Luncurkan Buku Autobiografi,  Syarif Berharap Dirinya Dapat Berarti Bagi Banyak Orang

Sammy
Luncurkan Buku Autobiografi,  Syarif Berharap Dirinya Dapat Berarti Bagi Banyak Orang
Gubernur DKI Anies Baswedan dalam acara meluncurkan buku autobiografi Anggota Fraksi Gerindra DPRD DKI Jakarta Syarif

Jakarta, HanTer - Anggota Fraksi Gerindra DPRD DKI Jakarta Syarif meluncurkan buku Autobiografi dirinya di Hotel Aryaduta, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (14/10/2020).

Dalam acara tersebut, hadir Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Gerindra Mohamad Taufik dan beberapa aktivis Jakarta.

Dalam sambutannya, Syarif mengaku banyak pihak yang bertanya soal judul bukunya, yaitu ‘Tangis Tawa Senyum Catatan Aktivis Tanpa Angkatan’. Syarif berharap, dirinya dapat berarti bagi banyak orang, terlebih kiprahnya sebagai wakil rakyat di DPRD Provinsi DKI Jakarta.

"Buku ini judulnya banyak orang bertanya, maksudnya apa. Sebenarnya gak sengaja buat judul ini. Samua dimulai dengan filosofi hidup saya, semua manusia pernah menangis, setidaknya waktu terlahir di dunia. Saat itu orang tua dan orang-orang sekitar saya khususnya keluarga tertawa senang menyambut kelahiran saya. Nah, di akhir hayat saya ingin terbalik, orang lain menangis dan saya tersenyum. Setelah menjalani kehidupan ini orang-orang tersenyum saat mengenang saya," kata Syarif.

"Dalam konteks politik saya, tangisan rakyat harus menjadi dasar setiap kebijakan politik saya bersama partai Gerindra," sambungnya.

Selain itu, Syarif mengaku, ia tidak ingin memiliki beban sejarah seperti halnya aktivis tahun 1998 lalu, yang kini banyak mengemban amanah sebagai pejabat negara.

"Saya tidak ingin menjadi beban sejarah. Saya bukan angkatan 1998, angkatan 1990 juga bukan dan angkatan 1995 juga bukan," kata Syarif.

"Ketika lulus tahun 1996, saya masih demo supaya menyalurkan aspirasi. Jadi saya tidak ingin menanggung beban sejarah yang saat ini pentolan-pentolan aktivis 1998 menjadi pejabat, karena itu saya ingin menyebut diri saya sebagai aktivis tanpa angkatan," tambahnya.

Syarif mengatakan, buku yang dia tulis ini juga mengulas soal perjalanan politiknya selama menjadi anggota Parlemen di Kebon Sirih, Jakarta Pusat sejak 2014 lalu. Terutama mengenai kebijakan gubernur saat itu, yakni Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Bagi pihak yang merasa keberatan dengan tulisan buku itu, Syarif pun membuka ruang untuk berdiskusi. Dia tak mempersoalkan, bila ada pihak yang ingin membantah pengalaman hidupnya selama menjadi anggota DPRD DKI dan mengawal kebijakan Pemprov DKI Jakarta.

"Apa yang saya ceritakan dalam buku ini adalah pengalaman, karena itu kemudian bila ada yang keberatan dengan tulisan saya. Silakan dibantah," tegasnya.

"Saya pikir semua orang yang hadir di sini pernah ketawa, tersenyum dan menangis juga. Namun konteks politik yang saya ceritakan dalam buku itu memang adalah tangisan saya dalam menghadapi kebijakan pemerintah, terutama sahabat saya Gubernur DKI Jakarta saat itu Basuki Tjahaja Purnama," kenang Syarif.

Dia mengatakan, seharusnya Ahok turut hadir dalam acara itu untuk memberikan sambutan. Namun karena berhalangan hadir, dia akhirnya menitipkan salam kepada para tamu undangam, terutama kepada Anies.

"Harusnya sahabat kita itu hadir, tapi karena berhalangan jadi dia nggak hadir dan menitipkan salam untuk pak Anies dari Ahok," tambah pria yang juga menjadi Sekretaris Komisi D DPRD DKI Jakarta ini.

Dalam kesempatan itu Syarif juga mengenang beberapa kebijakan Ahok yang membuatnya ‘menangis’ hingga menimbulkan kritik dari berbagai pihak. Salah satu kebijakan yang paling dia ingat adalah rencana Ahok untuk membubarkan angkatan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di tubuh Pemprov DKI Jakarta.

Kebijakan itu membuat sejumlah aparatur sipil negara (ASN) jebolan IPDN yang mengeluh, hingga mendatangi ruang kerjanya.

"Menurut saya, kebijakan Ahok itu istilahnya kebijakan bangun tidur. Jadi, setelah bangun tidur langsung bikim kebijakan, sehingga banyak orang yang tersakiti," ungkapnya.

Apresiasi

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswesdan yang hadir dalam acara tersebut, mengapresiasi buku autobiografi yang dibuat Syarif. Kata dia, banyak kisah yang selama ini tidak terungkap masyarakat, namun dengan buku ini masyarakat dapat menjadi tahu.

"Perjalanan pak Syarif luar biasa. Tulisan ini yang namanya autobiografi, usia 50 separuh jalan. Saya ketika tahu pak Syarif bikin autobiografi, biasanya orang yang banyak masa lalunya menulis biografi. Pak Syarif banyak masa depannya, tapi menulis biografi," kata Anies berseloroh.

"Banyak sekali kejadian-kejadjan yang tidak diketahui publik. Tapi bagi kita semua, penulisan buku perjalanan aktivis pak Syarif ini, dapat diambil pelajaran pengalaman, khususnya inspirasi generasi mudah. Bahwa politisi tidak saja sibuk mendatangi warga saat mau merebut kursi di pemilu, tetapi bagaimana membantu menyelesaikan warga setelah mendapatkan kursi," pungkas Anies.