Giliran RW 14 digeruduk Calon Pedagang Pluit Culinary Park

Eka
Giliran RW 14 digeruduk Calon Pedagang Pluit Culinary Park
Protes calon pedagang Pluit Culinary Park dengan RW 15 Penjaringan, Jakarta Utara.

Jakarta, HanTer - Setelah menggeruduk RW 12 Penjaringan, Calon Pedagang Pluit Culinary Park berganti mendatangi Ketua RW 14 Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu, (15/12/2018) kemarin.

Kedatangan kelompok masyarakat UMKM yang berjumlah sekitar 30 orang itu dipimpin langsung Purwanto. Mereka menggeruduk tempat usaha milik Ketua RW 14, Riky, yakni Rumah Makan Bakmi Abadi di Jalan Pluit Karang Timur, Muara Karang, Jakarta Utara.

Tentu saja kedatangan kelompok UMKM ini cukup mengejutkan pihak pengelola Rumah Makan Mie Abadi. Bahkan sempat terjadi adu mulut antara pengunjung Rumah Makan dengan pihak UMKM.

Pengunjung rumah makan merasa terganggu dengan kehadiran calon pedagang Kuliner tersebut. Namun suasana itu tidak berlangsung lama dan ketua RW 14 mengajak dialog warga UMKM diluar Restoran.

Saat dialog, Purwanto mempertanyakan kewenangan ketua RW 12 dan RW 14 yang menghentikan proyek pembangunan Pluit Culinary Park (PCP). "Tidak bisa seorang RW menghentikan proyek yang sudah mendapat izin. Dan wewenang anda apa?," tanya Purwanto.

Menurut dia, proyek pembangunan Pluit Culinary Park milik Jakpro tersebut sudah mendapat izin IMB jadi tidak perlu diperdebatkan. "Terus terang dengan bapak menghentikan pembangunan ini secara sepihak kami merasa terganggu, kok Seorang ketua RW bisa menghentikan pembangunan proyek ini," sambungnya.

Dalam kesempatan itu, Riky, Ketua RW 14 membantah telah melakukan tindakan penghentian pembangunan proyek Pluit Culinary tersebut.

"Tidak ada, kami setuju saja agar pengelolaan perparkiran berjalan baik dan tidak semerawut," kata Riky. "Loh kalau gitu anggota dewan bersama RW 12 dan 14 sidak ke lokasi atas inisiatif siapa? Atau kurang kerjaan," timpal salah satu peserta UMKM.

Dijelaskan lagi oleh Purwanto, pembangunan PCP diatas lahan 2,5 hektar ini juga mendapat dukungan warga sekitar. "Baru dimulai sudah ada ketua RW yang selalu mengatasnamakan Warga. Entah warga mana yang kalian maksud?," katanya.

Senada diungkapkan Hasyim Ketua pakuyuban pemulung yang pernah berbisnis sebelumnya di lokasi tersebut. Berbicara karena alasan warga, ia yakin pendapat warga tidak sejalan dengan apa yang dilontarkan Riky selaku Ketua RW 14.

"Warga disini antusias mendukung yang justru merasa terganggu oleh kesemerawutan akibat kewenangan RW yang merasa paling berkuasa dan bisa diatur pelanggarannya dengan biaya pungli. Contoh untuk pemasangan kanofi sampai kedepan jalan saja kena 20 juta, belum lagi biaya bulanan," tutur dia.

"Ini bangun aja belum sudah banyak ngoceh. Kalau Anda mau lihat gambar, ada di kantor kecamatan. Lagi pula masalah perparkiran semerawut justru saat ini lebih semerawut. Coba lihat kaki lima ini bapak buat dapur. Semua got di cor habis dan kanopi dibangun sampai pinggir jalan, mobil mau di parkir di mana? Apakah ini tidak melanggar," cetusnya.

Riky selaku Ketua RW 14 tidak menampik tudingan adanya pelanggaran yang dilakukannya. Bahkan ia mengakui kesalahan tersebut. "Ya saya akui itu," jawab Riky.

Perwakilan UMKM lainnya juga mempertanyakan tentang beredarnya foto kegiatan proyek pembangunan PCP di kalangan anggota DPRD DKI. Ada dugaan pemotretan itu dilakukan atas perintah Ketua RW 12.

"Kegiatan kami ini legal yang acara syukuran dimulainya pembangunan dan pemotongan tumpeng saja oleh pak Camat dan Lurah. Sebaiknya ketua RW 12 dan 14 mengakui perbuatannya agar tidak menjadi polemik dan bumerang buat ketua RW," papar Purwanto.

Ia mengharapkan Ketua RW 12 dan 14 tidak perlu arogan dan tak mengadu domba antara anggota dewan (DPRD), dengan Jakpro (pengembang) dan calon pedagang PCP. "Kalau anda tidak menciptakan suasana kondusif maka kami juga akan lebih tidak kondusif," tegas Purwanto.

#Sidak   #DPRD   #DKI   #Kuliner   #KarangIndah   #Pluit   #JPS   #Kantor   #RW14   #Geruduk   #