Fadli Zon: Jokowi Panik, Tanda-Tanda Kemenangan Prabowo

sammy
Fadli Zon: Jokowi Panik, Tanda-Tanda Kemenangan Prabowo

Jakarta, Hanter - Ketua Sekretariat Nasional (Seknas) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Muhammad Taufik, mengatakan, kubu 01 mulai panik dengan tingkat elektabilitasnya menjelang pelaksanaan Pilpres 2019.
 
Ia menduga, ditetapkannya Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212, Slamet Ma'arif, sebagai tersangka oleh Polres Surakarta, Jawa Tengah, lantaran kepanikan kubu petahana.  

"Sahabat kita, ketua 212 jadi tersangka. Ini bagian dari kepanikan. Dari panik kemudian muncul blunder. Kalau blunder terus, insya Allah kita menang," kata Taufik dalam diskusi yang bertema 'Jelang Pilpres, Jokowi Blunder dan Panik?',  yang digelar Sekretariat Nasional (Seknas) Prabowo - Sandi di Jalan HOS Cokroaminoto, Jakarta Pusat, Selasa (12/2/2019).

Diskusi tersebut, menghadirkan pembicara diantaranya, Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera, Budayawan Ridwan Saidi, dan Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Aad Satria Permad.

Taufik  menganggap menjadikan Slamet Ma'arif tersangka yang dilatari dugaan pelanggaran Pemilu, aneh. Mengingat, banyak kepala daerah yang mendukung petahana. 

Ia menegaskan, kasus hukum yang terus menerus menjerat pendukung Prabowo-Sandi itu tidak akan memeengaruhi semangat kubu paslon nomor urut 02 itu. "Silakan tangkap semua orang yang berhubungan dengan Prabowo-Sandi. Tapi mereka tidak akan mampu mengkerangkeng kehendak rakyat untuk memenangkan Prabowo-Sandi," kata dia.

Blunder

Sementara itu, Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon, menilai, blunder dan panik merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Menurutnya, dua hal itu terjadi pada Jokowi sebagai capres petahana.

Fadli mengatakan, ada perbedaan antara Jokowi dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika dalam posisi capres petahana. Wakil ketua DPR itu menyebut SBY sebagai capres petahana di Pilpres 2009 tampak santai karena elektabilitasnya tinggi.

"Kalau petahana itu kukuh, kuat, seperti SBY di Pilpres 2009, dia lebih santai menanggapi, elegan, negarawan. Tetapi sekarang ini dia (Jokowi) seperti penantang yang menantang Pak Prabowo," ujar Fadli.

Fadli menilai, kepanikan Jokowi menjadi tanda-tanda kemenangan Prabowo.

Selain itu, Fadli juga menyebut Jokowi telah membuat blunder seiring banyaknya pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang dijerat dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Pimpinan DPR yang membidangi hukum, politik dan keamanan itu menyebut blundur yang dilakukan Jokowi membuat elektabilitasnya terus anjlok.

"Jadi, kalau mereka menggunakan pasal-pasal UU ITE, saya kira justru menjadi blunder after blunder. Ini akan mendorong elektabilitasnya turun," ucapnya.

'Kambing Hitam'

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Aad Satria Permadi, menilai rezim Jokowi juga kerap melakukan tindakan yang di luar nalar bila terjadi kepanikan. Apalagi, menurutnya, bila hal itu merugikan bagi pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

"Politik ini kayak suporter sepak bola. Kalau jagoan kalah, yang salah wasit. Tapi kalau menang yang hebat pemainnya. Ini bukan sekadar kepanikan, tapi ini adalah kepribadian rezim yang sejak awal senang sekali katakan kalau ada keburukan yang disuruh memperbaiki orang lian. Tidak berpikir untuk memperbaiki diri," ujarnya.

Meski begitu, Aad menilai, Jokowi tidak terlalu panik dengan realitas politik yang terjadi saat ini. Hal itu, menurutnya, karena mantan Gubernur DKI Jakarta itu bukan dalang yang sebenarnya.

Sabar

Budayawan Ridwan Saidi menyatakan respek dengan orang-orang yang tergabung dalam kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Menurutnya, para pendukung duet bernomor urut 02 itu sangat sabar dalam menghadapi berbagai tudingan dari pihak Jokowi-Ma'ruf Amin.

"Barisan sana mulutnya enggak dijaga. Beruntung barisan sini sabar-sabar, kayak Fadli Zon, dia saja yang dihajar," ujar Ridwan di Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Ridwan menambahkan, Prabowo - Sandi akan memenangi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Prediksinya didasari persepsi masyarakat terhadap duet usungan Koalisi Indonesia Adil Makmur itu.

"Ketika ada yang tanya siapa akan menang, saya bilang itu bukan pertanyaan. Sudah jodohnya Prabowo presiden," kata mantan anggota DPR di era Orde Baru itu.

Karena Prabowo sudah berjodoh dengan jabatan presiden, kata Ridwan, maka mantan Danjen Kopassus itu tak akan bisa dihalangi dengan cara apa pun. Pemerhati sejarah yang akrab disapa dengan panggilan Engkong Ridwan itu meyakini Prabowo bakal memimpin Indonesia.

"Mau ditolak begimana juga enggak bisa. Cuma jangan sombong, tetap rendah hati mempertahankan kesabaran," kata Ridwan.