Polri Ajak Mahasiswa Jadi Generasi Anti Hoax

Safari
Polri Ajak Mahasiswa Jadi Generasi Anti Hoax

Jakarta, HanTer— Sadar akan semakin banyaknya konten-konten hoax yang menyerang media sosial, Humas Polri menggandeng program studi Ilmu Komunikasi Universitas Nasional (UNAS) dan Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOM) bekerjasama dengan Bank BRI mengajak mahasiswa untuk menjadi generasi milenial anti hoax.

Selain memberikan materi tentang perkembangan hoax di media sosial, Humas Polri juga mengajak mahasiswa mendeklarasikan anti hoax.

Untuk mengkampanyekan anti hoax tersebut, berbagai narasumber kompeten turut dihadirkan adalah Pengamat Sosial dari Program Vokasi Universitas Indonesia, Dr. Devie Rahmawati, M.Hum, Pengamat Media Sosial, Enda Nasution, dan Dosen Ilmu Komunikasi UNAS, Dr. Dwi Kartikawati, M.Si.

Sedangkan hadir sebagai keynote speaker Brigjen. Pol. Dr. Drs. H.M. Fadil Imran, M.Si. Wakasatgas Nusantara, yang mewakili Kasatgas Nusantara Irjen Pol Dr. Gatot Eddy Pramono, M.Si yang berhalangan hadir.

Dalam paparannya, Devie mangatakan masyarakat Indonesia memiliki karakter yang mudah berbagi, sehingga setiap informasi yang diterima mudah diserbarkan dengan cepat. Ini merupakan alasan pertama dari berkembang pesatnya hoax di Indonesia.

“Masyarakat Indonesia masih sukar mencek dan ricek informasi yang diterimanya. Jadi kalau dapet info apa-apa langsung cepat disebarkan, apalagi kalau sampe viral itu masyarakat kita senang banget,” ujarnya.

Devie menuturkan, beredarnya informasi hoax di media sosial kadang membuat sebagian orang resah. Namun tak berhenti sampai disitu, masyarakat justru menyebarluaskan informasi hoax itu kembali ke orang-orang lainnya, ini juga menjadi masalah besar yang sedang dihadapi dalam koteks media sosial saat ini.

Hal tersebut didukung oleh Dwi Kartikawati yang menjadi pembicara kedua. Ia mengatakan, generasi milenial saat ini sangat dekat dengan perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi sehingga sangat mudah terpengaruh efek dari media sosial tersebut baik positif maupun negatifnya seperti penyebaran hoax.

“Generasi milenial saat ini kebanyakan sudah sangat fanatik menggunakan media sosial dan senang sekali memviralkan sesuatu sehingga mudah sekali terpengaruh. Maka dari itu apabila pesan hoax sudah sampai ke tangan mereka maka hoax itu akan menjadi besar,” jelasnya.

Selain itu, menurut Dwi, penyebaran hoax ini juga merupakan bagian dampak dari jurnalisme warga yang saat ini tengah berkembang.

“Sekarang siapa saja gampang mau jadi jurnalis. Warga biasa saja dengan menggunakan gadget mereka masing-masing sudah bisa langsung menyebarkan informasi. Ini juga penting dilakukan sosialisasi ke mereka bagaimana caranya menulis, membuat video, dan foto yang mengikuti kaidah jurnalistik,” tandasnya.

Menjadi pembicara terakhir dalam seminar tersebut, Enda mengatakan, pengguna internet saat ini sudah semakin banyak dan terdiri dari berbagai kalangan. Sementara itu, pengguna media sosial saat ini 40% nya didominasi oleh anak muda yang termasuk dalam kategori milenial. Dengan bertambahnya posisi tersebut setiap tahunnya, ia berpesan bahwa generasi milenial perlu meningkatkan kemampuan literasi dan bijak dalam media sosial.

“Semakin meningkat posisi milenial di media sosial, semakin cepat juga kemungkinan penyebaran berita hoax itu,” jelasnya.

Untuk meminimalisir penyebaran berita hoax tersebut, tambahnya, mahasiswa harus dapat membedakan antara berita fakta dan opini yang diterima. Oleh karena itu, mahasiswa perlu lebih kritis sehingga dapat menelaah berita yang sekiranya baik untuk disebarkan dan tidak.

“Sekarang milenial lihat yang viral dikit langsung sebar. Ini juga bahayanya, tanpa kita sadari itu juga bisa menulai kontroversi sehingga bisa memecah belah pengguna medsos. Makanya, bijak dalam penggunaan medsos itu penting, supaya kita nggak terlalu kecanduan dan jatuh didalamnya sehingga menimbulkan dampak negatif bagi diri sendiri dan orang lain,” tuturnya.

Tampil sebagai Keynote Speaker dari Mabes Polri Brigjen. Pol. Dr. Drs. H.M. Fadil Imran, M.Si. Wakasatgas Nusantara, menghimbau agar seluruh elemen masyarakat khususnya mahasiswa dapat berhati-hati dalam bersosial media. Karena apabila menyebarkan hoax ataupun mengupload konten-konten yang memuat isu SARA, atau merendahkan orang lain, dapat terancam hukuman penjara 4-6 tahun. Ia pun mengajak mahasiswa untuk cerdas dalam bersosial media.

‘’Mahasiswa memiliki peran penting dalam mensosialisasikan anti hoax ini. Selain itu juga harus bijak menerima berita hoax. Jangan lupa cek dan ricek dulu sebelum di share. Karena mahasiswa adalah agent of change harus jadi garda terdepan dalam mewujudkan demokrasi,’’ paparnya. 

 

 

#Unas   #Hoax   #mahasiswa