• Senin, 26 September 2022

Bukan Bermental Politisi, MUI: Rakyat Butuh Pemimpin Negarawan

- Jumat, 29 Juli 2022 | 09:02 WIB
Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas
Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas

HARIANTERBIT.com - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas mengatakan masyarakat tak membutuhkan pemimpin bermental politisi, tetapi yang sudah bermental negarawan pada pemilihan presiden (Pilpres) 2024. Sehingga yang dipikirkan pemimpin tersebut adalah nasib seluruh rakyat, bukan kepentingan diri dan partai.

"Tipe pemimpin yang kita butuhkan bukanlah tipe pemimpin yang bermental politisi tapi yang sudah bermental negarawan, di mana yang dipikirkannya tidak lagi kepentingan diri dan partai serta kelompoknya saja tapi adalah nasib seluruh rakyat dan warga bangsanya," kata Anwar di Jakarta, Kamis (28/7/2022).

Anwar setuju dengan pernyataan Wakil Presiden Ma'ruf Amin agar MUI tak ikut ribut-ribut urusan calon presiden (capres) yang akan berkontestasi pada Pilpres 2024. Namun, kata Anwar, secara moral MUI tetap akan mengingatkan dan mengarahkan umat memilih capres dan cawapres yang terbaik.

Baca Juga: Komnas HAM Akan Periksa Irjen Sambo dan Istri

"Secara moral MUI tentu harus bisa mengingatkan dan mengarahkan umat dan bangsa ini untuk memilih capres-cawapres yang terbaik dari yang ada," jelasnya.

Anwar lantas membeberkan kriteria calon pemimpin yang baik untuk memimpin Indonesia. Di antaranya harus beriman, bertakwa serta memiliki akhlak yang terpuji dan mulia. Selain itu juga harus memiliki kapasitas dan integritas yang mumpuni. Anwar mengingatkan masyarakat tak terpecah belah meski berbeda pilihan dalam kontestasi politik lima tahunan.

Kebangkrutan

Peneliti senior Institute for Strategic and Development (ISDS), Aminudin mengatakan, negarawan adalah ukuran normatif. Karena setiap politisi yang berambisi menjadi presiden selalu diklaim kelompoknya sebagai negarawan. Namun yang jelas presiden 2024 harus mampu mengatasi gejala kebangkrutan ekonomi seperti di Sri Lanka. Padahal hutang Indonesia 10 kali lipat lebih banyak dari Sri Lanka.

"Di bawah Jokowi berdasar data Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) memprediksikan tingkat kemiskinan Indonesia pada 2022 berpotensi melonjak menjadi 10,81 persen atau setara 29,3 juta penduduk," jelasnya.

Di era Jokowi, sambung Aminudin, dunia usaha juga makin suram. Saat ini banyak perusahaan gulung tikar, banyak retail yang tutup, Hasil.penelitian “Mind the Gap: Mapping Youth Skills for the Future in Asean” yang diluncurkan ASEAN Foundation mendapati sejumlah penemuan terkait generasi muda usia produktif Indonesia. Di antaranya, angka pengangguran kaum muda di Indonesia termasuk salah satu yang tertinggi di ASEAN.

Halaman:

Editor: Zahroni Terbit

Tags

Terkini

GIAK: Hentikan Diskriminatif Penanganan Kasus Impor Baja

Senin, 26 September 2022 | 07:54 WIB

Doa dan Zikir Akbar Mak Ganjar Untuk Pemilu 2024

Senin, 26 September 2022 | 07:21 WIB

Organisasi Bayangan Nadiem Diduga Bebani Anggaran Negara

Minggu, 25 September 2022 | 16:34 WIB
X