Punya Kepentingan Politik

Musuh KPK Banyak Teror Bom Dilakukan Kelompok Sakit Hati 

Safari
 Musuh KPK Banyak Teror Bom Dilakukan Kelompok Sakit Hati 
Teror Bom untuk KPK. Grafis: Pantau.com

Jakarta, HanTer— Teror bom molotov di kediaman dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo dan Laode M Syarief bukan dilakukan kelompok teroris, tapi dilakukan oleh orang yang sakit hati terhadap lembaga antirasuah itu. Disisi lain, musuh KPK sangat banyak sehingga bisa diduga mereka bermain. Teror terhadap pimpinan KPK juga bisa dilakukan oleh kelompok yang mempunyai kepentingan politik. 

“Alat yang digunakan untuk meneror bukan layaknya biasa digunakan teroris. Kalau keluarga teroris itu gak masuk akal (pakai alat peledak yang sederhana). Kecuali teroris binaan dan biasa terima orderan," ujar pengamat intelijen dari The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya kepada Harian Terbit, Rabu (9/1/2019).

Densus 88 harus membuktikan bahwa aksi tersebut bukan dilakukan teroris yang profesional. Densus 88 harus membuka seterang-terangnya siapa pihak yang bermain dan bertanggungjawab dalam aksi teror di kediaman petinggi KPK. Hal tersebut dilakukan agar tidak ada spekulasi yang berkembang dan melebar kemana-mana yang justru merugikan pihak tertentu. 

Harits mengakui, musuh KPK sangat banyak sehingga bisa diduga mereka bermain. Namun teror terhadap pimpinan KPK juga bisa dilakukan oleh kelompok yang mempunyai kepentingan politik. Oleh karenanya aksi teror tersebut untuk mengalihkan isu tertentu yang seksi dan menjadi perhatian masyarakatnya. Bukti untuk pengalihan isu dilihat dari teror tersebut yang ecek-ecek dan sederhana sekali. 

"Terornya kok ecek-ecek hanya sekedar untuk menjadi berita. Karena TKP nya adalah kediaman pimpinan KPK. Kalau niat meledakkan kenapa alat itu cuma ditaruh gitu aja. Semacam naruh alat simulasi teror," jelasnya.

Harits menegaskan, saat ini masyarakat sudah cerdas untuk menilai adanya suatu peristiwa untuk pengalihan isu atau bukan. Saat ini masyarakat bisa proporsional menilai dan mereapon mana isu yang strategis dan penting dan mana isu remeh temeh. 

Politik

Sementara itu, pengamat hukum dari Universitas Al Azhar Prof Suparji Ahmad mengatakan, siapa yang bermain dalam aksi teror di rumah petinggi KPK, perlu dilakukan penyelidikan. Bisa saja teror tersebut dilakukan oleh pihak-pihak yang berperkara di KPK atau pihak yang kepentingannya terganggu karena keberadaan KPK. Sehingga pelaku mengganggu kinerja KPK yang memberantasan korupsi.

"Atau bisa jadi aksi teror dilakukan oleh pihak yang melakukan instabilitasi politik," paparnya.

Suparji menyebut, teror untuk ganggu instabilitas politik dilakukan agar publik tidak terfokus pada KPU dan capres. Namun untuk  memastikan motif dan siapa yang bermain maka polisi harus mengungkap dan ditangkap pelakunya. Penangkapan pelaku harus dialkukan polisi agar teror tidak berulang kembali dan agar tidak muncul berbagai spekulasi.

Kasus Besar

Sementara itu, Direktur Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi mengatakan, teror yang dialami dua petinggi KPK merupakan terkait kasus besar yang berkaitan dengan pengusaha yang tidak mau kasusnya diungkap oleh KPK. Karena petinggi KPK yang diteror yakni Laode M Syarif selama ini concern dengan isu - isu perizinan dan lingkungan. Oleh karenanya Laode diteror agar tak ganas mengungkap kasus tersebut. 

"Mereka berani melakukan teror, disebabkan faktor pelaku penyiraman kepada Novel juga belum tertangkap," ujar Uchok.

Uchok meragukan kasus teror yang dialami dua petinggi KPK untuk pengalihan isu terkait KPU atau Bawaslu yang terkesan tidak netral. "Bukan pengalihan isu terkait KPU dan Bawaslu. Ini murni kasus dengan KPK," tegasnya. 

Sebelumnya Karo Penmas Div Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan bahwa rumah Ketua KPK Agus Rahardjo juga menjadi sasaran bom pipa oleh orang tak dikenal pada Rabu (9/1).
   
Di rumah Agus yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat, polisi menemukan barang bukti berupa pipa paralon, detonator, sikring, kabel warna kuning, paku ukuran 7 cm, serbuk putih, baterai, dan tas.
   
Sedangkan rumah Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di Jalan Kalibata Selatan, Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, dilempar bom molotov oleh orang tak dikenal. Penemuan bom itu terjadi pada Rabu (9/1) sekitar pukul 05.30 WIB.
   
Dari rekaman CCTV, sekitar pukul 01.00 WIB, tampak orang mencurigakan melakukan aktivitas di depan rumah Laode.
   
"Saya pikir dengan memenjarakan saya, selesai, rupanya masih ada juga ya? Mudah-mudahan selamatlah. Kita berdoa mudah-mudahan selamat. Saya yakin KPK diteror pun tidak akan berhenti," tambah Antasari. 
 
Hingga saat ini pihak KPK belum memberikan komentar mengenai penyerangan tersebut. 

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo meminta Kepolisian mengusut tuntas pelaku pelemparan bom molotov di kediaman dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yaitu Agus Rahardjo dan Laode M Syarief.

"Saya sebagai Pimpinan DPR sudah komunikasi dengan Pimpinan Polri dan meminta Kepolisian mengusut tuntas peristiwa yang dilakukan orang tidak bertanggung jawab," kata Bambang di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu.