Din Syamsuddin di UAD: Wasatiyat Islam adalah Solusi

- Minggu, 4 Desember 2022 | 14:19 WIB

HARIANTERBIT.com - Tokoh nasional Din Syamsuddin, mengatakan, Wasatiyat Islam (Jalan Tengah Islam) adalah solusi terhadap kerusakan peradaban manusia dewasa ini.

Menurutnya, kerusakan peradaban, baik pada tingkat global maupun nasional banyak negara, merupakan fakta yg sangat memprihatinkan.

"Dunia menghadapi krisis multi-dimensional, berupa krisis-krisis pangan, energi dan lingkungan hidup, serta berbagai bentuk ketidakadilan, tindak kekerasan, dan sikap fobia antar kelompok," kata Din yang merupakan Ketua Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations/CDCC) pada International Symposium yg diadakan oleh Fakultas Agama Islam, Universitas Ahmad Dahlan, di Yogyakarta, 3 Desember 2022.

Baca Juga: Rest Area KM 88 B Jalan Tol Cipularang Raih Predikat Terbaik I

Dia mengatakan, pasca Covid-19, belum terwujud kondisi new normal (normal baru) karena umat manusia masih menghadapi momok berupa climate change and global warming (perubahan iklim dan pemanasan global) yg mengerikan, dan resesi ekonomi global yg berdampak sistemik pada bidang-bidang kehidupan lain.

"Itu semua disebabkan karena Sistem Dunia (World System) berwatak sekuler-liberal, yang sejatinya menampilkan bentuk ekstrimitas. Label ekstrimisme sering hanya dikaitkan dengan agama dan dilekatkan pada kelompok agama (tertentu/Islam), padahal ideologi dunia dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya berwatak ekstrim yg akhirnya menciptakan kerusakan akut," kata Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta ini.

Untuk itu, menurut Din Syamsuddin, yang menjadi Chairman of Global Fulcrum of Wasatiyat Islam (Poros Dunia Wasatiyat Islam) yang baru diluncurkan pada 18 Nopember 2022 yang lalu, Wasatiyat Islam (atau Jalan Tengah Islam) dapat menjadi solusi.

Sistem Dunia dan bentuk-bentuk derivatifnya dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya harus ditarik ke titik tengah. Namun, menurut Din Syamsuddin, Jalan Tengah ini bukan jalan moderasi yang mengandung konotasi kompromistik dan rekonsiliasistik (dalam hal ini berlaku pola hubungan antara pihak superior dan pihak inferior).

Baca Juga: CERI Nilai Langkah Menteri ESDM Bentuk Ditjen Gakum untuk Tindak Tambang Ilegal Mubazir

Dalam Wawasan Wasatiyat Islam ada dimensi toleransi (tasamuh), keseimbangan (tawazun), dan konsultasi (syura), tapi ada juga dimens keadilan (i'tidal). Sering penekanan pada moderasi mengabaikan prinsip keadilan. Wawasan Wasatiyat Islam lebih dari sekedar moderasi, bahkan mencerminkan keseimbangan menyeluruh. Menurutnya. Global Fulcrum of Wasatiyat Islam akan segera aktif mengarusutamakan wawasan tsb untuk dunia, khususnya umat Islam sedunia.

Halaman:

Editor: Zahroni Terbit

Tags

Artikel Terkait

Terkini

300 Anak Yatim Mendoakan Yusril Jadi Presiden 2024

Jumat, 3 Februari 2023 | 21:06 WIB

Anies Bertemu AHY di Kantor Demokrat

Jumat, 3 Februari 2023 | 11:46 WIB

Bharada E Penuhi Syarat Sebagai Saksi Pelaku

Jumat, 3 Februari 2023 | 11:45 WIB

Sambo dan Putri Akan Divonis 13 Februari

Jumat, 3 Februari 2023 | 11:43 WIB

Darurat Kasus Anak Hamil di Luar Nikah

Kamis, 2 Februari 2023 | 23:22 WIB

KIB Dukung Anies : Kita Bukan Kaleng - Kaleng

Kamis, 2 Februari 2023 | 23:17 WIB
X