Agar Tidak Ngaco, DPRD DKI Disarankan Bimtek Ulang

Anugrah
Agar Tidak Ngaco, DPRD DKI Disarankan Bimtek Ulang
Politisi senior NasDem DKI Jakarta, Bestari Barus

Jakarta, HanTer - DPRD DKI Jakarta sering salah data. Bahkan, para politisi Kebon Sirih itu terkesan lupa apa tugas dan fungsinya.

Jika mengkritik salah data tentunya membuat malu. Politisi senior NasDem DKI Jakarta, Bestari Barus mempertanyakan kualitas sebagian anggota dewan dalam menetapkan kriteria penilaian kinerja eksekutif dan mengawal pembangunan dengan benar. 

Diketahui, beberapa fraksi menuding kinerja Anies dalam memimpin Jakarta selama tiga tahun kurang ciamik.

"Kritik dan saran dari DPRD banyak yang tidak berdasar pada rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD)," ungkapnya kepada wartawan, Sabtu (17/10) malam.

Bastari meminta kepada DPRD kembali melakukan Bimbingan Teknis (Bimtek) ulang. "Ini agar para dewan mampu memberikan masukan, pengawasan dan menjalankan fungsi penganggaran sesuai dengan RPJMD yang sudah ditetapkan," ungkapnya. 

Mantan Ketua Fraksi Nasdem DPRD DKI Jakarta ini menuding saat ini banyak dewan yang terkesan melakukan kritik hanya berdasarkan keinginan hati pribadinya saja.

"Misalnya soal COVID-19 saat muncul PSBB ketat. Banyak kritik dewan hanya asumsi dan kondisi perasaannya saja. Kebijakan PSBB ketat oleh Anies sudah berdasarkan analisa medis dan data yang berkembang dengan mempertimbangkan hidup masyarakat," terangnya. 

"Secara umum kita tidak bisa menjadikan tiga tahun pemerintahan ini menjadi ukuran penilaian karena pembangunan itu berkelanjutan. Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK menandakan pengelolaan keuangan era Anies baik. Gubernur sebelumnya (Ahok-red) gak ada," beber Bastari..

Sementara politisi senior Golkar Jakarta, Ashraf Ali menilai, dalam konteks kinerja Anies Baswedan sudah mulai terlihat.

"Sebenarnya kinerja Anies sudah mulai terlihat. Soal banjir, Anies sudah melakukan gerakan nyata dan buktinya titik banjir Jakarta sudah berkurang," tegas politisi senior Golkar Jakarta, Ashraf Ali terkait tiga tahun kepemimpinan Anies Baswedan kepada wartawan, Minggu (18/10).

Banjir kata Ashraf memang sulit diatasi selagi tidak ada pembenahan di kota penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Bodetabek). "Kalau banjir kiriman kan sulit ditolak, namanya juga dikirim. Solusinya adalah Bodetabek dibenahi," ucapnya.

Kata dia, Anies itu latar belakangnya intelektual. Jadi gayanya membangun itu berdasarkan konsep lalu kerja dan bergerak. "Sebenarnya kinerja Anies sudah terlihat. Banjir titik berkurang dan ini hasil dari pengerukan kali yang secara masif," terangnya. 

Ashraf menyebut soal pelebaran trotoar di Cikini dan kawasan Sudirman-Thamrin. "Manfaatnya kini sudah dipakai pejalan kaki. Cara ini untuk memaksa orang jalan kaki. Bisa cek kalau pagi dan sore orang kantoran banyak yang jalan kaki," ungkap mantan Ketua Fraksi Golkar DPRD DKI ini. 


Wakil Ketua Golkar DKI Jakarta ini melanjutkan, Anies juga sudah berbuat untuk melakukan pembenahan transportasi publik. "Dia juga menyelesaikan MRT dan membenahi Busway. Dan ada Jak Linko yang sangat membantu masyarakat, sopir dan pengusaha angkutan," bebernya.

Walau sudah bekerja tapi lanjut Ashraf ada juga kekurangan misalnya soal koperasi untuk menopang ekonomi masyarakat kelas bawah. "Koperasi penting untuk mendongkrak ekonomi rakyat bawah. Dan pembinaan UMKM yang belum masif ke tingkat RT/RW," terangnya.

Jadi kata Ashraf, kepemimpinan Anies dalam tiga tahun ini sudah terlihat. "Tapi memang belum sempurna, karena ditambah lagi soal adanya Corona. Kita tunggu saja sampai lima tahun apa hasilnya," tukasnya.