Lomba Ngaji Antarcapres Konyol dan Tidak Perlu

Safari
Lomba Ngaji Antarcapres Konyol dan Tidak Perlu

Jakarta, HanTer - Usulan agar calon presiden (capres) mengikuti lomba mengaji dinilai Sekretaris Komite Dakwah Khusus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Moh. Naufal Dunggio, merupakan langkah yang konyol dan tidak bermutu. Alasannya, karena banyak yang bisa ngaji tapi tidak jujur dan tidak pandai mengurus rakyat.

“Usulan ngaji antar capres bisa dikategorikan mempermainkan agama. Jika test ngaji itu hanya niatnya mau menaikin elektabilitas dan mau menjatuhkan calon lainnya. Maka itu masuk kategori mempermainkan agama," ujar Naufal kepada Harian Terbit. Selasa (1/1/2019).

Apalagi, ujar Naufal, sanksi jika tidak pandai mengaji juga tidak jelas.Karena apakah jika tidak pandai mengaji langsung batal ikut pilpres. Selain itu jika ada capres yang tidak bisa mengaji maka sudah dipastikan akan digoreng. Sehingga hal tersebut masuk kategori mempermainkan agama.

Naufal menuturkan, Prabowo lama tinggal di Jordania.Di negara Timur Tengah itu Prabowo tidak menggunakan bahasa Jawa tapi bahasa Arab. Jika tiba-tiba Prabowo ajak petahana menggunakan bahasa Arab maka Jokowi akan menjadi apa karena dipastikan Jokowi tidak menguasai bahasa Arab.

"Sebodoh-bodohnya orang yang tinggal di Arab pasti dia bisa bahasa Arab yang umum atau bahasa Arab 'ammiyah. Nah gimana bila Prabowo bisa ngomong bahasa Arab maka bisa menjadi senjata makan tuan," paparnya.

Sangat Lucu

Ketua Media Center Reuni 212 Novel Bamukmin mempertanyakan usulan lomba ngaji antar capres. Karena jika lomba ngaji antar capres tersebut digelar maka hakekatnya apakah hendak mencari qori atau presiden.Oleh karena itu usulan ngaji yang dilakukan antar capres sangat lucu.Apalagi kala itu kubu petahana juga sangat anti untuk tidak membawa-bawa agama. 

"Bahkan salah satu partai koalisinya menyerang syariat Islam yang ingin menghapus Perda-Perda syariat termasuk syariat poligami.Karena memang jelas standar pemahamannya adalah sekuler.Sekarang tiba - tiba membawa isu agama untuk menutupi kegagalan kepemimpinannya," ujarnya.

"Saya rasa kubu PAS (Prabowo -Sandi) tidak usah memperdulikan ajakan itu (baca Qur'an) walau sepertinya keliatannya baik. Karena buat apa pandai baca Qur'an tapi nol dalam pengamalan bahkan mendukung penghina dan menistakan Alquran," paparnya.

Novel menuturkan, lebih baik awam Alqur'an tapi tunduk dan patuh kepada agama dan ulama yang lurus atau istiqomah. Selain itu  berjuang membela agama dan menyelamatkan bangsa dari penjajahan asing dan aseng. Pemimpin yang demikian lebih bisa menyelamatkan agama dan bangsa dari pada hanya pencitraan belaka.Karena pemimpin yang hanya pencitraan justru yang sangat berbahaya.

"Pemimpin yang hanya pencitraan justru akan mencelakakan rakyat.Karena mereka yang paham Alqur'an serta tau arti dan tafsirnya tapi malah memutarbbalikan hakekat sesungguhnya dalam Alqur'an," tegasnya.

Tidak Perlu

Ketua Majlis Ta'lim dan Sholawat An Nur, Ustadz Anugrah Sam Sopian Hamid menegaskan, lomba ngaji antar capres tidak perlu. Namun test kemampuan mengaji menjadi hal yang wajar dan pantas. Bisa mengaji akan menjadi poin penilaian dari negara dengan penduduk muslim terbesar sedunia.

"Jadi hasil penilaian dari kemampuan mengaji dan pemahaman agama akan sangat berpengaruh terhadap mayoritas pemilih muslim di indonesia," tegasnya. 

Sebelumnya, Ketua Dewan Ikatan Da'i Aceh Tgk Marsyuddin berencana mengundang pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno mengikuti uji kemampuan membaca Alquran."Kami akan mengundang kedua pasangan calon untuk mengikuti uji mampu membaca Alquran.Tes membaca Al Quran, Surat Al-Fatihah dan surat pendek lainnya akan dilaksanakan di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada tanggal 15 Januari 2019," katanya Sabtu 28 Desember 2017.

Menurut dia, hasil tes membaca Al Quran tidak akan mempengaruhi keputusan KPU/KIP.Justru, katanya, sebagai langkah awal untuk mengakhiri politik identitas yang sudah terlanjur terjadi."Kami pastikan Ikatan Da'i Aceh tetap netral pada Pilpres 2019. Setelah uji baca Al Quran kedua pasangan calon tersebut masyarakat bisa menentukan sendiri mana calon yang pantas memimpin negeri ini," katanya.