Ekonomi Rakyat Sulit, Daya Beli Menurun: Emak-emak Menjerit Harga Sembako Mahal

Safari
Ekonomi Rakyat Sulit, Daya Beli Menurun: Emak-emak Menjerit Harga Sembako Mahal

Jakarta, HanTer - Kaum emak-emak mengeluhkan harga kebutuhan pokok naik dan tidak stabil. Saat ini, uang Rp50 ribu sampai Rp100 ribu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari. Mereka berharap harga sembilan bahan pokok (sembako) dimurahkan sehingga bisa dijangkau oleh semua masyarakat. 

Tak hanya harga sembako, kenaikan harga BBM dan tarif dasar listrik turut mempengaruhi tingginya berbagai kebutuhan yang kian memberatkan masyarakat.  Demikian jeritan hati sejumlah emak-emak yang dihubungi Harian Terbit, Jumat (4/1/2019) di tempat berbeda.

“Uang 50-100 ribu gak cukup untuk kebutuhan tiap hari. Karena saat ini semua harga kebutuhan pokok naik.Jadi yang kaya semakin kaya dan yang miskin tambah miskin. Saya hidup di pinggir Jakarta, yang kena imbas harga dari Jakarta. Selama ini kenaikan harga bahan pokok tidak pernah diekspos di media manapun, naiknya tanpa pemberitahuan, tau-tau pas beli naik,” kata Ida Farida. 

Solusinya, warga Tangerang ini, turunkan harga sembilan bahan pokok, minimal ada sidak ke pasar-pasar dan adakan pasar murah buat rakyat yang kurang mampu. Para pemangku jabatan yang terkait turun ke bawah melihat rakyat,  gak usah yang jauh-jauh keluar pulau. Di pinggiran Jakarta dan penyangga ibu kota banyak rakyat yang masih di bawah garis miskin. Jadi mereka akan tau bagaimana solusinya mengatasi rakyat yang seperti itu,  bukan dari laporan yang ABS.

Hal senada disampaikan Siska Yulita, warga Kalideres,  Jakarta. Menurutnya , uang belanja yang harus dkeluarkan setiap hari tergantung dari jumlah keluarga dan kebutuhannya. Mungkin kalau untuk masak bisa Rp50 ribu tapi untuk kebutuhan yang lainnya gak cukup, mungkin Rp100 ribu baru cukup.

“Kalau tinggal di kota harus mengeluarkan uang cukup besar untuk belanja atau pun biaya hidup yang lainnya, karena memang segala sesuatunya mahal, gak ada yang murah. Beras , sayuran, lauk pauk, bumbu, dan bahan makananan yang lainnya sekarang gak ada yang murah. Mungkin kalau pekerja yang punya penghasilan, walaupun belanja gak murah gak terlalu terasa mahal.

Keluhan juga disampaikan Ratih kasih,”sekarang semua kebutuhan pokok tidak ada yang murah. Ironisnya semua kebutuhan pokok itu mulai dari beras, garam, ternyata impor. Jadi sayang saja sudah beli mahal tapi keuntungannya yang dapat malah luar negeri. Padahal semua kebutuhan pokok itu bisa dihasilkan oleh rakyat Indonesia sendiri tanpa harus impor. Karena impor maka yang diuntungkan pihak luar dan para penyuplainya saja. Sementara petani Indonesia tidak dapat apa-apa,” ujar warga Semanan, Jakarta ini.

Ekonomi Sulit

Di tempat berbeda,  Idaletha Binnendyk warga Depok, mengemukakan, tak dapat dipungkiri saat ini ‎ekonomi kian sulit, dimana-mana warga mengeluh terus naiknya berbagai kebutuhan pokok. Tak hanya harga sembako, kenaikan harga BBM dan tarif dasar listrik turut mempengaruhi tingginya berbagai kebutuhan yang kian memberatkan masyarakat. 

“Saya sebagai pensiunan non PNS yang berpenghasilan pas pasan, harus pandai-pandai menyikapi pengeluaran demi menghindari kebutuhan dapur yang notabenenya harus 'siap' setiap saat‎. Saat ini harga beras tak pernah turun untuk makan saya dan dua anak saya,” papar Idaletha.

Menurutnya, dari makan pagi sampai malam setidaknya harus 1 liter beras dikisaran harga beras layak konsumsi Rp12 ribu untuk beli ikan segar setengah kg Rp35 ribu perhari (konsumsi tiga orang), ditambah sayur, kadang beli tahu atau tempe selang seling perhari dan bumbu- bumbu dapur mencapai Rp 20-25 ribu, dari ini semua sedikitnya saya harus mengeluarkan uang belanja keluarga Rp 60-70 ribu diluar konsumsi gas 3 Kg seharga Rp 20 ribu‎ pertabung yang harus diganti perminggu sekali.

“Dengan pengeluaran rutin perhari, pengeluaran rutin  perminggu, lanjut saya bisa bilang terus naik sementara di era sekarang saya juga bisa bilang tidak lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Kesusahan ekonomi seperti ini banyak juga saya dengarkan dari ibu-ibu rumah tangga yang lain, yang maaf rata rata suami mereka hanya tukang ojek motor pangkalan atau pun ojek online, sementara kebutuhan hidup (pangan) yang terus melonjak, penghasilan yang didapat tak ada kepastian. Yang pasti yang saya mau bilang bahwa ekonomi kian hari kian sulit. Kebutuhan biaya hidup terus alami kenaikan. 

Egi Leo juga merasakan hal sama. “Ya Rp 50 ribu sulit untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Telur sama ayam saja harganya dah selangit.. Biasa  beli  ayam yang gede harga Rp 45 ribu. Kemarin di pasar harganya Rp65 ribu jauh  banget.  Kalau semua kebutuhan pokok serba mahal maka harus ada yang turun tangan. Mentetri perekonomian harus turun  ke pasar untuk mengetahui, apakah ada permainan atau tidak. Kenapa harga bisa naik semuanya,” kata Egi.
 
Warga Cengkareng ini menuturkan, bagaimana tidak mau sulit perekonomian Indonesia, bensin aja  naik sudah berapa kali. Tarif listrik naik juga. Sebenarnya listrik bensin naik gak masalah. Asal UMR juga sesuai dengan perekonomian sekarang. Jangan semuanya pada naik, UMR gak naik-naik.

Sementara itu Ida Royani, warga Bekasi mengemukakan, soal uang belanja bagaimana kita mengaturnya.  “Kalau penghasilan sedikit tapi kita bersyukur maka insya Allah gak bakal kekurangan. Halal pendapatan insya Allah Allah terus diberi rejeki pada umatnya yang bersyukur. Tapi saat ini uang belanja Rp 50 ribu memang gak bakal cukup. Apalagi kalau rumah juga ngontrak. Tambah pusing deh kepala,” paparnya.

Cabai Rp100 Ribu

Sementara itu Sandiaga Salahuddin Uno saat kampanye di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, menerima keluhan soal tingginya bahan pokok di sana. Dalam dialog dengan sejumlah tokoh masyarakat dan relawan di lapangan futsal Hotel Mutiara Karang Anyar Tarakan Barat, salah seorang pengusaha UMKM, Syarifah, mengeluhkan harga bahan pangan yang naik turun, sehingga membuatnya sulit untuk menjalankan bisnisnya, karena harga yang tidak menentu tersebut. 

"Bayangkan Pak, jahe di sini Rp 80.000 (per kilogram), lombok (cabai) Rp 100.000 per kilogram, ayam Rp 68.000 per kilogram, dan daging Rp 150.000 per kilogram," ucap Syarifah, di Tarakan, Jumat (4/1/2018).

Pernyataan Syarifah atau yang biasa disapa Mak Ijah ini membuat kaget calon wakil presiden nomor urut 02 ini.

"Serius bu. Ini nggak dibuat-buatkan? Bukan saya yang ngomong loh. Banyak yang bilang harga-harga stabil. Nggak naik turun dan murah. Kenyataannya beda loh," ucap Sandi kepada Mak Ijah untuk lebih meyakinkan. 

"Benar pak. Masa saya bohong. Ini harga-harga memang tinggi. Mahal pak. Kalau nggak ngapain saya ngomong sama bapak," kata Mak Ijah. Sandi yang mendengarnya geleng-geleng kepala. 

Sandi pun melanjutkan, Prabowo dan dirinya fokus pada ekonomi. Ekonomi yang menggerakkan rakyat. Ekonomi yang berpihak pada pengusaha kecil dan menengah. 

"Lihat, betapa harga bahan kebutuhan pokok sangat berpengaruh kepada kehidupan Mak Ijah atau Bu Syarifah dan keluarganya. Dia nggak bisa berusaha, karena uangnya habis untuk belanja. Kami ingin harga-harga stabil dan terjangkau. Pekerjaan ada dan tercipta," kata Sandi. 

Ekonomi Sulit

Sebelumnya, Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro demokrasi (Prodem), Syafti Hidayat mengatakan, faktanya ekonomi rakyat makin sulit, lapangan kerja sulit. Harga kebutuhan pokok makin tinggi sedang daya beli rakyat makin melemah. Ditambah beban mahalnya tarif listrik dan BBM.

"Jadi kinerja pemerintahan Jokowi selama ini belum baik. Padahal kesulitan ekonomi yang dirasakan masyarakat sekarang ini harus segera diatasi,” ujar Syafti yang akrab disapa Ucok ini kepada Harian Terbit, belum lama ini.

Ucok menyebutkan, saat ini rakyat sangat membutuhkan pemimpin yang mampu memperbaiki ekonomi dan menyediakan lapangan kerja.