Berbagai Fakta dan Mitos Seputar Virus Covid-19, Masyarakat Diminta untuk Selalu Waspada

Sammy
Berbagai Fakta dan Mitos Seputar Virus Covid-19, Masyarakat Diminta untuk Selalu Waspada
Ilustrasi

SEJAK kemunculannya pada Desember 2019, virus Corona (Covid-19) terbukti dapat menyerang siapapun. Namun, tak jarang di tengah wabah pandemi ini, banyak beredar berbagai informasi perihal virus Corona yang bukan fakta, melainkan mitos. Perbedaan fakta dengan mitos ini termasuk dalam mendeteksi dan mencegah wabah tersebut. 

Misalnya, fakta bahwa virus ini menyebabkan gejala mulai dari yang ringan hingga sangat parah. Beberapa orang lebih mungkin menderita penyakit parah daripada yang lain, karena mereka memiliki karakteristik atau kondisi medis yang meningkatkan risikonya. 

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyastuti, mengatakan, virus Covid-19 dapat menginfeksi siapapun di segala usia. Terlebih, risiko penularan lebih tinggi terjadi pada orang lansia dan orang yang memiliki riwayat penyakit kronis. 

"Seperti asma, diabetes, dan gangguan jantung," katanya di Jakarta, Selasa (27/10/2020). 

Ia melanjutkan, virus Covid-19 dapat menyebar dan menginfeksi dalam segala cuaca, baik di daerah dingin maupun panas. 

"Cuaca dingin tidak membunuh virus Covid-19. Kecuali dengan cara mencuci tangan dengan sabun atau dengan hand sanitizer," terang dia. 

Tak hanya kondisi dingin yang tak berpengaruh terhadap pencegahan virus, kondisi sebaliknya pun demikian. Dalam kondisi panas ataupun mandi dengan air panas pun tidak dapat mencegah penularan Covid-19. 

Selain itu, kata Widyastuti, virus baru Covid-19 ini tidak dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk atau serangga. Bahkan, virus Covid-19 tidak bisa dibunuh dengan alat pengering tangan maupun lampu sinar UV. 

"Lampu UV sebaiknya tidak dipakai untuk mensterilkan tangan atau area kulit lainnya. Dikarenakan radiasi UV dapat menyebabkan iritasi kulit," ungkapnya. 

Ia menjelaskan, pemindai termal efektif dalam mendeteksi orang yang menderita demam, berupa suhu tubuh yang lebih tinggi daripada normal karena infeksi virus Corona. 

"Penggunaan thermal gun atau termometer inframerah efektif dalam mendeteksi suspek Covid-19 dengan gejala demam," terang Widyastuti. 

Ia juga menjelaskan, vaksin pencegah pneumonia, seperti vaksin Hib atau vaksin pneumokokus, tidak dapat melindungi dari risiko Covid-19. 

"Vaksin terhadap pneumonia, seperti vaksin pneumokokus dan vaksin Haemophilus influenza tipe B (Hib), tidak memberikan perlindungan terhadap virus Corona. Karena virus ini sangat baru dan berbeda, sehingga membutuhkan vaksin sendiri," ungkapnya. 

Widyastuti menerangkan pula, mengonsumsi bawang putih atau zat antimikroba tidak terbukti dapat mencegah penularan Covid-19. Hal serupa pun berlaku terhadap obat semprot hidung yang tidak dapat mencegah infeksi virus Covid-19. 

Sementara itu, konsumsi obat antibiotik tidak dapat mencegah ataupun mengobati Covid-19. Antibiotik hanya bekerja efektif dalam melawan bakteri, bukan virus. 

"Corona adalah virus, sehingga antibiotik tidak boleh digunakan sebagai sarana pencegahan atau pengobatan," ujarnya. 

Hingga kini, tidak ada obat khusus yang disarankan untuk mencegah atau mengobati virus Covid-19. Saat ini, menurutnya, gerakan 3 M merupakan langkah terbaik dalam menghindari penularan Covid-19. 

"3 M: Memakai masker dengan benar, Menjaga jarak 1 hingga 2 meter, serta Mencuci tangan dengan sabun sesering mungkin," ujarnya. 

Di sisi lain, mereka yang terinfeksi virus harus dirawat dengan tepat untuk meredakan dan mengobati gejala. 

"Dan mereka yang sakit parah harus mendapatkan perawatan suportif yang optimal," ungkap dia.

Selalu Waspada 

Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Pandu Riono, mengimbau masyarakat agar selalu waspada pada masa pandemi Covid-19 ini. Dia meminta masyarakat agar selalu mengevaluasi setiap respons terkait penanganan virus Corona, guna menekan penyebaran penularan COVID-19. 

"Sebenarnya kita harus waspada. Kita tidak boleh lengah dan tidak boleh main-main sama virus ini," ungkapnya di Jakarta, Selasa (27/10/2020). 

Ia mengatakan, dalam merespons pandemi ini, kita harus benar-benar bersikap serius. Setiap langkah dari yang detail harus diperhatikan, hingga langkah-langkah besar juga harus dievaluasi ulang. 

"Dalam perjalanan respons pandemi ini kita harus selalu mengevaluasi dan memperbaiki kekurangan, sehingga jauh lebih efektif dan berdampak menekan penularan," ujar Pandu. 

Ia juga mengingatkan, selain mencuci tangan dan menjaga jarak, ventilasi yang baik juga harus diperhatikan. Karena, lanjut Pandu, penyebaran virus Covid-19 justru lebih tinggi risikonya di ruangan tertutup yang bersirkulasi buruk. 

Rumah yang berventilasi buruk, misalnya, berisiko menjadi tempat penularan Covid-19. 

"Kalau droplets itu bisa langsung jatuh ke lantai. Ini yang dikhawatirkan akan meningkatkan risiko penularan. Dan itu dimungkinkan kalau di dalam ruangan yang sirkulasinya atau ventilasinya buruk," kata dia. (Sammy)