Rontok di Basis Massa Islam, Elektabilitas PDIP Anjlok

Safari
Rontok di Basis Massa Islam, Elektabilitas PDIP Anjlok
Istimewa

Jakarta, HanTer - Elektabilitas Partai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di kalangan pemilih muslim anjlok. Survei terbaru dari Indonesia Elections and Strategic (IndEX) Research menunjukkan elektabilitas PDIP menurun ke angka 22,9 persen, sebelumnya 25,7 persen. Sementara itu, survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, suara PDIPpada Januari 2019  turun cukup drastis di segmen pemilih muslim, menjadi 18,4 persen.

Direktur Eksekutif indEX Research Vivin Sri Wahyuni dalam keterangan tertulisnya, Jumat (22/2) mengemukakan, memori penistaan agama yang dilakukan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) masih terus membekas di hati umat muslim. Atas alasan itu, elektabilitas PDIP mengalami penurunan. 

Menurutnya, publik masih sangat resisten dengan kemunculan kembali Ahok dalam kancah politik nasional.  “Memori kasus penistaan agama pada Pilkada DKI terus terjaga, terlebih momentum reuni Alumni 212 yang tak pernah surut dukungan luas masyarakat,” jelas Vivin.

PDIP sebagai partai yang mendukung Ahok dan kini menjadi tempat mantan bupati Belitung Timur itu bernaung mengalami kemelorotan tingkat keterpilihan. IndEX mencatat elektabilitas PDIP sebesar 25,7 persen di bulan Januari, tapi saat ini melorot menjadi 22,9 persen. 

Selain itu, kata Vivin, penurunan elektabilitas PDIP diperkirakan karena migrasi pemilih muslim ke partai-partai nasionalis lainnya. “Ke mana larinya suara pemilih PDIP perlu ditelisik lebih lanjut. Tetapi kenaikan pada beberapa parpol lain yang berhaluan nasionalis menunjukkan kemungkinan perpindahan suara tersebut,” terang Vivin.

Wajar

Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Eriko Sotarduga mengatakan bahwa penurunan merupakan hal wajar. “Ini yang kami harapkan. Karena terkadang evaluasi terlalu tinggi membuat kita menjadi lengah. Ini yang jadi catatan kami untuk tingkatkan pada pemilih muslim,” katanya di Jakarta, Kamis, (21/2/2019).

Eriko tidak menampik data hasil survei LSI karena persentase tingkat kesalahan yang kecil. Meski begitu, dia optimistis target suara partai bisa tercapai. “Kami juga dari PDIP memang targetkan 25% minimum. Tapi dari progres yang ada, kami yakin bisa lewati,” jelasnya.

Sebelumnya, hasil survei LSI menunjukkan suara PDIP turun cukup drastis di segmen pemilih muslim. Dalam kurun waktu enam bulan, LSI mencatat suara PDIP pada Agustus 2018 sebesar 23,2%. Lalu, pada Januari 2019, elektabilitas PDIP di kalangan pemilih muslim turun menjadi 18,4%.

Peneliti LSI Rully Akbar mengatakan turunnya basis pemilih muslim PDIP tak terlepas dari efek pemilihan presiden dimana kubu penantang Jokowi, Prabowo Subianto didukung Ijtima Ulama GNPF.

“Polarisasi yang cukup kuat dari awal ini yang menyebabkan segmen pemilih muslim semakin kuat mendukung partai yang dipimpin Prabowo, yaitu Gerindra. Sebaliknya, elektabilitas PDIP yang turun,” ungkapnya di kantor LSI, Jakarta Timur pada Rabu (20/2/2019).

Tidak Benar

Terpisah, pengamat politik dari Universitas Al Azhar, Ujang Komarudin mengatakan, pemilih PDIP dari kalangan Islam menyebar di semua daerah. Oleh karena itu jika ada yang mengklaim PDIP rontok dibasis Islam tidak sepenuhnya benar. Karena jika rontok dibasis Islam, maka PDIP tidak akan mendapat elektabilitas tertinggi.

"Walaupun ada survey yang menyebut turun, bukan berarti PDIP rontok," tegas Ujang Komarudin kepada Harian Terbit, Senin (25/2/2019).

Direktur Indonesian Politican Review (IPR) ini juga mengatakan, suara PDIP secara umum hingga saat ini masih tinggi. Namun memang, jika PDIP tidak hati-hati maka bisa saja disalip partai lain. "Sepertinya Gerindra yang menjadi penantang serius PDIP di Pileg (Pemilihan Legislatif)," paparnya. 

Ketua Media Center Persaudaraan Alumni (PA) Novel Bamukmin mengatakan, tidak aneh suara PDIP akan rontok di Pemilu tahun ini. Karena di Pilkada DKI dan Pilkada serentak juga PDIP sudah rontok. Banyak  sebab yang membuat PDIP rontok karena saat ini imagenya sudah melekat kuat sebagai partai yang tidak bersahabat dengan Islam."Pendukung utama penista agama juga ada di PDIP," paparnya.

"Elektabilitas jelas anjlok.  Namun karena kader PDIP masih tersebar dan militan maka bisa menjaga elektabilitas. Tapi untuk pemilih baru sudah berat.  Ada pun pemilih lama sudah akan meninggalkan PDIP," jelasnya.