Rizal Ramli: Indonesia Tidak Akan Punah, Tapi Bisa Pecah Kalau Pemimpinnya Lemah

Alee
Rizal Ramli: Indonesia Tidak Akan Punah, Tapi Bisa Pecah Kalau Pemimpinnya Lemah

Jakarta, HanTer - Tokoh nasional yang juga ekonom senior, Rizal Ramli, mengatakan jika Indonesia tidak akan punah, akan tetapi Indonesia bisa terpecah kalau pemiminpinnya lemah. Hal itu diungkap Rizal Ramli saat menjawab pertanyaan jurnalis Kompas TV, Aiman dalam acara bertema "Apakah Indonesia punah, fakta atau fiksi?"

Rizal Ramli juga menambahkan, jika kepemimpinan lemah yang akan terjadi adalah ketidakadilan sosial dan ketidaksejahteraan. Apalagi kekuatan adikuasa seperti AS, dan lainnya tidak pernah tinggal diam untuk berpengaruh di kawasan Asia Tenggara.

"Indonesia bukan punah, tapi bisa disintegrasi atau pecah kalau kepemimpinan lemah dan ketidakadilan makin parah," kata pria yang akrab disapa RR itu.

Tokoh lulusan ITB, Sophia University Tokyo dan Boston University AS ini menambahkan soal Papua, yang mana anggaran dananya dari pemerintah pusat sangat besar, namun tidak sampai ke rakyat Papua, karena melalui birokrasi Gubernur, Bupati dan seterusnya, sehingga tidak efektif dan sarat terjadinya korupsi.

"Harusnya dana itu disampaikan langsung ke rakyat, atau dengan membuat ATM atau diberikan langsung ke tangan rakyat," kata RR.

Pendekatan kesejahteraan dan keadilan, ujar RR, harus menggantikan pendekatan keamanan. "Rakyat Papua miskin, sekolah susah, sama dengan di Maluku. Jadi pendekatan kesejahteraan dan keadilan jauh lebih efektif ketimbang pendekatan keamanan. Ingat Australia, AS dan China sangat tertarik dengan Papua. Jadi kita harus bisa melayani kepentingan rakyat Papua agar bebas dari kemiskinan dan ketidakadilan," ujar mantan Menko Maritim itu.

Soal pecahnya negara bangsa, pria yang juga pernah menjabat Menko Ekuin era Presiden Gus Dur itu mengingatkan bahwa Imperium Romawi dan Yunani waktu Alexander yang kekuasaannya sampai Asia hingga perbatasan China, hilang begitu saja jelang akhir abad 20, kita lihat Yugoslavia pecah jadi tujuh negara.

"Negara bubar itu terjadi, Soviet era Mikhail Gorbachev, misalnya, bubar setelah ada beberapa negara bagian yang tak bisa dikendalikan, padahal Gorby dipuji Barat, tapi kepemimpinannya lemah," ujar RR dalam simulasi Ekonomi dan Sosial Indonesia tahun 2030.

"Yugoslavia di bawah Tito yang juga sahabat Soekarno, di era penggantinya, pecah berantakan. Demikian halnya India, Pakistan, Bangladesh, juga pecah. Juga Suriah Yaman dan Libia dilanda perang saudara dan intervensi asing," ungkap Rizal.