Revolusi Industri 4.0, 2019 Bakal Terjadi PHK Besar-besaran

Safari
Revolusi Industri 4.0, 2019 Bakal Terjadi PHK Besar-besaran

Jakarta, HanTer - Pengamat politik dari Lembaga Kajian dan Analisa Sosial (LeKAS) Karnali Faisal mengatakan, Revolusi Industri 4.0 menjadi tantangan bagi semua pihak baik pekerja, pemerintah maupun penyedia lapangan kerja. Digitalisasi industri akan menjadi fenomena yang tak terhindarkan sehingga penggunaan tenaga kerja akan semakin sedikit. 

Hal ini dikatakan Karnali menanggapi pernyataan dari Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal yang menyebut ada 1 juta karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam kurun 2015-2018.

"Itu (digitalisasi industri) yang dianggap akan memicu PHK besar-besaran," ujar Karnali kepada Harian Terbit, Kamis (27/12/2018).

Karnali menuturkan, faktor utama terjadi PHK besar-besaran karena tenaga kerja yang dibutuhkan menjadi jauh lebih sedikit. Perusahaan akan mempekerjakan lebih sedikit tenaga kerja yang berproses manual atau konvensional. Penggunaan Digitalisasi Industri juga menjadi tantangan bagi perusahaan-perusahaan. Karena sejauh mana industri-industri mampu mengalihkan tenaga kerja yang ada pada pekerjaan lain. 

"Selain itu sejauh mana pemerintah mengantisipasi perubahan-perubahan tersebut," jelasnya.

Perusahaan China

Presiden KSPI Said Iqbal menyebut, total karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam kurun 2015-2018 mencapai hampir 1 juta orang. Gelombang PHK itu akan mulai menerjang Indonesia di tahun 2019 disebabkan oleh revolusi industri 4.0. Meski dinilai revolusi industri 4.0 baru akan berdampak pada tahun 2020, tetapi efeknya mulai terasa pada tahun depan. Pasalnya Indonesia belum memiliki kesiapan menyambut perubahan tersebut untuk melindungi tenaga kerja.

"Tahun 2019 revolusi industri 4.0, pemerintah tidak siap dari sisi regulasi mau pun proteksi untuk para pekerja dan dunia usaha," ujar Iqbal saat konferensi pers evaluasi kinerja ketenagakerjaan, Rabu (26/12/2018).

Said menyebut, beberapa perusahaan yang merumahkan karyawannya antara lain, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, PT Holcim Indonesia Tbk, dan PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk. Sektor semen dan baja tak cukup kuat untuk berkompetisi dengan perusahaan asal China, sehingga beberapa pabrik ditutup. Baja dan semen asal negara China membuat penjualan perusahaan dalam negeri merosot.

"Krakatau Steel di Cilegon banyak melakukan PHK terhadap karyawan kontrak karena masuknya pabrik baja China, industri baja di Indonesia kalah karena harga baja China lebih murah," ungkap Said, Rabu (26/12/2018).

Sementara itu, harga jual semen hasil olahan pabrik China juga dibanderol dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan semen milik Holcim dan Indocement. Akibatnya, perusahaan tak bisa mempertahankan beberapa pabrik miliknya. Kemudian, beberapa pabrik milik PT Smelting Gresik juga telah ditutup sepanjang tahun ini. Namun, Said mengaku masih mengumpulkan data terkait penutupan pabrik tersebut dan jumlah karyawan yang terkena PHK.

"Beberapa pabrik PT Smelting Gresik di Bekasi sama Tangerang itu hampir ratusan ribu karyawan," terang Said.

Tak hanya itu, penutupan pabrik dari perusahaan elektronik seperti Toshiba dan Panasonic juga menyebabkan karyawannya kehilangan pekerjaan. Belum lagi, penutupan toko ritel Giant juga menambah jumlah karyawan yang dirumahkan tahun ini.

"Bisa lihat kalau ditotal mungkin ada 19 cabang Giant tutup misalnya di Lampung, Medan, dan lain-lain," paparnya.

Sebelumnya terdapat sejumlah gelombang PHK di Indonesia. Tahun 2015, Iqbal bilang terdapat PHK skala besar dari industri garmen, tekstil, dan makanan dan minuman yang mencapai sekitar 75.000 orang.

Gelombang tersebut berlanjut pada tahun 2016 dengan total pegawai terdampak PHk mencapai ratusan ribu dari sektor industri elektronik, otomotif, dan komponen. Sementara periode tahun 2016-2017 gelombang PHK menghempaskan industri ritel, keramik, pertambangan, dan farmasi.

Tahun 2018 pun terdapat PHK yang menyerang pekerja sektor garmen, tekstil, dan baja."Tahun 2019 Akan terjadi gelombang PHK kelima," terang Iqbal.

#Buruh   #PHK   #Pabrik