SPAH Datangi RSCM untuk Lawan Hoaks Selang Cuci Darah 

Safari
SPAH Datangi RSCM untuk Lawan Hoaks Selang Cuci Darah 
Anggota SPAH menyambangi RSCM dengan memberikan karangan bunga sebagai bentuk dukungan ke RSCM untuk melawan berita hoaks. 

Jakarta, HanTer - Aktivis mahasiswa tergabung dalam Solidaritas Peduli Aktivis Hilang (SPAH) Rico menanggapi pernyataan Capres No Urut 02 Prabowo Subianto terkait selang cuci darah yang dipakai hingga 40 kali. Anggota SPAH yang mencapai puluhan pun menyambangi RSCM dengan memberikan karangan bunga sebagai bentuk dukungan ke RSCM untuk melawan berita hoaks. 

Menurutnya, hoaks selang infus dipakai hingga 40 kali tak ubahnya hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet yang membuat gempar di Republik ini. Rico pun  menyayangkan pernyataan Prabowo yang belum mengklarifikasi terlebih dulu kebenarannya.

"Ini kan mirip dengan hoaks penganiyaan Ratna Sarumpaet, kenapa Prabowo masih saja ulangi lagi," kata dia, Jumat (4/1/2019).

Pihaknya pun mendukung pihak RSCM dan para dokter yang mengabdi di RSCM untuk menyuarakan kebenaran dengan melawan informasi bohong. 
"Demi nama baik RSCM dan profesi dokter, kami mendukung kalian. Gila aja jika dokter yang bekerja di RSCM itu dituding gunakan selang cuci darah yang sama untuk 40 orang. Jahat sekali, gak mungkin lah jika abaikan resiko penularan penyakit," tambahnya.

Dalam aksinya karangan bunga yang dibawa SPAH bertuliskan "Rakyat Dukung RSCM Melawan Hoaks, Hoaks Selang Cuci Darah Mirip Hoaks Ratna Sarumpaet ! Prabowo Oh Prabowo ...".

Selain ke RSCM, anggota SPAH juga mendatangi Gedung Komnas HAM yang terletak di JlLatuharhari 4B Menteng Jakarta Pusat. Di Komnas HAM mereka mempertanyakan keseriusan Komnas HAM untuk segera memanggil dan memeriksa aktor kunci peristiwa kerusuhan 1997-1998 yang menyebabkan banyaknya aktivis yang hilang.

"Sepertinya bukan elemen kita saja yang mendesak agar Komnas HAM panggil Prabowo Subianto terkait kasus dugaan pelanggaran HAM peristiwa 98. Tapi sampai sekarang Komnas Ham letoy tidak ada keseriusan sama sekali," tegas Rico.

Rico menilai aneh dan salah kaprah jika ada pihak yang membandingkan pelanggaran HAM di era 98 dan era Jokowi. "Berapa banyak aktivis yang hilang waktu 98, tapi sampai sekarang Komnas HAM tak kunjung menuntaskannya. Dibiarkan mengambang tak jelas," ucapnya.

Rico mengaku mengagumi sosok Prabowo yang merupakan Capres hasil ijtima ulama itu untuk mendatangi Komnas HAM untuk memberikan klarifikasi atas kaitannya dalam kasus tersebut.

"Capres hasil ijtima ulama jangan lari dari kenyataan, itu bukan mental ksatria. Hadapi semua ini, jangan sampai ada yang menyebut sudah ogah di tes ngaji, masa ke Komnas Ham kasih klarifikasi atas kasus 98 juga ogah. Ini kan boomerang," cetusnya.

"Kami siap memilih Prabowo tapi klarifikasi dulu kasus itu, dan tunjukkan mana para aktivis yang hilang. Orang tua para aktivis masih menunggu jawabanmu," pungkasnya.