Profesional dan Dibayar Mahal, Hoaks Diproduksi Mafia Pemilu

Safari/Danial
Profesional dan Dibayar Mahal, Hoaks Diproduksi Mafia Pemilu
Berita terkait tujuh kontainer surat suara yang sudah dicoblos untuk pasangan capres-cawapres nomor urut 01 membuat heboh ternyata merupakan berita bohong atau hoaks

Jakarta, HanTer - Informasi bohong atau hoaks kembali bikin gaduh. Kali ini terkait tujuh kontainer surat suara yang sudah dicoblos untuk pasangan capres-cawapres nomor urut 01 di Tanjung Priok, Jakarta. Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman meminta aparat kepolisian untuk melacak dan menangkap orang yang telah menyebarkan hoaks tersebut.

Pengamat politik dari Indonesian Public Institute (IPI) Jerry Massie mengatakan, berita hoaks yang semakin merebak jelang Pilpres 2019 merupakan sebuah black politics (politik hitam) jelang Pemilu. Pelaku hoaks adalah para mafia pemilu bayaran yang bekerja secara professional.

"Saya yakini ini adalah mafia Pemilu bayaran professional yang memproduksi hoaks. Belum lama isu KTP elektronik yang ditemukan. Kini 7 kontainer surat suara yang sudah tercoblos yang ternyata hoaks," paparnya menjawab Harian Terbit, Kamis (3/1/2019). 

Penyebar hoaks itu sudah terlatih dengan isu tingkat tinggi, sehigga mereka mendapat bayaran dengan angka fantastis. "Ini bisa dimainkan aktor dan mafia Pemilu. Mudah-mudahan bukan dari kedua kubu pasangan capres dan cawapres," ujar Jerry.

Jerry menyebut, tujuan penyebaran berita hoaks adalah menyerang sistem pemilu, tatanan demokrasi, dan membuat chaos politik sampai ke konspirasi. Oleh karena itu aktor dari penyebar berita hoaks dilakukan oleh mafia pemilu dengan bayaran yang tinggi.

“Aparat penegak hukum yakni polisi harus mencari aktor dibelakang ini. Karena bisa saja penyebaran berita hoaks ini dilakukan oleh mafia asing. Oleh karenanya langkah KPU melaporkan berita hoaks 7 kontainer berisi kertas suara sudah tercoblos ke polisi sudah tepat.  “Saya yakin gaya seperti ini yakni isu-isu hoaks ini bakal dimainkan lagi. Ini bagian drama politik," tandanya.

Pilpres Rusuh

Sementara itu pengamat media dari Institut Media Sosial dan Diplomasi, Hariqo Wibawa Satria mengatakan, kebanyakan disebarkan oleh akun-akun anonim. Oleh karenanya tidak bisa pastikan juga apakah akun-akun anonim itu penyebar hoaks saja atau juga produsen hoaks. Apalagi kedua tim medsos Capres juga mengaku tidak memproduksi hoaks. Oleh karenanya produsen hoaks bisa dilakukan oleh pihak ketiga yang memang ingin Pilpres rusuh.

"Atau bisa juga produsen hoaks dilakukan oleh tim sukses tidak resmi yang keberadaan dan aktivitasnya tidak diketahui oleh tim sukses yang resmi," paparnya.

Hariqo memaparkan, untuk siapa yang bermain dalam hoaks kertas suara yang sudah tercoblos maka polisi harus menangkap pria dalam rekaman suara yang  mengatakan ada satu kontainer surat suara yang telah dicoblos di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Dari pria itu akan diketahui siapa yang membayar, dan apa target serta tujuannya. Oleh karena itu semua pihak harus waspadalah terhadap adu domba antar pendukung capres, antaragama, antarsuku, dan lainnya.

"Sebaiknya jangan langsung percaya terhadap isi sebuah screenshot status medsos, percakapan whatsapp, dan lain-lain. Cek ke medsosnya langsung, apakah nama dan status itu benar-benar ada atau hanya editan," jelas Hariqo memberi saran.

Menurutnya, para pengadu domba juga bisa menyamar menjadi pendukung Jokowi maupun Prabowo. Tidak semua orang punya kemampuan dan waktu untuk mengecek kebenaran sebuah konten. Contoh, seorang perawat mampu, namun kadang mereka tak punya waktu karena sibuk merawat banyak pasien. Di 2019 akan banyak konten-konten tak bertuan yang menghasut dengan melempar isu sensitif. 

"Sebaiknya tim media kedua capres sering-sering berkoordinasi agar tidak menjadi korban adu domba. Kalau perlu buat grup whatsapp bersama," paparnya.

Usut Tuntas

Kabareskrim Polri Komjen Pol Arief Sulistyanto mengungkapkan pengusutan kasus hoaks 7 konteiner surat suara yang sudah tercoblos bakal dilakukan hingga tuntas. 

"Pasti. Semua yang ingin melakukan kekacauan dan gangguan terhadap pemilu pasti akan kita selesaikan," ujar Arief di Bareskrim Polri, Jalan Medan Merdeka Timur, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (3/1/2019).

Selain itu menurut Arief, pengusutan hoaks surat suara tercoblos dilakukan tim Polda Metro Jaya bersama jajaran cyber Bareskrim Polri. Polisi juga sudah meninjau lokasi yang disebut sebagai tempat surat suara itu berada.

Arief menambahkan akan memanggil seluruh pihak yang menyebarkan informasi soal surat suara tercoblos itu, termasuk elite Partai Demokrat Andi Arief. "Siapa pun yang berkaitan dengan masalah ini untuk membuat terang tindak pidana ini nanti, ya akan kita mintai keterangan," tegasnya.

Seperti diketahui, KPU juga sudah mengecek keberadaan 7 kontainer berisi surat suara yang sudah tercoblos ke Pelabuhan Tanjung Priok, namun KPU tak menemukan satu pun kontainer yang berisi surat suara yang sudah tercoblos sebagaimana informasi yang terlanjur beredar.

#Hoaks   #pilpres   #kpu   #bareskrim