Pasca Penangkapan Hercules Dkk, Bersihkan Jakarta dari Preman-preman Sadis dan Brutal

Harian Terbit/Sammy
Pasca Penangkapan Hercules Dkk, Bersihkan Jakarta dari Preman-preman Sadis dan Brutal
Polisi menangkap Hercules

Jakarta, Hanter - Aksi premanisme di Ibukota semakin marak dan mengerikan. Dalam beberapa bulan terakhir kepolisian berhasil mengungkap puluhan aksi premanisme dan menangkap puluhan pelakunya. Teranyar penangkapan Hercules dan 23 anak buahnya di Jakarta Barat. Publik mengapresiasi gerak cepat pihak kepolisian memberantas premanisme di Jakarta yang bertindak sadis.

Sebelumnya polisi  berhasil mengamankan sejumlah preman berkedok sekuriti di Tanah Abang dan Cengkareng dalam kasus pungli dan pemerasan uang. Juga ditangkapnya sejumlah calo tiket di Gelora Bung  Karno. 

Tak hanya itu, aparat gabungan Polsek Tambora dan Polsek Metro Taman Sari Polres Metro Jakarta Barat berhasil menjaring enam orang di wilayah Tambora dan perbatasan Taman Sari dalam operasi preman. Operasi tersebut dilakukan di tengah pemukiman padat penduduk , yang disinyalir menjadi daerah kantong kriminalitas seperti premanisme, pencurian dan kekerasan, serta begal, katanya.
 
Diberantas

Terkait aksi premanisme ini, Wali Kota Jakarta Barat Rustam Effendi menegaskan segala bentuk premanisme yang meresahkan warga tidak boleh diberikan ruang gerak bebas, terutama untuk preman yang beraksi menduduki lahan.

"Saya sudah instruksi kepada para camat dan lurah untuk berkoordinasi dengan kepolisian, untuk berantas preman sampai ke permukiman. Jangan dikasih ruang preman yang meresahkan warga," ujar Rustam di Jakarta, Jumat (23/11/2018).

Rustam mengatakan Pemerintah Kota Jakarta Barat bekerjasama dengan sejumlah pihak dengan tegas berkomitmen untuk memberantas aksi premanisme tanpa pandang bulu. "Kita harus tegas dan tidak ada toleransi memberantas pelanggaran hukum termasuk premanisme," tegas Rustam.

Sebelumnya, polisi menangkap tokoh pemuda Hercules di Kompleks Kebon Jeruk Indah Blok E 12 A Kembangan Jakarta Barat, karena diduga terkait dengan aksi 23 preman yang menguasai lahan bersertifikat dan melakukan intimidasi terhadap pemilik lahan di Kalideres Jakarta Barat pada Selasa (6/11). 

Orde Baru

Pengamat sosial Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, menilai aksi premanisme yang muncul, di antaranya kasus Hercules yang menduduki suatu lahan, merupakan buah dari kebebasan yang dirasakan masyarakat selepas masa Orde Baru.

"Ini dikarenakan runtuhnya Orde Baru karena selepas Orde Baru masa reformasi menjadi "masa bulan madu" bagi semua organisasi. Sebab di masa kepemimpinan Orde Baru tidak memberikan kesempatan masyarakat untuk tumbuh dan berkembang," ujar Rahmawati, di Jakarta, Jumat, seperti dilansir Antara.

Selain itu, di era setelah reformasi ketika kekerasan itu terjadi, kekerasan antar warga terjadi karena para elit pada masa reformasi sibuk dengan kepentingan politik masing-masing sehingga tidak ada lagi yang "berkuasa". "Justru penguasa itu sebenarnya yang mencegah premanisme atau kekerasan berbasis masyarajkat lainnya," katanya.

Ia menjelaskan, selepas masa Orde Baru, sebenarnya bukan hanya orang seperti Hercules yang muncul, namun perebutan lahan terjadi karena sebagai cara masyarakat untuk bertahan hidup mencari keadilan di saat para elit sibuk dengan kepentingan sendiri.

Banyaknya kasus pemekaran setelah reformasi memicu konflik horizontal antar masyarakat karena persoalan lahan. Ironisnya, hal seperti itu menjadi sebuah "tren" yang mengikuti garis perubahan politik di Indonesia.