Minta Keadilan, Korban Novel Baswedan Menangis ke Jaksa Agung

Safari
Minta Keadilan, Korban Novel Baswedan Menangis ke Jaksa Agung
Aksi demo korban penembakan Novel Baswedan itu berharap keadilan dengan mendatangi Kejaksaan Agung RI, Jakarta Selatan, Kamis (3/1/2018).

Jakarta, HanTer  - Kasus dugaan penganiayaan yang menyeret Novel Baswedan saat menjadi Kasat Reskrim di Polres Bengkulu tahun 2004 kembali diungkit. Pasalnya, korban penembakan Novel Baswedan itu berharap keadilan dengan mendatangi Kejaksaan Agung RI, Jakarta Selatan, Kamis (3/1/2018).

Mereka meminta kepada Jaksa Agung HM. Prasetyo untuk membuka kembali kasus tersebut dan segera menindaklanjutinya.

"Kami meminta kepada Jaksa Agung HM Prasetyo untuk bertanggung jawab atas apa terjadi pada kasus kami. Dan kami meminta kepada Kejagung untuk segera menindaklanjuti kasus ini sesuai dengan aturan yang berlaku," tegas korban dugaan tindak kekerasan oleh Novel Baswedan, Irwasyah Siregar.

Irwasyah menuding Novel Baswedan adalah mafia, karena dia (Novel) adalah penjahat dan bukan sosok yang kebal hukum. Pihaknya akan terus menyuarakan kasus tersebur agar publik melihat apa yang terjadi kepadanya. Bahkan pihaknya akan melapor ke Presiden Jokowi agar bisa melihat persoalan masa lalu ini yang belum tuntas. 

"Kami akan menyampaikan hal ini kepada Presiden jika Kejagung tidak merespon aksi kami dan kami akan terus melakukan aksi pembentangan spanduk ini sampai kasus ini dibuka kembali," terangnya.

Sementara itu, korban lainnya Dedi Muryadi juga meminta keadilan atas kasus yang menimpanya dan pihaknya berharap kasus itu bisa berjalan dan dibuka sesuai hukum yang berlaku. 

"Tidak ada satu orangpun yang kebal dengan hukum dimuka bumi ini khususnya Indonesia," ucapnya.

Koordinator massa mengatasnamakan Forum Rakyat Bengkulu untuk Keadilan (FRBK) Riki yang ikut mendampingi korban mengaku kedatangannya ingin menanyakan kepada Kejagung terkait kasus Novel ini. Karena keputusan pengadilan itu berkas sudah P21 tetapi 1 hari sebelumnya ada pihak kejaksaan yang mengambil berkas tersebut namun sampai detik ini tidak di kembalikan lagi. 

"Penegakan hukum harus berjalan. Kami tak peduli siapa Novel. Jika ini dibiarkan mangkrak maka hukum itu akan cacat," ujarnya.

Maka itu, kata dia, pihaknya mendesak agar kasus ini dibuka kembali dan disidangkan agar kasus ini bisa digelar di Pengadilan Bengkulu karena saat itu Novel masih menjadi Kasat Bengkulu. Terlebih korban sendiri adalah warga Bengkulu. 

"Kami bingung kenapa Novel ini seperti Malaikat. Ketika dia terkena kasus penyiraman air keras seolah dia adalah pihak paling dirugikan tetapi dalam perjalanan masa lalu nya dia punya kesalahan. Maka itu, sangat penting proses ini bisa dibuka kembali agar jelas," tuturnya.

Saat datang ke Kejagung, para korban Novel membentangkan spanduk dengan tulisan, 'Kami atas nama masyarakat Bengkulu meminta Kejaksaan Agung bertanggung jawab atas penghentian perkara penganiayaan yang melibatkan Novel Baswedan. 

Ada juga tulisan, 'Meminta Kejaksaan Agung mencabut surat pemberhentian penuntutan kasus Novel Baswedan dan melanjutkan proses penuntutan ke muka Pengadilan Negeri Bengkulu sesuai dengan ketentuan dan aturan yang berlaku'. 'Mengutuk keras segala bentuk perlakuan diskriminasi didepan hukum termasuk kepada saudara novel Baswedan yang mendapat perlakuan istimewa bahkan kebal di mata hukum'.