Untuk Selamatkan Warga DKI dari Corona

Jakarta Perlu Memberlakukan Lockdown

Sammy
Jakarta Perlu Memberlakukan Lockdown
Ilustrasi Jakarta Lockdown

Jakarta, HanTer - Angka pasien positif Covid-19 di Ibu Kota Jakarta kian meningkat. Berbagai kalangan menyerukan agar pemerintah segera menetapkan langkah penutupan pergerakan manusia dari dan menuju Ibu Kota.

Pengamat sosial politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, menyarankan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memberlakukan karantina wilayah atau lockdown terkait wabah virus corona (Covid-19).

"Jakarta perlu memberlakukan lockdown, lokal Jakarta saja. Ini sudah membahayakan nasib 10 juta warga Jakarta dan 250 juta rakyat Indonesia lainnya," kata Ubedilah di Jakarta, Jumat (27/3/2020).

Ia mengatakan, lockdown merupakan langkah yang tepat untuk menghentikan penyebaran virus corona yang kian memprihatinkan.

"Argumennya sudah jelas pergerakan penularan dan penyebaran Covid-19 lebih cepat dari kemampuan pemerintah mendeteksi setiap warga yang terkena gejala awal," tuturnya.

Menurut dia, kebijakan social distancing dan rapid test tidak cukup dilakukan oleh pemerintah dalam mengantisipasi penyebaran vitus corona. Kemudian, kebijakan tersebut dinilai belum bisa dilaksanakan secara maksimal.

"Kebijakan social distancing dan rapid test itu berhasil cepat di negara yang tingkat rasionalitas masyarakatnya tinggi. Mereka memiliki argumen kuat secara sadar menjalankan perintah untuk lakukan social distancing," terangnya.

"Tetapi di negara yang rata-rata tingkat pendidikannya masih rendah memerlukan waktu yang lama. Maka lockdown adalah cara terbaik untuk negara yang terkena Covid-19 dengan tingkat penyebaran yang luas tetapi tingkat rasionalitas kesadarannya masih rendah," tandasnya.

Butuh Rp3-5 Triliun

Disisi lain, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, diminta segera memutuskan lockdown Jakarta selama 14 hari ke depan. Hal ini perlu dilakukan guna meredam penyebaran COVID-19 atau virus korona semakin meluas sehingga masyarakat terselamatkan.

"Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Solus Populi Suprema Lex Esto. Pak Gubernur harus segera lockdown Jakarta selama 14 hari saja, dan siapkan formula penanganan warga terdampak lockdown," ujar Ketua Komisi A DPRD DKI Jakarta, Mujiyono, di Jakarta, Jumat (27/3/2020).

Dari perhitungannya, Pemprov DKI Jakarta hanya perlu mengalokasikan anggaran sebesar Rp3-5 Triliun untuk menutup kebutuhan warga terdampak. Alokasi itu bisa diambil dari anggaran kegiatan yang tidak prioritas pada APBD DKI 2020.

"Asupan energi sesuai standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) dari Kementerian Kesehatan RI (bila mengambil patokan 2150 kkal). Dengan kata lain, warga mengeluarkan minimal Rp33.000 per hari untuk makan. Kalau semua warga Jakarta ditanggung selama 14 hari, hitungan saya hanya butuh Rp5 triliun," katanya.

Menurutnya, Anies tidak perlu takut dengan sanksi politik dari pemerintah pusat karena Gubernur DKI Jakarta dipilih secara langsung oleh warga Jakarta bukan ditunjuk Presiden. Namun, Anies perlu merumuskan formula lockdown yang bisa diterapkan di Jakarta.

"Selama 14 hari lockdown itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus bisa menjamin kebutuhan warganya. Misalnya dengan mendistribusikan bahan pangan langsung ke setiap rumah seperti yang dilakukan Filipina, tapi warga wajib berdiam diri di rumah," ungkapnya.

Dia meyakini, stok pangan di Jakarta bisa mencukupi hingga usai Hari Raya Idul Fitri. Bahan pangan itu diusulkan dibagikan gratis oleh pemerintah selama masa lockdown itu. Dia mendorong agar Anies punya sikap tegas demi keselamatan warganya.

"Urusan populis atau tidak populis itu tabrak saja dulu. Karena keselamatan warga Jakarta ini nomor satu. Pemerintah harus memperketat pengawasan untuk memeriksa akses keluar-masuk Jakarta, sebagai upaya pemerintah menghentikan penyebaran wabah ke daerah lainnya," ungkapnya.

Namun, dia tidak menyetujui jika penanganan warga terdampak dibantu dengan dana bantuan langsung tunai atau BLT. Menurutnya, pemberian dana bantuan tunai rawan dikorupsi oleh pihak yang mengambil kesempatan dalam musibah.

Diketahui, Hingga Kamis (26/3/2020), pasien positif korona mencapai 495 orang. Lalu yang sudah dinyatakan sembuh ada 29 orang, dan meninggal dunia sebanyak 48 orang. Bahkan, Jakarta telah ditetapkan sebagai epicentrum Covid-19 di Indonesia.