Jelang Pilpres 2019

Mahasiswa Diminta Turut Aktif Sosialisasi Riwayat Capres ke Masyarakat

Eka
Mahasiswa Diminta Turut Aktif Sosialisasi Riwayat Capres ke Masyarakat
Ketua Bidang Politik dan Hubungan Luar Gema Bhinneka Tunggal Ika, Boy Agustinus.

Jakarta, HanTer - Berlatar belakang sebagai kaum intelektual, mahasiswa Indonesia diharap mampu menjadi "penyambung lidah" masyarakat untuk turut serta memberikan sosialisasi penuh jelang berlangsungnya Pilpres 2019.

Sebagai intelektual, peranan mahasiswa mampu turun kebawah untuk mensosialisasikan latar belakang dua calon presiden Republik Indonesia. Ghifari Shadad Ramadhan selaku ketua Gema Bhinneka Tunggal Ika pun mempunyai alasan.

Ia mengatakan peranan mahasiswa sangat dibutuhkan rakyat khususnya di kalangan bawah untuk memberikan sosialisasi berupa latar belakang serta riwayat dari kedua calon presiden Republik Indonesia periode 2019-2024.

Pasalnya ia menilai, mendekati Pilpres pada 17 April 2019 mendatang, rakyat Indonesia masih terus mengamati dan meneliti para capres agar tidak keliru dalam menentukan hak pilihnya.

Salah satu sorotan ialah bahwa mahasiswa perlu memandang persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) dengan tegas. Untuk itu Ghifari mengingatkan agar mahasiswa harus turut serta memilih calon pemimpin yang tidak terlibat dalam kasus pelanggaran HAM.

“Kita sebagai mahasiswa yang sadar akan sejarah kelam pada masa lalu, menilai era pembungkaman, penindasan dan penculikan sudah cukup mengisi perjalanan buruk bangsa Indonesia," kata Ghifari, Minggu (13/1/2019).

"Kami secara tegas tidak menginginkan paradigma sistem lama digunakan kembali terkhusus di zaman orde baru yang tentu saja sangat bertentangan dengan sistem demokrasi Indonesia saat ini," sambung dia.

Menurutnya, Indonesia harus dipimpin oleh orang yang cerdas dan mempunyai visi untuk membangun Indonesia kedepan. Pemimpin ke depan haruslah orang yang pro demokratis, tidak konservatif dengan menggunakan sistem lama dan juga bersih dari kasus pelanggaran HAM.

Yang paling utama adalah yang pro kebhinekaan karena keseragaman di Indonesia harus tetap dijaga dan dirawat, maka dengan itulah Indonesia ke depan akan menjadi negara yang maju.

Senada, Ketua Bidang Politik dan Hubungan Luar Gema Bhinneka Tunggal Ika, Boy Agustinus, menyakatakan isu terkuat untuk Pilpres hingga kini adalah mengenai kejahatan pelanggaran HAM, karena dinilai sangat penting, seperti penculikan para aktivis.

Hal tersebut menjadi fokus dan sorotan bagi para aktivis mahasiswa, sehingga menganjurkan rakyat Indonesia untuk tidak memilih capres yang terindikasi kejahatan pelanggaran HAM.

“Suara kita aktivis mahasiswa dari waktu ke waktu tidak akan pernah berubah, meski pemilu ataupun tidak, aktivis selalu konsisten untuk menolak capres yang terindikasi kejahatan pelanggaran HAM untuk menjadi Presiden," ujar Boy.

"Kita mengingatkan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa calon pemimpin yang akan dipilih itu harus diketahui latar belakangnya. Karena di mana saat ini ada capres yang terindikasi kejahatan pelanggaran HAM," paparnya.

Maka dari itu sebagai mahasiswa harus memilih secara cerdas siapa yang cocok untuk menjadi pemimpin 250 juta rakyat Indonesia yang beragam ini dan harus turut serta mensukseskan jalannya demokrasi Indonesia dengan aman dan damai.