Elektabilitas Jokowi Terancam Tergerus

Sammy
Elektabilitas Jokowi Terancam Tergerus

Jakarta, HanTer - Calon Presiden nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi) dinilai melakukan kekeliruan besar. Bahkan hal itu debut-sebut dapat menggerus tingkat elektabilitas pasangan calon 01 Jokowi-Maruf. Kekeliruan yang dimaksud adalah terkait pemaparan data saat debat capres beberapa waktu lalu. Selain itu, Jokowi juga enggan meminta maaf atas kekeliruan berbagai data tersebut.

Hal itu pun diyakininya akan menggerus tingkat elektabilitas paslon 01 Jokowi-Maruf. Sebab sikap Jokowi yang tidak mengakui kesalahan berbagai data yang keliru saat debat.

"Padahal yang penting tidak salah atau tidak dalam data itu, yang paling penting adalah keterbukaan meminta maaf karena data-data itu salah," kata Pengamat Politik Tony Rosyid dalam diskusi bertajuk "Rezim Jokowi Menebar Hoax dan Kebohongan?" di kantor Sekretariat Nasional (Seknas) Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (26/2/2019).

Sayangnya, lanjut Tony Rosyid, hingga saat ini Jokowi belum menyampaikan permintaan maaf atas berbagai kesalahan data yang dilontarkan.

"Orang Indonesia kalau ada orang yang berani mengakui kesalahan itu elektabilitasnya bisa naik. Tapi kalau wajahnya ngotot, meskipun datanya benar tapi kesannya ngotot, pasti orang sulit memilih," katanya

Untuk diketahui, pada debat kedua Pilpres pada 17 Februari lalu, Capres petahana Joko Widodo mengatakan tiga tahun terakhir kebakaran hutan tidak lagi terjadi. Namun pada kenyataannya, pada tahun 2016, setidaknya ada 14.604,84 hektare lahan dan hutan yang kebakar. Tahun 2017, 11.127,39 hektare lahan dan hutan, dan tahun 2018 ada 4.666,39 hektare hutan dan lahan terbakara. Artinya, hingga kini kebakarannya masih berlanjut.

Jokowi juga mengklaim selama pemerintahannya tidak ada lagi konflik pembebasan lahan akibat proyek infrastruktur. Namun pada kenyataannya, berdasarkan data dari Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), sejak tahun 2015 hingga 2017, konflik agraria terus meningkat.

Tidak hanya itu, Jokowi pun mengklaim bahwa penggelontoran Dana Desa sebesar Rp187 triliun telah menghasilkan 191 ribu kilometer jalan di desa. Jalan desa katanya sangat bermanfaat bagi petani yang ingin menjual hasil taninya. Namun pada kenyataannya, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), dana desa ratusan triliun itu ternyata tidak mampu menurunkan angka kemiskinan di pedesaan. Angka kemiskinan di pedesaan masih mencapai 13,1 persen. 

Minta Maaf 

Pengamat politik, Siti Zuhro  menegaskan, debat merupakan salah satu bagian dari kampanye Pemilu. Untuk itu, setiap data yang disampaikan haruslah benar.

Masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden diingatkan untuk tetap menyajikan data yang benar saat mengikuti debat Pilpres. Jika data yang disajikan salah, maka paslon yang bersangkutan harus meminta maaf.

"Kalau tidak tahu, calon lebih baik bilang tidak tahu. Atau katakan saja mohon maaf, "datanya kalau enggak salah segini", agar tidak salah-salah banget," kata dia.

Pasalnya menurut Siti Zuhro, saat menonton debat, masyarakat Indonesia sesungguhnya butuh pencerahan dari para calon pemimpinnya. "Siapa pun presidennya, yang diharapkan adalah perkataan yang jujur," tutupnya.

Menampik

Terkait 'nyinyir' tentang data yang dipaparkan calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo, dipertanyakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Harusnya, calon presiden nomor urut 02 mengkonfrontir hal itu di debat.

"Kalau data Pak Jokowi salah, kenapa waktu kemarin enggak dipakai Pak Prabowo untuk membantah di panggung itu," ujar Influencer TKN Budiman Sudjatmiko di Jakarta, Selasa (26/2/2019).

Menurutnya, konfrontasi soal data salah di luar debat, merupakan blunder. Sebab itu menunjukkan Prabowo tak siap saat silang pendapat.

Budiman memberi saran agar tim sukses Prabowo menjadikan hal ini pelajaran. Mengingat saat debat kemarin, mantan Danjen Kopassus itu tampil sebagai kritikus, bukan capres. "Kalau dia (Jokowi) salah dikritik. Kalau dianggap bener dia enggak mengkritik. Kan kayak begitu," sebut Budiman.

Jika Jokowi tampil bagus, maka Prabowo harus menampilkan yang lebih bagus lagi. Tim sukses Prabowo punya pekerjaan rumah mengenai hal ini.

#Pilpres   #jokowi   #pdip