RR: Kepemimpinan Jokowi Lemah, Takut dengan Yang Banyak 'Brewok'

sammy
RR: Kepemimpinan Jokowi Lemah, Takut dengan Yang Banyak 'Brewok'
Rizal Ramli

Jakarta, HanTer - Lemahnya kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) dalam memimpin, kerap disuarakan berbagai kalangan. Salah satu contohnya, dalam upaya mewijudkan kedaulatan pangan di Indonesia.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli, menyebutkan, Jokowi kerap mendapat banyak tekanan dari kelompok-kelompok yang sarat akan kepentingan. Alhasil, strategi yang telah disusun oleh Jokowi selalu berbeda dengan kenyataan.

"Pidato tentang kedaulatan pangan, trisakti itu bagus sekali. Tapi begitu menyusun strategi, strateginya ke kiri, pidatonya ke kanan. Strateginya ke kiri, kebijakannya ke kanan, pengangkatan personalianya ke kiri. Padahal cita-citanya ke kanan," kata Rizal Ramli saat diskusi bertema 'Jokowi Raja Impor'? di Kantor Sekretaris Nasional Prabowo-Sandi Jl HOS Cokroaminoto No 93, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (29/1/2019).

Menurut dia, Jokowi harus mengubah gaya kebijakan dan strateginya untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Rizal menyebutkan, Jokowi harus berani melawan intervensi dari berbagai pihak yang berkepentingan.

"Masa, baru ditekan sama si brewok saja takut. Karakter nya (Jokowi, red) lemah, ditekan sama yang brewoknya banyak langsung takut gitu loh," ujar Politikus berjuluk si Rajawali Kepret itu.

Ia menambahkan, saat ini cita-cita kedaulatan yang ingin digagas oleh Jokowi jadi sekadar nampak omong kosong belaka. Adapun selama empat tahun terakhir, mantan wali kota Solo itu dinilai telah gagal mewujudkan janjinya untuk mengenjot sektor pangan.

"Pak Jokowi misalnya, pada saat kampanye 2014 pidato dimana mana tentang kedaulatan pangan, akan stop impor ini, akan stop impor itu, stop impor ini, tetapi kok hasilnya begini hari ini. Setelah empat tahun Indonesia malah jadi importir gula terbesar di dunia," ujarnya. 

Menurut Rizal, jika ada konsistensi antara cita-cita kedaulatan pangan dan strategi, maka empat tahun ini negara akan jauh lebih baik. Namun, kata dia, bisikan politik yang kental dan sikap presiden Jokowi yang tidak konsisten membuat hal itu menjadi gagal.

"Karena ya itu politik dipakai sebagai alat bagi-bagi kekuasaan. Saya sih memahami bahwa tentu perlu koalisi, perlu macem-macem. Tapi minimal 10 menteri itu betul-betul ikut garis presiden, profesional, karena kalau tidak, bisa berulang lagi kaya ini," pungkasnya.

Dalam diskusi itu, hadir politisi senior Amien Rais sebagai keynote speach. Sementara pembicara diskusi itu di antaranya anggota DPR RI Komisi VI, Azam Azman Natawijaya, Komisioner Ombudsman RI Alamsyah Saragih, mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli dan politisi PAN, Dradjat Wibowo.

Empat Mafia

Sementara itu, Mantan Ketua MPR RI Amien Rais menyebut, sedikitnya terdapat empat kelompok mafia di Indonesia. Keempat kelompok itu antara lain, mafia ecek-ecek. Biasanya kata dia, kelompok mafia ecek-ecek beraksi di pasar, pabrik-pabrik dan lahan parkiran yang ada di tingkat kecamatan sampai kabupaten/kota.

"Daya rusaknya mafia ecek-ecek ini tidak begitu besar buat bangsa dan negara," jelas Amien, yang juga Dewan Pengarah di Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi tersebut. 

Sementara kelompok mafia kedua, adalah mafia kelas menengah yang bergerak di tingkat provinsi. Kelompok ini juga disebut memilili jaringan untuk memaksakan kehendak dengan menekan para pejabat di level provinsi.

"Ketiga, mafia berskala nasional. Ini sudah enggak ketulungan. Apa yang gak diterabas mafia ini. Ada garam, beras, daging, cabai, kedelai, segala macam," imbuh Amien. 

Ia menyebutkan, para mafia kelompok ketiga ini biasanya membentuk kartel-kartel raksasa untuk menentukan arah perekonomi nasional. 

"Saya bukan ahli ekonomi, tapi saya katakan mafia nasional ini tidak mungkin bisa langgeng atau eksis tanpa kerjasama dengan kekuasaan. Pasti mafia apapun ada kedekatan dengan menteri ini, menteri itu, jenderal ini, jenderal itu," ucapnya. 

Terakhir kelompok super mafia. Mereka disebut Amien terdiri dari konglomerat-konglomerat internasional dan koorporasi internasional yang bergerak lintas negera. 

"Kita tahu koorporasi besar itu sesungguhnya super mafia. Mereka ini berkolusi dengan super mafia di negeri ini. Paling kuat dengan penguasa-penguasa tinggi dan tertinggi." kata Amien Rais.