setiap anda menggunakan hak pilih, itulah saatnya anda melakukan hal baik untuk bangsa ini. Kalau ada yang tidak baik jangan dipilih," katanya.

Arief sepakat bahwa pemilu damai harus berlangsung dengan damai, jujur, adil dan tanpa kecurangan. "Sejak kami dilantik, kami memang dilarang curang. Tentu saja kami setuju dengan tuntutan itu," katanya.