Soal Energi, Rizal Ramli Sebut Kecepatan Transformasi Pemerintah Lambat

Danial
Soal Energi, Rizal Ramli Sebut Kecepatan Transformasi Pemerintah Lambat

Jakarta, HanTer - Ekonom senior Indonesia Rizal Ramli (RR) mengatakan, kecepatan pada transformasi pada bidang energy yang dilakukan pemerintah masih sangat lambat.

“Karena sederhana, misal saja dari segi PLN, beli listrik swasta dari batu bara hanya 5,5 sen, transmision cost 1,5 sent, PLN untung 2 sen, 9 sen sebetulnya sudah bagus. Dalam prakteknya, PLN jual ke konsumen hampir 12 sen. Menurut kami masih ada efisiensi yang bisa kita lakukan di dalam PLN, sehingga ada sisa untuk membiayai ongkos transformasi dari fosil ke non-fosil.

Sebetulnya, kata mantan Menko Ekuin ini,  kalau PLN dipaksa harus beli solar sebanyak mungkin, ya PLN nya rugi, kasihan PLN ini,” ujarnya, dalam sebuah acara bertema ‘Potret Ekonomi di Tahun Politk’ di salah satu tv swasta, malam ini.

Menurut tokoh perubahan ini, masalah ini harus diperhatikan, karena PLN harus beli listrik non fosil yang mahal, psati akan bermasalah keuangannya. “Tapi jika pemerintah mensubsidi biaya ini ya tidak apa. Tapi menurut kami efisiennya adalah lakukan peningkatan efisiensi, dari situ untuk membiayai percepatan transformasi listrik,” tutupnya. 

Kwik Geram

Ekonom senior Kwik Kian Gie yang juga tampil pada acara itu tampak geram, dengan Deputi I Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Darmawan Prasodjo. Menurutnya, apa yang disampaikan oleh Prasodjo memperlihatkan seolah olah para peserta yang hadir di ruangan acara ‘Potret Ekonomi di Tahun Politk’ di salah satu tv swasta, malam ini adalah orang bodoh.

“Saya ini pernah menjabat Menko Ekuin, Menteri Bappenas, terutama Bappenas yang saya sebut. Malam ini saya mendapat kesan, seolah mereka (peserta yang hadir) itu tolol semua. Setelah mendengar pak Prasodjo, tolol semua, Bappenas itu dungu semua,” tegas Kwik.

Ia juga mencontohkan sosok Rocky Gerung yang kerap mengeluarkan pernyataan kontroversi dan banyak mendapat tanggapan miring dari banyak pihak. “Ini yang bener pak Rocky Gerung yang mengatakan yang lain dungu, atau pak Prasodjo semuanya dungu. Kecuali yang ada ‘disana’,” tutupnya sambil meletakkan mic ke meja.

Sebelumnya, pada kesempatan yang sama, Darmawan Prasodjo menjelaskan bagaimana pemerintah membangun proyek infrastruktur, yang menurutnya berdampak positif bagi masyarakat. Selain itu, berbagai hal tentang kesuksesan pemerintah dalam membangun banyak hal di wilayah Timur Indonesia.

Darmawan juga menyinggung bahwa ada isu terkait bank milik pemerintah yang bangkrut, dan punya beban karena membiayai infrastruktur. “Kami bertanya pada BRI, bagaimana kondisi keuangannya. Bahwa ada laporan jumlahnya 1000 triliun, kami cek, ternyata 910 trilin dana pihak ketiga simpanan nasabah. Kami tanya lagi mereka tak terlibat dalam pembangunan i

Kami juga bertanya ke Bank Mandiri, bahwa kami cek pertumbuhan kreditnya 12 peren, berapa dana dana yang dialokasikan kepada infrastruktur 385 triliun yang dipakai 180 triliun, malan pihak bank pak mohon ditabah lagi masih ada pagut 105 trilin kenapa, karena alasannya cuma satu dana nasabah harus diputrar dan pada saat pemutaran opsinya adalah membeli surat utang neara 5%. 

Kemudian kita tanya lagi kenapa kok mau diinfrastruktur, jadi disana begitu ada pembangunan misalnya jalan tol memang reskioknya adalah mangkark, konflik tapi begitu jalan terbangun dalam kontaknya ada cash defisiensi suplement, itu dibayar asuransi sehingga resikonya kecil untuk perbankan.

Darmawan juga menanggapi adanya tudingan dari Bank Dunia yang menilai bahwa pembangunan infrastruktur yang terkesan tergesa-gesa. Menurutnya, ini adalah masalah mendasar soal infrastruktur.  

“Apakah pembangunan infrastruktur bermanfaat, selama 5 tahun ini sudah dibangun jalan desa hampir 200 ribu kilometer. Kita juga ambi contoh, bahwa perancangan transpapua itu bukan dilakukan bukan jaman pak Jokowi. Jadi pembangunan infrastruktur itu membangun peradaban.

Namun ketika presenter memberikan tanggapan kepada ekonom senior Faisal Basri, sebuah pernyataan yang cukup mengejutkan. “Yang ditanya apa, yang dijawab apa menunjukkan betapa habatnya mas Darmawan. soalnya yang ditanya kan proyek tol, LRT, itu yang dipermasalahkan bank Dunia. Karena ada pembangunan yang tidak lewat RPJM. Hal itu yang menimbulkan masalah.

Ini Fakta, sampai 2018 kue ekonomi Jawa naik terus, yang kita lihat kawasan timur dan barat, seolah-olah kawasan timur hebat, tapi yang hebat cuma Sulawesi, jadi Maluku Papua, Bali dan Nusa Tenggara stuck, tidak bergerak sampai sekarang. Kawasan barat turun, sumatera dan kalimantan, kedua daerah ini juga bermasalah. jadi kawasan yang mau hanya jawa,” jelasnya.