Anggota DSDAN: Jakarta Akan Tenggelam Kalau Strategi Atasi Banjir Masih Ecek-ecek

Alee
Anggota DSDAN: Jakarta Akan Tenggelam Kalau Strategi Atasi Banjir Masih Ecek-ecek
Anggota Dewan Sumber Daya Air Nasional (DSDAN) S Indro Tjahyono

Jakarta, HanTer - Jakarta akan tenggelam kalau strategi atasi banjir masih ecek. Demikian pernyataan anggota Dewan Sumber Daya Air Nasional (DSDAN) S Indro Tjahyono, selepas mengikuti  rapat DSDAN yang membahas masalah banjir, Selasa (10/3/2020), khususnya yang terjadi di DKI Jakarta.

 

"Walaupun sudah ada berbagai proyek untuk atasi banjir, baik yang baru maupun proyek lama yang mangkrak, usaha itu akan sia-sia," kata Indro.

 

Menurutnya, beban penyebab banjir Jakarta dan dampak perubahan iklim menuntut cara-cara extraordinary untuk menyelamatkan Jakarta.

 

Hal itu juga dikatakan oleh beberapa narasumber yang diundang untuk memberi masukan dari kalangan kementerian, lembaga non kementerian, dan organisasi non pemerintah. Jakarta harus mampu menyerap air secara maksimal yang mengalir di permukaan. Kecuali itu juga mengatasi amblesan tanah yang sampai 4,1 cm per tahun akibat pengambilan air tanah berlebihan karena kegagalan PDAM memenuhi kebutuhan air masyarakat Jakarta.

 

Robert Sianipar, seorang narasumber yang selama ini aktif dalam membantu perumusan kebijakan sumber daya air, memandang perlu adanya pergeseran besar paradigma dalam mengatasi banjir. Sekarang yang diperlukan adalah pengelolaan resiko banjir bukan membuat Jakarta bebas banjir. Ia menekankan pentingnya diwujudkan konsep Sponge City yakni upaya meningkatkan daya tampung dan daya serap air di perkotaan.

 

Menurutnya Bappenas sudah melakukan peninjauan ke beberapa kota di Cina yang telah menerapkan konsep Sponge City ini. Diharapkan semua upaya pembenahan infrastrukur untuk mengatasi banjir mengacu pada konsep yang berbasis konservasi dan upaya nonstruktural ini. Selama ini banjir Jakarta terlalu banyak ditangani secara teknis, dan belum menitikberatkan pada penataan dan pengelolaan wilayah, khususnya pada dataran banjir yang menjadi langganan banjir.

 

Kelalaian

 

Saiful Mahdi, salah satu anggota DSDAN lain, mengingatkan bahwa banjir yang melanda Jakarta sebenarnya adalah kelalaian dari penerapan prinsip zero Delta Q yang sudah diatur oleh pemerintah. Menurutnya, "Prinsip zero Delta Q adalah agar setiap pendirian bangunan tidak mengakibatkan bertambahnya debit air ke sistem saluran drainase atau sistem aliran sungai".Idealnya, setiap bangunan harus mampu menyerap air hujan di areal masing-masing, ujarnya.

 

Indro Tjahyono, pada kesempatan terakhir, menegaskan agar digunakan index yang tepat dalam menetapkan asumsi untuk membuat kebijakan atasi banjir. "Penyimpangan prakiraan cuaca harus ditetapkan koefisiensinya, sehingga curah hujan yang diperkirakan melalui metode lama bisa dikoreksi".

 

Selain itu, ia juga mengusulkan agar Kementerian  PUPR dan Kementerian LHK bisa menyamakan persepsi dalam pengelolaan daerah aliran sungai terkait daya dukungnya dan base line tentang tutupan lahan dan tingkat erosi (runoff) yang ditoleransi.

 

"DSDAN harus bisa berperan dalam mendamaikan dua kementerian yang menentukan terjadi dan terkendalinya banjir tersebut. Kini saatnya, dan jangan ditunda-tunda lagi," tegas Indro.