'Cuitan' Andi Arief Timbulkan Kegaduhan

Anjurkan Prabowo Mundur Tak Masuk Akal

Sammy
Anjurkan Prabowo Mundur Tak Masuk Akal
Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Andi Arief

Jakarta, HanTer - Cuitan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Andi Arief di akun twitternya @AndiArief, beberapa waktu lalu kerap menuai kontroversi. Berbagai kalangan kerap merespon cuitan tersebut. Dalam cuitannya, Andi menilai ada keanehan sistematis dalam pemilu. Ia mengusulkan pada Prabowo agar bertanya pada rakyat apakah harus terus mengikuti pilpres ini.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Mardani Ali Sera, mengatakan, dalam tahun politik jelang Pilpres ini, semua orang dapat mengomentari para pasangan capres.

"Monggo, semua boleh berkomentar," ujarnya di Jakarta, Rabu (9/1/2019).

Ia menegaskan, pihaknya saat ini sedang fokus dengan aksi pemenangan Tim Prabowo-Sandi dalam Pilpres yang sebentar lagi akan dilaksanakan.

"Kita fokus pada aksi pemenangan. Alhamdulillah GAP (selisih) dengan Pak Jokowi kian mengecil dibawah 10 persen. Kami fokus Jatim (Jawa Timur), Jateng (Jawa Tengah) dan Jabar (Jawa Barat). Belum lagi relawan yang luar biasa. Insya Allah terwujud #2019GantiPresiden," pungkasnya.

Menurutnya, kalau Pak Prabowo menggunakan hak Boikot Pemilu dengan alasan Keanehan yang tersistematis, memangnya Pak Jokowi bisa menjadi Presiden untuk kedua kalinya?

Mundur

Pengamat politik Indro Tjahyono mengatakan, permintaan mundur  bagi Prabowo dari pencapresan sebenarnya sah-sah saja kalau dikemukakan oleh warga negara. Alasannya boleh macam-macam. Tapi kalau dalam kontek memboikot Pilpres/Pemilu, permintaan itu sangat picik. Apalagi jika didasari oleh kekhawatiran akan menderita kekalahan.

“Tetapi kalau kita lihat, mungkin tujuannya bisa lebih jauh lagi yaitu membuat bom waktu  keributan apabila paslon no 02 menderita kekalahan pada pilpres/pemilu. Di sinilah kita harus waspada, apalagi jika dikaitkan dengan pernyataan Prabowo "kalau ia kalah, Indonesia punah",” ujar Indro kepada Harian Terbit, Rabu (9/1/2019).

Jadi, lanjut Indro,  manifestasi dari pernyataan Andi Arief adalah ingin membawa paslon 02 berhadapan dengan pilihan "menang atau pemilu digagalkan". Itulah mengapa  saya katakan pernyataan Andi Arief naif. Bahkan justru anti demokrasi

Tak Masuk Akal

Peneliti dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus merupakan langkah blunder besar bagi PD. Pasalnya, permintaan itu mensyaratkan pula PD mundur dari Pemilu 2019. Padahal menurutnya, PD perlu meraih suara di pemilu legislatif (Pileg) mendatang.

"Ajakan ini yang nampak paling konyol. Bagaimana bisa mencerna logika ajakan tersebut ketika penyelenggaraan pemilu dilakukan serentak antara Pilpres dan Pileg," kata Lucius Karus di Jakarta, Rabu (9/1/2019).

Ia mengomentari penyataan Andi lewat Twitter yang menganjurkan Prabowo-Sandi melakukan boikot pemilu. Alasannya, terjadi kecurangan sistematis dengan pelaksanaan pemilu.

Dirinya menjelaskan, Pemilu 2019 adalah serentak antara Pilpres dengan Pileg. Jika melakukan boikot terhadap Pilpres maka harus juga boikot terhadap Pileg karena dilakukan bersamaan.

Namun, lnjut dia, berbeda jika pemilu-pemilu sebelumnya di mana Pilpres dan Pileg tidak bersamaan. Dalam konteks ini, anjuran Andi Arief bisa memiliki makna karena dilakukan terpisah.

Menurutnya, ajakan memboikot Pilpres tidak bisa dipahami akal sehat ketika yang menyampaikan itu adalah kader partai yang merupakan peserta Pemilu legislatif. Andi Arief adalah kader PD yang merupakan salah satu partai yang tengah berjuang meraih kursi di Pileg 2019.

"Bagaimana mencerna ajakan boikot Pilpres ketika di saat bersamaan PD mengharapkan dukungan suara untuk pemilu legislatif. Jika orang memboikot Pilpres, maka otomatis orang tak diharapkan datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk memberikan suara. Jika orang tak datang ke TPS, maka PD yang di saat bersamaan mengharapkan suara untuk bekal ke parlemen tak bisa mengharapkan suara bagi partainya di Pileg," terang Lucius.