• Selasa, 29 November 2022

Basmi Premanisme, Polres Tenggarong Dipuji Presisi

anu
- Kamis, 30 Desember 2021 | 18:41 WIB
Budhi Setya
Budhi Setya

Jakarta, HanTer - Jajaran Polres Tenggarong berhasil mencegah aksi premanisme oleh kelompok ormas tertentu di Loa Janan, Tenggarong, terkait pemakaian lahan jalan hauling batubara milik masyarakat dengan melawan hukum.  Aksi premansime dilakukan guna menopang bisnis angkutan batubara,  dengan menghalalkan segala cara, menyerobot lahan milik orang lain (29/12).

Diketahui pemilik PT. NBI adalah Nabil Husein Said, anak Ketua Ormas PP Kaltim di Prov. Kaltim, memperoleh order pekerjaan angkutan batubara dari PT. Batuah Energi Prima (PT. BEP). Namun konsesi pertambangan batubara ini tidak memiliki jalan hauling sendiri. Kemudian dengan mengerahkan puluhan anggota ormas, menyerobot lahan milik orang lain, yang sudah ditetapkan pemiliknya menjadi  areal pelaksanaan program penamanan 1 juta pohon, guna mendukung pemerintah mengatasi bencana banjir di kawasan Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara. 

“Kami bangga dengan sikap presisi jajaran Polres Tenggarong yang telah menjalankan perintah Kapolri dalam pembasmi premanisme di wilayahnya. Diharapkan ada tindakan hukum lanjutan yang tegas  atas aksi premanisme yang dilakukan berulang kali. Polisi tidak boleh kalah dengan premanisme. Harus ditindak tegas dan ditangkap tanpa pandang bulu itu anak siapa”, ujar Rokhman Wahyudi, SH Ketua LAKI (Laskar Anti Korupsi) Provinsi Kalimantan Timur  kepada wartawan di Jakarta, Kamis (30/12/2021).

Sementara itu Nabil Husein Said belum berhasil dikonfirmasi wartawan, baik melalui whats app (WA) maupun telpon. Dua nomor telepon selulernya tidak aktif (+7964433878*  dan +62212222999*). 

Disisi lain Mabes Polri mendukung langkah jajarannya membasmi premanisme, sebagaimana disampaikan Kabag Penum Kombes Ahmad Ramadhan. "Polri komitmen berantas premanisme," ujar Ahmad Ramadhan.

Menurut Rokhman Wahyudi, polisi tidak boleh kalah degan gerombolan mafia. Terlebih-lebih diketahui pemegang saham mayoritas  PT. BEP,  Herry Beng  Koestanto ternyata seorang residivis.  Pada tanggal  30 Juni tahun 2016, berdasarkan putusan PN Jakarta Pusat No. 521/Pid.N/2016/PN.Jkt.Pst, Herry Beng  Koestanto divonis 3 (tiga) tahun penjara, dan berdasarkan Putusan Kasasi MARI No. 1442 K/Pid/2016 tertanggal 12 Januari 2017, berubah menjadi 4 (empat) tahun penjara dalam perkara penipuan terhadap pengusaha Putra Mas Agung sebesar Usd 38,000,000,- (tiga puluh delapan juta dollar Amerika Serikat). Pada tanggal 9 Juli 2021, Herry Beng  Koestanto kembali divonis 4 (empat) tahun penjara oleh Majelis Jakarta Pusat dalam perkara penipuan  terhadap Old Peak Finance Limited senilai  Rp. 500 milyar. Secara berkelanjutan Herry Beng  Koestanto menjadikan UP OP   PT. BEP dan PT. Tunas Jaya Muda sebagai sarana penipuan sebesar Rp. 1 Triliun, membobol perbankan senilai  Rp. 1,2 Triliun, dan diduga bersama-sama mafia kepailitan  melakukan praktek pencucian uang sebesar Rp. 1,5 Triliun, dengan modus operandi penggelembungan piutang. Kemudian Herry Beng  Koestanto,  selaku  pemegang mayoritas saham PT. BEP dan PT. Tunas Jaya Muda   diduga sengaja mempailitkan diri atas  kedua perusahaannya, guna menghindari kewajiban pembayaran hutang, berkolaborasi dengan kelompok mafia pailit, yang berperan dari balik layar terjadinya aksi premanisme. 

Dalam tahun yang sama yakni 2011, Herry Beng  Koestanto berhasil pula membobol PT. Bank Bukopin yang sahamnya 8,9% milik pemerintah, sebesar  Rp. 330 milyar  dan Usd 23,33,33,00 atau setara Rp. 209,999 milyar, dengan menjaminkan Surat Keputusan Bupati Paser tentang Persetujuan Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi PT. Tunas Jaya Muda No: 545/18/Operasi Produksi/Ek/IX/2011, berikut  batubara yang belum tergali,  yang masih ada didalam perut bumi, dan diduga dalm hal ini terdapat pelanggaran pidana terhadap  UU Perbankan.

Tokoh pemuda Kaltim ini  mengkonstatir, perkara pailit  PT. BEP bermuara pada terjadinya  tindakan pidana  pencucian uang, dengan pidana pokok Tipikor dan illegal mining, merupakan kejahatan yang terorganisir, tergolong kerah putih (white collar crime), yang dilakukan criminal organization yang melibatkan banyak tokoh penting kroni Herry Beng Koestanto, terrmasuk pengusaha spesialis mafia kepailitan. Untuk menopang praktek pidana pencucian uang  yang dilakukannya Herry Beng  Koestanto membentuk banyak perusahaan yang secara silih berganti dijadikan pemegang saham dalam PT. BEP, yakni antara lain: PT. Permata Resources Bornoe Makmur, PT. Permata Resources Sejahtera, PT. Permata Investa Makmur,   PT. Permata Recources  Buana.

Berdasarkan investigasi lembaganya, kata Rokhman Wahyudi, SH  terdapat fakta penyebab PT. BEP dinyatakan sebagai perseroan terbatas dalam status pailit,  bukan hanya lantaran semata-mata tidak memenuhi persyaratan finansial dan telah terjadi kekeliruan dalam pengelolaan perseroan. Namun juga  karena  adanya itikad tidak baik, pemiliknya yang berstatus residivis pidana penipuan senilai   Rp. 1 Trilun, pelaku tindak pidana perbankan Bank Niaga sebesar Usd 70,000,000,- (tujuh puluh juta dollar Amerika Serikat), dengan menjaminkan Persetujuan  Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi Nomor: 540/688/IUP-OP/MB-OP/MB-PBAT/III/2020 dari Bupati Kutai Kartanegara IUP yang belum tergali. “Oleh karenanya terhadap   persero pailit dengan penyebab demikian itu, PT. BEP (keadaan pailit) tidak layak mendapatkan perlindungan hukum” ujarnya lagi.

Halaman:

Editor: anu

Tags

Terkini

DPR Pastikan Pencopotan Hakim Aswanto Sesuai Mekanisme

Senin, 28 November 2022 | 16:12 WIB

Polisi Amankan 15 Orang Terlibat Makar

Senin, 28 November 2022 | 12:02 WIB

Gempa Cianjur, Korban Meninggal Dunia 321 Orang

Senin, 28 November 2022 | 11:51 WIB
X