• Rabu, 28 September 2022

Pengamat: Akademisi Jangan Terseret Penyesatan Opini terkait Risiko BPA

- Jumat, 18 Maret 2022 | 13:44 WIB

Jakarta, HanTer - Pemerhati ekonomi sirkular dari Nusantara Circular Economy & Sustainability Initiatives (NCESI), Yusra Abdi, mendesak kalangan akademisi untuk lebih kritis dan tidak terperdaya lobi industri air kemasan, apalagi sampai terseret menentang rencana strategis Badan
Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerapkan aturan pelabelan risiko Bisfenol A (BPA)—bahan campuran kimia yang bisa menyebabkan kanker dan kemandulan—pada galon guna ulang berbahan plastik keras polikarbonat.

"Menyudutkan BPOM yang justru ingin melindungi kesehatan publik dengan mempersoalkan kemungkinan membengkaknya sampah plastik sekali pakai paska berlakunya kebijakan pelabelan BPA sama saja memberi angin pada lobi industri," kata Yusra menanggapi pernyataan Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjajaran, Martha Fani Cahyandito, dalam sebuah webinar bertajuk "Menuju Transformasi Ekonomi Hijau : Kendala dan Solusi" pada Rabu (16/3/2022).

Dalam webinar itu, Fani mempertanyakan efektifitas rencana pelabelan risiko BPA pada galon
guna ulang -- kini dalam proses pengesahan di Sekretariat Kabinet.
Menurut Fani, pelabelan BPA bisa memicu peningkatan sampah plastik, dimana publik akan tergerak beralih ke galon sekali pakai yang bebas BPA.

Baca Juga: Preview Southampton vs Man City; Waspada Ancaman Kuda Hitam

Dia juga menggambarkan rencana pelabelan bakal memicu persaingan usaha serta kemungkinan dampaknya pada pengurangan tenaga kerja di industri Air Minum Dalam Kemasan.
Namun Yusra bilang kritik semacam itu salah kaprah dan praktis hanya mendaur ulang penentangan dari pihak industri, utamanya Asosiasi Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan
(Aspadin).

"Lobi industri sejak awal menggrosir beragam dalih untuk mengerdilkan rencana BPOM," katanya.

"Salah satunya adalah dengan menyebut aturan pelabelan risiko BPA bakal menambah jumlah sampah plastik karena publik bakal terdorong untuk meninggalkan galon guna ulang dan beralih ke galon sekali pakai yang bebas BPA," tambah Yusra.

Bila mau jujur, ujar Yusra, semua air mineral non-galon yang beredar di pasar, kecuali kemasan gelas yang berbahan plastik polypropylene, menggunakan kemasan plastik sekali pakai dari jenis Polyethylene Terephthalate (PET), plastik lunak yang bebas BPA.

"Penjualan terbesar produsen air kemasan terbesar di Indonesia, salah satunya bersumber dari penjualan kemasan Single Pack Size yang semuanya berbahan PET alias sekali pakai," kata Yusra.

"Bila masalahnya memang plastik sekali pakai, kenapa asosiasi industri tidak pernah mempersoalkan potensi sampah dari penjualan produk sekali pakai mereka yang masif itu?"

Halaman:

Editor: Zahroni Terbit

Tags

Terkini

Banyak Dikiritik, Program Kompor Listrik Dibatalkan

Rabu, 28 September 2022 | 09:25 WIB

DPR Desak KPK Jemput Paksa Lukas Enembe

Rabu, 28 September 2022 | 08:55 WIB
X