Kasus Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi

Haris Dimaki Ratusan Tetangga Korban, “Hukum Mati Pembunuh Sadis Itu, Jangan Dikasih Ampun”

Harian Terbit/Danial
Haris Dimaki Ratusan Tetangga Korban, “Hukum Mati Pembunuh Sadis Itu, Jangan Dikasih Ampun”
Rekonstruksi pembunuhan satu keluarga di Bekasi (ist)

"Hukum mati saja pak, jangan kasih ampun pembunuh sadis seperti itu," teriak salah satu warga di lokasi rekonstruksi pembunuhan di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondokmelati, Kota Bekasi, Rabu (21/11/2018).

Saat rekonstruksi digelar, tersangka pembunuh keluarga Diperum Nainggolan, Haris Simamora (30), disambut hujatan sejumlah tetangga dan keluarga korban.

Makian dari ratusan warga di sekitar TKP tidak direspon oleh tersangka HS yang saat itu mengenakan pakaian tahanan Polda Metro Jaya berwarna oranye dengan posisi tangan diborgol dan wajah yang tertutup masker hitam.

Sepupu korban itu berlalu mengacuhkan teriakan warga dan berjalan menuju rumah kontrakan untuk menjalani sekitar 37 adegan rekonstruksi kasus pembunuhan Diperum dan keluarga.

Proses rekonstruksi kasus pembunuhan itu dipimpin langsung oleh Kapolrestro Bekasi Kota Kombes Pol Indarto.

Selain melakukan rekonstruksi di rumah kontrakan korban, polisi juga akan menuju ke sejumlah lokasi lainnya, yakni di Cikarang Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Garut.

Adapun tujuan dari kegiatan rekonstruksi ini untuk memperagakan bagaimana tersangka HS melakukan pembunuhan dan menguji kebenaran logika hukum peristiwa yang terjadi.

Haris Simamora menghabisi satu keluarga yakni Diperum Nainggolan (38) suami, Maya Boru Ambarita (37) istri, Sarah Boru Nainggolan (9) anak pertama, dan Arya Nainggolan (7) anak kedua.

Motif Uang

Terpisah, Penyidik Polres Metro Jakarta Selatan menyebutkan pembunuhan terhadap CIP (20) yang jasadnya ditemukan dalam lemari diduga bermotifkan uang titipan dari pelanggan tempat hiburan malam.

Kapolres Metro Jakarta Selatan Komisaris Besar Polisi Indra Jafar di Jakarta, Rabu, menyatakan salah satu pelanggan karaoke menitipkan uang tip untuk pelaku NR melalui CIP namun pelaku tidak menerima uang sesuai nominal yang diberikan tamu tersebut.

"Kemudian uang tersebut ketika diminta oleh salah satu pelaku tidak utuh lagi sehingga terjadi ketersinggungan cek-cok pada saat itu terjadilah kejadiaan (pembunuhan) itu," ungkap Indra.

Diungkapkan Indra, korban CIP (20) telah bekerja tiga tahun sebagai pemandu lagu pada Karaoke "The Palace" kawasan Gatot Subroto Jakarta Selatan sedangkan NR baru sepekan bekerja di tempat yang sama.

"Ya, mereka berteman bekerja di tempat yang sama dan mereka saling mengenal tetapi untuk lebih jauh kita akan analisa dan juga hasil laboratorium pun juga belum ada," kata Indra.

Indra mengungkapkan NR diamankan bersama seorang pria berinisial YP yang diduga turut terlibat pembunuhan terhadap CIP.

Pada Selasa (20/11) siang, anggota Polda Jambi membantu penangkapan YP dan NR saat berusaha melarikan diri usai membunuh CIP di wilayah Merangin Jambi.