Penyidik Jatanras Polda Metro Jaya Bekuk Sindikat Mafia Tanah di Cakung

Danial
Penyidik Jatanras Polda Metro Jaya Bekuk Sindikat Mafia Tanah di Cakung
Tersangka penipu modus jual-beli tanah, yakni Mardani.

Jakarta, HanTer - Penyidik Jatanras Polda Metro Jaya membekuk tersangka penipu modus jual-beli tanah, yakni Mardani. Mardani diduga menilap uang sebesar 64 juta milik seorang pengusaha.

Kasus bermula saat seorang pengusaha, yakni Suherman tengah mencari lahan kosong untuk dibeli. Setelah melakukan survei ditemukanlah lahan kosong seluas 6 hektar di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Setelah melakukan berkali-kali kunjungan ke lokasi, banyak informasi dari warga sekitar bahwa pemilik lahan tersebut adalah Mardani.

“Itu hasil survei lapangan, orang-orang sekitar saya tanyain, termasuk orang yang garap tanah itu,” ujar Suherman atau calon pembeli di Jakarta, Rabu (18/3/2020).

Setelah mendapatkan nomor Mardani maka langsung dilakukan lobi-lobi perihal niatnya hendak membeli tanah tersebut. “Enggak sembarangan kita, namanya tanah di Jakarta kan nominalnya enggak bisa dibilang kecil, jadi kita juga hati-hati,” ujarnya.

Dalam lobi-lobi tersebut, Mardani meminta untuk diberikan duit sebesar Rp 100 juta. Mardani yang diketahui merupakan bagian dari PT SV, PT SDU dari penuturan dia kepada penyidik itu meminta duit Rp 100 juta hanya untuk melihat surat-surat sebelum transaksi jual beli.

Calon pembeli pun menyanggupi permintaan Mardani. “Kita iyain, tapi dengan cara pembayaran bertahap. Kenapa? Biar kita bisa terus lobi-lobi dengan dia, jaga waktu untuk bisa terus kumpul informasi karena status tanahnya kan belum jelas. Jadi tidak kita bayarkan secara penuh,” terang calon pembeli ini.

Pembayaran yang sudah diterima Mardani total sebesar Rp 64 juta yang sebagian dikirimkan ke rekening atas nama Noufal Hadyanto yang notabene adalah anak kandung dari Mardani. Jadi masing-masing transaksi sebesar Rp25 juta, Rp20 juta, dan Rp10 juta berupa tunai sewaktu pertemuan dengan Mardani di Aeon Mall, dan lokasi tanah.

“Sisanya itu saya pecah ke jumlah yang lebih kecil, satu juta-satu juta agar tetap bisa kontak dengan dia sampai informasi tentang tanah itu benar-benar jelas,” ungkapnya.

Sampai suatu ketika si pengusaha atau calon pembeli bertanya kepada Mardani mengenai status kepemilikan tanah, Mardani enggan menjelaskan. Mardani menilai tidak adanya keseriusan membeli tanah lantaran lambat dalam membayar duit Rp100 juta.

“Dia bilang, ngirimnya (duit) sedikit-sedikit, enggak serius ini mah,” ujarnya.

Kendati demikian kemudian didapatkan informasi mengenai kepemilikan tanah tersebut. Berdasarkan keterangan Mardani, tanah tersebut berstatus “girik garapan”. Tanah tersebut diklaim milik almarhum ayah Mardani dan seorang rekannya.

“Dari itu kita dapat nama Haji Fauzi sebagai pemilik kedua. Jadi ayahnya Mardani dan ayahnya Haji Fauzi, dulu itu adalah penggarap tanah itu,” ucapnya meniru yang disampaikan oleh Mardani.

Setelah mendapatkan informasi tersebut, maka langsung dihubungi Haji Fauzi soal jual-beli tanah tersebut oleh si calon pembeli. Namun dengan tegas Haji Fauzi mengatakan tanah itu tidak dijual. Ia juga mengaku bahwa ia tidak pernah terima duit dari Mardani.

“Akhirnya kita minta pertanggungjawaban Mardani. Kita minta lihat surat-surat tanah itu. Tapi dia berkelit bahwa surat semuanya ada di Haji Fauzi sementara Haji Fauzi mengatakan bahwa dia tidak menjual tanah tersebut. Saya pikir, duh mafia ini,” ungkapnya.

Si calon pembeli kemudian meminta Mardani untuk mengembalikan uang yang sudah diberikan atau menjual bagian tanah miliknya. Tapi alih-alih menyelesaikan masalah, Mardani justru hilang kabar. Pada 11 Oktober 2019, akhirnya dibuatlah laporan kepolisan.

“Akhirnya kami laporkan ke Polisi dengan modal saksi dan bukti-bukti yang kami punya sejak awal berhubungan dengan Mardani,” tegasnya.

“Saya percaya sama Polri. Kan komitmen dari awal mereka bakal berantas mafia tanah. Kasusnya sekarang sudah P21 dan sudah diserahkan ke kejaksaan. Kita  hanya mau keadilan dan efek jera untuk si penipu pertanahan dan mafia tanah yang dibeking oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” ungkapnya.

Selain itu, dia juga mengapresiasi polisi yang profesional dan tidak takut siapa beking orang kuat yang ada di belakang pemain-pemain mafia tanah tersebut dan tetap berkomitmen memberantas mafia tanah sampai ke akar-akarnya.