Laksanakan Perintah Atasan, Jadi Faktor Meringankan Hukuman Bharada E

- Selasa, 27 Desember 2022 | 12:22 WIB
Bharada E di ruang sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.  (ikbal muqorobin/harianterbit.com)
Bharada E di ruang sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. (ikbal muqorobin/harianterbit.com)

HARIANTERBIT.com - Guru Besar Filsafat Moral Romo Franz Magnis Suseno mengatakan, faktor yang paling meringankan hukuman Bharada E dalam kasus pembunuhan berencana terhadap Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, adalah kedudukan tinggi seseorang yang memberi perintah untuk menembak Brigadir J.

Seperti diketahui, dalam kasus ini, Bharada E mengaku diperintah oleh Ferdy Sambo yang kala itu menjabat sebagai Kepala Divisi Propam Polri.

Romo Magnis mengatakan budaya 'laksanakan' di kepolisian menjadi unsur paling kuat yang mendorong Bharada E tidak menolak perintah tersebut.

Baca Juga: AJ Bacok Ayah Kandung Karena Kesal Diajak Tahajud, Penganiaya Pengojek Hingga Tewas Ditangkap

"Tentu paling meringankan adalah kedudukan yang memberikan perintah. Itu kedudukan tinggi yang jelas memberi perintah yang di dalam kepolisian tentu akan ditaati. Tidak mungkin katanya Eliezer 24 umurnya jadi masih muda itu budaya laksanakan itu adalah unsur yang paling kuat," kata Romo Magnis saat menjadi saksi meringankan untuk terdakwa Bharada E dalam sidang lanjutan kasus dugaan pembunuhan berencana Brigadir J di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Senin (26/12).

Romo Magnis menyebut faktor kedua yang meringankan hukuman Bharada E adalah keterbatasan situasi saat peristiwa penembakan 8 Juli lalu. Menurutnya, dalam situasi itu Bharada E tak memiliki waktu untuk mempertimbangkan perintah menembak Brigadir J.

"Saya kira semua itu dimana dia saat itu harus menentukan laksanakan atau tidak, tidak ada waktu untuk melakulan pertimbangan matang di mana kita umumnya kalau ada keputusan penting coba ambil waktu tidur dulu, dia harus langsung bereaksi," ujarnya.

"Menurut saya itu tentu dua faktor yang secara etis sangat meringankan," kata Romo Magnis menambahkan.

Baca Juga: Ketua KPU Harus Polisikan `Wanita Emas`, Pengamat: Bisa Dipidanakan

"Tambahan satu poin dalam kepolisian seperti di dalam situasi pertempuran militer, di dalam kepolisian memang bisa ada situasi di mana atasan memberi perintah tembak itu, di dalam segala profesi lain tidak ada. Jadi bahwa seorang atasan polisi memberi perintah tembak itu tidak total sama sekali, enggak masuk akal," pungkasnya

Romo mengemukakan hal itu menjawab pertanyaan penasihat hukum Bharada E, Ronny Talapessy tentang unsur-unsur yang dapat meringankan hukuman Bharada E jika dilihat dari sudut pandang kajian filsafat moral.

Bharada E didakwa melakukan tindak pidana pembunuhan berencana terhadap Brigadir J. Tindak pidana itu dilakukan bersama-sama dengan Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Ricky Rizal atau Bripka RR, dan Kuat Ma'ruf.

Baca Juga: Ditanya Wartawan Hanya Tersenyum, Jokowi Belum Copot Menteri Kehutanan dan Menteri Pertanian

Pembunuhan terhadap Brigadir J terjadi pada Jumat, 8 Juli 2022 di rumah dinas Sambo nomor 46 di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan. Dalam surat dakwaan, Bharada E dan Sambo disebut menembak Brigadir J. Sammy

Editor: Zahroni Terbit

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sandiaga Uno Yakin Lulus Ospek PPP: Insyaa Allah

Sabtu, 10 Juni 2023 | 09:24 WIB
X