Buronan Kejaksaan Sejak 2014; Bekas Bupati Lamtim Ditangkap di Bali

zamzam
Buronan Kejaksaan Sejak 2014; Bekas Bupati Lamtim Ditangkap di Bali

Jakarta, HanTer - Satu dari dua buronan kasus APBD Lampung Timur (Lamtim) Rp. 118 Milyar Sugiarto Wiharjo alias Alay, di tangkap oleh tim gabungan kejaksaan RI di Denpasar, Bali, Rabu (6/2/2019).

Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus) Adi Toegarisman mengatakan terpidana  Alay di ringkus di salah satu hotel di kawasan Tanjung Benoa, Bali oleh tim Intelijen Kejagung dan Kejaksaan Tinggi Bali.

"Terpidana Alay seplitan kasus Satono, mantan Bupati Lampung Timur. Dia ditangkap di Bali tadi sore waktu setempat oleh tim Intelijen gabungan Kejaksaan di back up dengan berkoordinasi ke Jampidsus dan Kejati Lampung," ujar Adi Toegarisman di Kejagung, Jakarta, Rabu (6/2/2019).

Dia menjelaskan terpidana Alay dijatuhkan putusan penjara oleh Mahkamah Agung (MA) selama 18 tahun. Yang bersangkutan merupakan Bos Tripanca Group, terkait kasus korupsi APBD Lampung Timur senilai Rp108 miliar beberapa tahun lalu.


Buronan kesepuluh

Kapuspenkum Kejagung M. Mukri mengatakan penangkapan terhadap Alay merupakan buronan ke-10 sepanjang tahun 2019 ini, dalam Program Tangkap Buron (Tabur) 31.1

"Terpidana Sugiarto Wiharjo Alias Alay merupakan buronan tipikor asal Kejati Lampung, ditangkap oleh Tim Intelijen Kejagung bersama dengan Tim Kejati Bali yang dipimpin langsung oleh asintel dan Tim KPK," ujar Mukri.

Dijelaskan Mukri, kasus posisi yang bersangkutan, merupakan terpidana dalam perkara tindak pidana korupsi bersama-sama dengan terpidana H. Satono, SH ,SP Bin Darmo Susiswo yang notabene bekas Bupati Lamtim. 
Kini keberadaan Satono masih dalam pencarian, dan masuk Daftar Pencarian Orang.

"Satono saat ini masih buron. Modus yang dilakukan mereka dengan cara memindahkan Uang Kas Daerah Pemerintah Kabupaten Lampung Timur ke PT. BPR Tripanca Setiadana sebesar Rp. 108.861.624.800," ujar Mukri.

Selanjutnya, terpidana Alay selaku Komisaris Utama PT. BPR Tripanca Setiadana, memberikan bunga tambahan kepada terpidana H. Satono, sebesar 10.586.575.000.

"Dampak dari itu, menimbulkan kerugian Negara sebesar Rp. 119.448.199.800," ucapnya.

Penangkapan Alay, berdasarkan Putusan MA RI 510/K/PID.SUS/2014 tanggal 21 Mei 2014, yang telah dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman pidana penjara selama 18 tahun dan denda sebesar 500 juta rupiah, subsidair 6 bulan kurungan, serta berkewajiban membayar uang pengganti sebesar Rp. 106.861.624.800.