Saat 'Para Korban' Rekayasa Ferdy Sambo Menangis di Ruang Sidang

- Selasa, 6 Desember 2022 | 20:03 WIB
Sejumlah anggota Polrindan terdakwa obstruction of justice menjadi saksi di sidang Ferdy Sambo.  (Ikbal Muqorobin - harianterbit.com)
Sejumlah anggota Polrindan terdakwa obstruction of justice menjadi saksi di sidang Ferdy Sambo. (Ikbal Muqorobin - harianterbit.com)

HARIANTERBIT.com - Sejumlah anggota Polri yang terdampak rekayasa Ferdy Sambo menangis meratapi nasibnya. Mereka mengungkap kepahitan usai menerima sanksi dari institusi di tengah sidang di hadapan Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi. 

Jaksa penuntut umum menghadirkan anggota Polri yang terkait dalam penanganan dan penyelidikan kasus tewasnya Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa, 6 Desember 2022. Mereka adalah mantan anak buah Ferdy Sambo di Divpropam Polri. 
 
Mantan Wakaden B Ropaminal Divpropam Polri Arif Rachman Arifin mengaku sedih harus menanggung nasibnya kini. Dia menjadi salah satu anggota Polri yang menerima sanksi administrasi terberat dalam sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP). Arif harus menerima sanksi Pemberhentian Tidak Dengan Hormat atau PTDH. 
 
 
Tidak hanya itu, Arif kini juga menjadi terdakwa dalam perkara perintangan penyidikan atau obstruction of justice yang persidangannya masih berjalan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. 
 
"Sedih yang mulia, saya hanya bekerja," ungkap Arif sambil menangis. 
 
Ungkapan serupa juga disampaikan eks Karo Provos Div Propam Polri Brigjen Benny Ali. Gara-gara menangani kasus tersebut Benny harus kehilangan jabatannya. Tidak hanya itu dia mendapatkan sanksi demosi selama satu tahun usai menjalani sidang KKEP. Beruntung dia tidak dipecat dari institusi. 
 
Benny mengaku sedih. Namun keluarganya yang paling terpukul dengan sanksi tersebut. 
 
 
"Sedih. Ya yang paling menderita itu adalah istri saya. Kalau saya mungkin enggak. Tetapi sampai saat ini, istri saya itu syok, mau sidang ini syok," bebernya. 
 
"Yang paling berat hukumannya itu sebenarnya bukan patsusnya, beban yang kami terima ini terhadap anak kami, istri kami, keluarga kami, itu yang paling berat," imbuhnya. 
 
Sebelumnya Eks Kabag Gakkum Provost Divpropam Polri Kombes Susanto Haris juga mengungkapkan perasaannya secara emosional hingga mengisi di ruang sidang. Gara-gara Ferdy Sambo dia harus menjalani perempat khusus selama 29 hari dan menerima sanksi demosi 3 tahun. 
 
 
Susanto mengaku marah dan kecewa dengan tindakan Ferdy Sambo yang membuat dirinya mendapatkan mendapatkan sanksi. Dia tidak habis pikir dengan perilaku Ferdy Sambo yang merupakan perwira tinggi berpangkat Inspektur Jenderal (Irjen) Polisi itu.
 
"Kecewa, kesal, marah. Jenderal kok bohong, susah nyari jenderal," katanya dengan suara bergetar.
 
Susanto mengaku karirnya selama 30 tahun di kepolisian hancur dengan adanya peristiwa tersebut. Keluarga pun menanggung malu hingga merasa ketakutan saat melihat pemberitaan di televisi maupun media sosial.
 
 
"Keluarga kami malu. Kami paranoid nonton TV, media sosial. Jenderal kok tega menghancurkan karier, 30 tahun saya mengabdi, hancur di titik nadir, rendah pengabdian saya. Belum yang lain-lain. anggota-anggota hebat Polda Metro, Polres Jaksel. Bayangkan majelis hakim, kami Kabaggakum yang biasa memeriksa polisi nakal, kami diperiksa. Bayangkan majelis hakim bagaimana keluarga kami " tegas Susanto emosional. 
 
Diketahui Brigadir J tewas ditembak di rumah dinas Ferdy Sambo di Komplek Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan pada 8 Juli 2022. Dalam kasus tersebut terdapat lima terdakwa yakni Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Bharada E atau Richard Eliezer, Bripka RR atau Ricky Rizal dan Kuat Ma'ruf. 
 
Mereka dijerat dengan pasal pembunuhan berencana, Pasal 340 subsider Pasal 338 junto Pasal 55 dan 56 KUHP dengan hukuman maksimal hukuman mati.***

Editor: Anugrah Terbit

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Begini Cara Lindungi Data Diri Dalam Pelayanan Publik

Selasa, 7 Februari 2023 | 20:19 WIB

Jokowi: Buronan Korupsi Pasti Ditemukan

Selasa, 7 Februari 2023 | 19:02 WIB

1 Ramadhan 23 Maret dan Idul Fitri 21 April 2023

Selasa, 7 Februari 2023 | 11:05 WIB

Duet Anies-Khofifah Bisa Menangi Pilpres

Selasa, 7 Februari 2023 | 10:58 WIB
X