• Rabu, 28 September 2022

Pengamat Soal Aksi Teror, Pernyataan JK Bikin Gaduh dan Meresahkan

oni
- Rabu, 31 Maret 2021 | 11:12 WIB

Jakarta, HanTer - Sejumlah pengamat intelijen dan teroris menyayangkan perrnyataan mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla (JK) yang mencurigai adanya rencana teror serentak secara nasional. Hal tersebut dikatakan JK menyusul adanya penangkapan sejumlah orang yang diduga teroris oleh aparat keamanan. 

Seorang tokoh, kata pengamat Terorisme dan Intelijen dari The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya,  harusnya bijak dalam menyampaikan pernyataan sehingga tidak membuat resah. Sehingga tidak membuat gaduh dan ketakutan.

Menurutnya, pernyataan JK menambah gaduh suasana dan situasi di Indonesia. Karena saat ini Indonesia juga tengah dilanda pandemi Covid-19 yang tidak kunjung selesai. Akibatnya akan membuat situasi dan kondisi Indonesia semakin gaduh.

"Bikin nambah gaduh aja (perrnyataan JK). Harus tanya ke JK, itu sumbernya dari mana.  Kalau tau ya suruh cegah dong. Bukan malah bikin statemen nambah ruwet keadaan. Pandemi Covid-19 sudah meneror secara nasional," papar Harits kepada Harian Terbit, Selasa (30/3/2021).

Harits mengakui, saat potensi terorisme memang masih ada dan menghantui masyarakat Indonesia. Namun potensi terorisme tersebut tidak seseram dan menakutkan seperti yang disampaikan JK. Karena di Papua teror juga terus muncul dari OPM. Oleh karena itu harus adil ketika bicara teror tidak hanya menyudutkan agama tertentu saja.

Teror Masih Ada

Sementara itu, pengamat intelijen dan terorisme, Stanislaus Riyanta kepada Harian Terbit, Selasa (30/3/2021) mengemukakan, sebaiknya jika memang ada indikasi potensi teror serentak maka bisa dikoordinasikan dengan aparat keamanan terutama Densus 88 untuk dilakukan tindakan pencegahan secepatnya.

Stanislaus mengakui, potensi serangan teror secara serentak memang ada. Bahkan potensi teror di Indonesia masih kuat, tetapi jika bisa dilakukan antisipasi secara masif maka kemungkinan teror secara serentak bisa dicegah. Sehingga masyarakat umum juga tidak tidak dibuat resah dan ketakutan. Karena yang menjadi korban dari aksi terorisme adalah masyarakat juga.

"Ancaman terorisme di Indonesia masih cukup kuat. Jaringan kelompok JAD dan simpatisan JAD masih cukup banyak dan tersebar di Indonesia. Dan itu perlu diantisipasi," tegasnya.

Halaman:

Editor: oni

Tags

Terkini

Banyak Dikiritik, Program Kompor Listrik Dibatalkan

Rabu, 28 September 2022 | 09:25 WIB

DPR Desak KPK Jemput Paksa Lukas Enembe

Rabu, 28 September 2022 | 08:55 WIB
X