Introspeksi Kampanye Pemilu 2019, Serunya Diskusi Bertajuk Cendikiawan dan Kekuasaan

romi
Introspeksi Kampanye Pemilu 2019, Serunya Diskusi Bertajuk Cendikiawan dan Kekuasaan
Cendikiawan & Kekuasaan: Introspeksi Kampanye Pemilu 2019/ ril

Jakarta, HanTer - Belakangan ini perbincangan tentang cendekiawan dan kekuasaan telah merentang panjang selama sejarah. Terutama bagi mereka yang terpelajar disampirkan harapan dan tanggung jawab untuk mengatakan yang sebenarnya kepada kekuasaan.

Beranjak dari itu, Opapaci News menggelar diskusi terkait fenomena cendekiawan dalam pentas Pemilu 2019 dan bagaimana membuat percakapan politik yang lebih bermutu dan bermanfaat dalam memajukan demokrasi Indonesia.

Bertema Cendikiawan & Kekuasaan: Introspeksi Kampanye Pemilu 2019 menghadirkan dua nara sumber, yakni Rizal Mallarangeng – pendiri Freedom Institute, Ketua Relawan Golkar Jokowi (Gojo) dan Miftah Sabri – mantan peneliti Lembaga Survei Indonesia, calon anggota DPR RI dari Partai Gerindra, di Jakarta, Kamis (28/2019).

Jelang Pemilu 2019, pertarungan antara konsep dilakukan oleh dua kubu petahana, Joko Widodo-Ma’ruf Amin (01) dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (02).

Miftah Sabri mengaku bahwa pesimistisnya Prabowo bukan berarti pesimis dengan kemajuan negara Indonesia. Namun, hanya memberi warning, berupa peringatan kepada pengelola negara Indonesia saat ini untuk tidak lengah dengan asing dan aseng. 

"Intinya bukan berarti pesimis, tapi pak Prabowo hanya mengingatkan, seperti halnya jika ada anak kecil yang tidak belajar kemudian orang tua si anak mengingatkan bahwa jika tidak belajar nanti tidak naik kelas," terangnya.

Kendati demikian, Miftah yakin Prabowo bisa mengalahkan petahana dengan konsep dan ide-ide baru bagi kemajuan Indonesia dengan dukungan para pemilih setianya. 

Sedangkan, Rizal Malarangeng melihat, selama ini pemikiran Prabowo nampak kurang  berkembang karena hampir setiap isu, ide, maupun gagasan yang diutarakan merupakan pengulangan dari isu-isu yang dibawa sejak Pemilu 2014. "Pemikiran Prabowo tidak berkembang, utang luar negeri dominasi asing, swasembada pangan. Ini ide sejak tahun 50-an. Termasuk kecurigaan asing dan lain-lain. Padahal, pemikiran-pemikiran ekonomi sudah berkembang," katanya. 

#Introspeksi   #Kampanye   #Pemilu   #2019   #