• Jumat, 19 Agustus 2022

Peradi Tegaskan Organisasi Advokat Single Bar

- Minggu, 20 Maret 2022 | 20:05 WIB
Anggota Peradi
Anggota Peradi

Jakarta, HanTer - Sekretaris Dewan Pembina Peradi, DR. Adardam Achyar, SH., MH menanggapi menanggapi dan meluruskan berita-berita dari sejumlah media online yang menyebut Peradi Organisasi Advokat Multibar. Padahal berdasarkan UU No. 18 Tahun 2003 Tentang Advokat (UUA) pada Pasal 28 ayat (1) menyatakan bahwa Organisasi Advokat merupakan satu-satunya wadah profesi Advokat yang bebas dan mandiri yang dibentuk sesuai dengan ketentuan Undang-Undang.

"Hal itu dengan maksud dan tujuan untuk meningkatkan kualitas Advokat," ujar DR. Adardam Achyar, SH., MH di Jakarta, Minggu (20/3/2022).

Adardam memaparkan, tidak dapat dipungkuri frasa ”merupakan satu-satunya wadah profesi Advokat” bermakna dan harus dimaknai bahwa Organisasi Advokat yang akan dibentuk berdasarkan perintah UUA adalah ”satu Organisasi Advokat”, dengan kata lain Single Bar. Kemudian, Pasal 5 ayat (1) UUA menyatakan Advokat berstatus sebagai penegak hukum, bebas dan mandiri yang dijamin oleh hukum dan peraturan perundang-undangan.

Baca Juga: Sahabat Ganjar Bagi Sembako di Kota Melayu Deli

Untuk dapat memahami dengan benar mengenai prinsip Single Bar dan Advokat berstatus sebagai Penegak Hukum, maka harus dipahami dulu konsiderans UUA, pada bagian menimbang huruf b yang menyatakan “bahwa kekuasaan kehakiman yang bebas dari segala campur tangan dan pengaruh luar, memerlukan profesi Advokat yang bebas, mandiri, dan bertanggung jawab, untuk terselenggaranya suatu peradilan yang jujur, adil, dan memiliki kepastian hukum bagi semua pencari keadilan dalam menegakkan hukum, kebenaran, keadilan dan hak asasi manusia”.
 
"Dari konsiderans UUA tersebut terlihat bahwa profesi Advokat adalah profesi yang diperlukan oleh kekuasaan kehakiman untuk dapat terselenggarannya suatu peradilan yang jujur, adil, dan memiliki kepastian hukum bagi semua pencari keadilan dalam menegakkan hukum, kebenaran, keadilan dan hak asasi manusia," jelasnya.

"Bunyi dari konsiderans tersebut merupakan suatu keistimewaan dan penghargaan bagi Profesi Advokat, hal mana tidak terdapat baik dalam UU tentang Kepolisian maupun dalam UU Tentang Kejaksaan; Dalam perkara No. 019/PUU-I/2003 terkait dengan pengujian terhadap norma Penjelasan Pasal 2 ayat (1), Pasal 14 sampai 17, Pasal 32 ayat (2), Pasal 3 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (3) UU No. 18 Tahun 2003 bertentangan dengan UUD 1945, DPR RI yang diwakili oleh H. Hamdan Zoelfa, S.H dan Akil Mukhtar, S.H di muka persidangan pada pokoknya menyatakan, bahwa mengenai advokat tidak diatur dalam UUD 1945, tapi dasar pengaturan tentang advokat harus dikembalikan kepada  Pasal 24 ayat (3) yaitu badan badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman.

Baca Juga: Survei DSI: Airlangga dan Golkar Teratas Pilihan Responden untuk Pemilu 2024
 
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka dapat diketahui bahwa Peradi sebagai satu-satunya Organisasi Advokat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) UUA adalah organ negara dalam rumpun kekuasaan yudikatif. Dan karena Peradi adalah organ negara dalam arti luas, maka sudah barang tentu Peradi harus bersifat tunggal (Single Bar), sama dengan organisasi-organisasi Penegak Hukum lainnya seperti Kepolisian dan Kejaksaan.
 
Mengingat Advokat tugas dan fungsinya termasuk ke dalam rumpun yudikatif, maka Mahkamah Konstitusi dalam Putusan Perkara No. 014/PUU-IV/2006 antara lain menyatakan ”Karena, Pasal 28 Ayat (1) UU Advokat menyebutkan, Organisasi Advokat merupakan satu-satunya wadah profesi Advokat yang bebas dan mandiri yang dibentuk sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini dengan maksud dan tujuan untuk meningkatkan kualitas profesi Advokat, maka organisasi Peradi sebagai satu-satunya wadah profesi Advokat pada dasarnya adalah organ negara dalam arti luas yang bersifat mandiri (independent state organ) yang juga melaksanakan fungsi negara (vide Putusan Mahkamah   Nomor 066/PUU-II/2004)”;
 
Dengan dasar tersebut, ratio legis Organisasi Advokat (Peradi) harus dalam bentuk Single Bar adalah karena Peradi sebagai Organisasi Advokat adalah organ negara dalam arti luas yang bersifat mandiri (independent state organ) yang juga melaksanakan fungsi negara guna terselengarannya suatu peradilan yang jujur, adil, dan memiliki kepastian hukum bagi semua pencari keadilan dalam menegakkan hukum, kebenaran, keadilan dan hak asasi manusia.

Baca Juga: Deklarasi Dukung Ganjar Pranowo, Ratusan Mahasantri Juga Bagi-bagikan Sembako
 
Berkaitan dengan prinsip Single Bar ini Mahkamah Konstitusi dalam Putusan Nomor 66/PUU-VIII/2010 memberikan Pendapat Hukum “Bahwa ketentuan Pasal 5 ayat (1) UU Advokat yang memberikan status kepada Advokat sebagai penegak hukum yang mempunyai kedudukan setara dengan penegak hukum lainnya dalam menegakkan hukum dan keadilan menunjukkan bahwa karena kedudukannya itu diperlukan suatu organisasi yang merupakan satu-satunya wadah profesi Advokat”.
 
Peradi sebagai satu-satunya wadah profesi Advokat sebagaimana dimaksud dalam UUA memiliki wewenang untuk melaksanakan pendidikan khusus profesi Advokat [Pasal 2 ayat (1)], pengujian calon Advokat [Pasal 3 ayat (1) huruf f], pengangkatan Advokat [Pasal 2 ayat (2)], membuat kode etik [Pasal 26 ayat (1)], membentuk Dewan Kehormatan [Pasal 27 ayat (1)], membentuk Komisi Pengawas [Pasal 13 ayat (1)], melakukan pengawasan [Pasal 12 ayat (1)], dan memberhentikan Advokat [Pasal 9 ayat (1), UU Advokat].
 
Sedangkan adanya pendapat dari rekan Juju Purwantoro selaku Vice President Kongres Advokat Indonesia yang masih mempersoalkan konstitusionalitas PERADI sebagai satu-satunya wadah profesi Advokat sebagaimana dimaksud oleh Pasal 28 ayat (1) UUA dengan mendasarkannya kepada Putusan Mahakamah Konstitusi No. 101/PUU-VII/2009 menurut hemat kami adalah pendapat yang tidak relevan lagi untuk dikemukakan pada saat ini dengan alasan-alasan sebagai berikut ini.

Baca Juga: Erick Thohir Dinilai Telah Disiapkan Jadi Penerus Kepemimpinan Jokowi
 
Pertama, Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 014/PUU-IV/2006 tanggal 30-11-2006 antara lain Mahkamah Konstitusi memberikan Pendapat Hukum, “Bahwa ketentuan Pasal 5 ayat (1) UU Advokat yang memberikan status kepada Advokat sebagai penegak hukum yang mempunyai kedudukan setara dengan penegak hukum lainnya dalam menegakkan hukum dan keadilan menunjukkan bahwa karena kedudukannya itu diperlukan suatu organisasi yang merupakan satu- satunya wadah profesi Advokat.

Halaman:

Editor: Anugrah Terbit

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Polisi Tangkap Enam Pelaku Begal Sadis

Jumat, 19 Agustus 2022 | 11:23 WIB

Pengamat: Rakyat Hormati Pemimpin Jujur

Jumat, 19 Agustus 2022 | 11:21 WIB

Polisi Ungkap Kasus Penipuan via Aplikasi MT4 UGAM

Kamis, 18 Agustus 2022 | 20:52 WIB

Bharada E Minta Keluarganya Juga Dilindungi

Kamis, 18 Agustus 2022 | 16:15 WIB

LPSK: Rutan Bareskrim Tidak Ideal Buat Bharada E

Kamis, 18 Agustus 2022 | 16:03 WIB
X