Sepi Penumpang, LRT DKI Tuai Kritik Berbagai Kalangan

sammy
Sepi Penumpang, LRT DKI Tuai Kritik Berbagai Kalangan

Jakarta, HanTer - Sejak fase uji coba berakhir pada akhir tahun lalu, PT Light Rail Transit (LRT) Jakarta rute Stasiun Velodrome-Kelapa Gading tengah mendapat soroton tajam. Proyek yang menelan biaya hingga Rp6 triliun lebih tersebut justru malah sepi peminat. Kondisi tersebut, menuai berbagai reaksi keras di berbagai kalangan.

"Terbukti kan kalau LRT rute Kelapa Gading-Rawamangun Velodrome sepi penumpang. Dari awal saya sudah bilang mubazir proyek LRT ini," kata Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, M Taufik, di Jakarta, Kamis (20/2/2020).

Menurut Taufik, LRT yang dibangun memakai uang APBD sebesar Rp6 triliun tersebut patut dievaluasi secara menyeluruh. "Saya kira Komisi B, harus mengevaluasi keberadaan LRT ini. Karana ada uang rakyat yang dipakai untuk membangun, sehingga penggunaannya harus tepat sasaran dan tidak mubazir seperti kondisi saat ini," ujar dia.

Untuk diketahui, LRT Kelapa Gading-Rawamangun telah beroperasi secara komersil. Namun, hampir seluruh stasiun moda transportasi LRT Jakarta masih tercatat sepi penumpang.

Dari total 6 stasiun yang ada, 4 di antaranya masih sepi penumpang atau distribusi jumlah pelanggannya tak sampai 10% dari total sebaran penumpang di seluruh stasiun yang sebanyak 74.187 hingga 17 Desember 2019 kemarin.

Keempat stasiun itu adalah stasiun LRT Equestrian yang jumlah penumpangnya baru mencapai 4,5%, stasiun LRT Pulomas baru menyerap 6,5% penumpang, stasiun LRT Pengangsaan Dua 7,5% penumpang, dan stasiun LRT Boulevard Selatan 8,1% penumpang.

Pemborosan

Disisi lain, politikus Partai Demokrat Jansen Sitindaon, menyoroti sepinya penumpang di kereta LRT Jakarta dengan rute Kelapa Gadung-Rawamangun. Ia pun menyebut proyek yang hampir menelan dana Rp6 triliun sebagai proyek gagal.

"Baru tahu LRT menuju Rawamangun sepi banget ternyata. Menurutku sih ini proyek gagal dan salah lokasi. Apa dulu tidak disurvey ya?," katanya.

"LRT Gading-Rawamangun ini ide siapa ya? Ini mercusuar tapi gegabah dan mubazir menurut saya," ucapnya.

Mulai Diminati

Sementara itu, General Manager of Corporate Secretary, Arnold Kindangen, tak menampik bahwa sejak tarif mulai diberlakukan, sekalipun hanya sebesar Rp5.000, di awal-awal, LRT Jakarta memang banyak ditinggal penumpangnya. Rata-rata penumpang juga rendah, hanya menyentuh angka 4.000 dari rata-rata target 7.000 pengunjung.

"Tapi memang perlu disampaikan juga, kita masih rata-rata diangka 4.000. Kalau target kita itu 7.000 dari panjang trek kita yang hanya 5,8 ya," terang dia di Jakarta,

Seiring berjalannya waktu, lanjut dia, LRT Jakarta kini mulai kembali diminati masyarakat. Terlebih, setelah moda transportasi yang tiba di stasiun setiap 10 menit tersebut terintegrasi dengan Transjakarta.