Jakarta Utilitas Propertindo Pastikan Pusat Kuliner di Pluit Tetap Pertahankan RTH

Sammy
Jakarta Utilitas Propertindo Pastikan Pusat Kuliner di Pluit Tetap Pertahankan RTH

Jakarta, HanTer - PT Jakarta Utilitas Propertindo memastikan proyek pembangunan kawasan kuliner di lahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di tiga RW Jalan Pluit Karang Indah Timur, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara tempat mempertahankan jalur hijau.

Adapun dari total lahan 2,3 hektar di sana, yang digarap menjadi pusat bisnis hanya 11 persen saja, sementara sisanya 89 persen tetap menjadi RTH.

“Kami sudah dibatasi 11 persen dan ini sudah dipertimbangkan oleh DPMPTSP (Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu) DKI dan Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Aset dan Properti PT Jakarta Utilitas Propertindo Hafidh Fathoni di lokasi pada Selasa (4/2/2020).

Atas pertimbangan itulah, kata Hafid, PT Jakarta Utilitas Propertindo bisa mengantongi izin pembangunan di lahan RTH dari RW 12, 14 dan 15. Namun dia mengaku, pembangunan yang dilakukan oleh mitra kerjanya, yakni PT Prada Dika Niaga sempat terhenti selama setahun sejak 2018 lalu karena dipersoalkan DPRD DKI Jakarta.

“Proyek sempat dihentikan, juga untuk melengkapi administrasi proyek di DPMPTSP,” ujarnya.

Pernyataan Hafidh ini sekaligus menanggapi polemik adanya pembangunan kawasan kuliner di lahan RTH yang berada di bawah Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT). Selain pusat kuliner, pelaksana proyek juga membangun lahan parkir kendaraan mobil dan motor serta taman dengan berbagai jenis tanaman.

“Fasilitas parkir akan dibangun di lahan ini untuk menampung 170-200 unit mobil dan 350 sepeda motor,” jelasnya.

Menurut dia, pembangunan yang dilakukan sebetulnya untuk menata kawasan RTH agar lebih bermanfaat bagi masyarakat. Bahkan penataan RTH ini justru bisa menguntungkan para pemilik usaha yang ada di sepanjang jalan itu karena pemerintah menyediakan lahan parkir.

“Sebagaimana kita ketahui bahwa sepanjang jalan ini banyak usaha bisnis, justru kalau ditata pengunjung yang memakai kendaran bisa parkir di tempat yang disediakan. Harapannya tidak ada lagi yang parkir di pinggir jalan,” ungkapnya.

Gandeng PLN Bangun UMKM
Hafidh juga mengungkapkan, telah berkoordinasi dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) dalam membangun kawasan kuliner di bawah Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT). Awalnya, pembangunan di lahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan di bawah SUTT ini dikhawatirkan dapat mengurangi daerah resapan air dan mengganggu kesehatan masyarakat yang beraktivitas di sana.

Selama ini, lanjut dia, PLN tak mempersoalkan bila pembangunan dilakukan di bawah SUTT. Namun demikian, dia tidak mengetahui sejauhmana kajian yang dilakukan oleh PLN mengenai dampak kesehatan bila ada aktivitas warga di bawah SUTT.

“Mengenai kajian atau tidak, secara detail kami tidak tahu. Tapi kami menggandeng PLN dan kami gandeng mereka karena lebih mengerti mana yang boleh atau tidak boleh,” ujar Hafidh.

Selain memastikan lahan itu aman digunakan untuk berakvitias, Hafidh juga menjamin proyek tersebut tetap mempertahankan RTH. Bahkan, PT Jakarta Utilitas Propertindo juga bakal mengedepankan proyek yang ramah lingkungan dalam penataan kawasan tersebut.

Artinya, kawasan kuliner yang dibangun di lahan RTH di RW 12, 14 dan 15 tetap mengutamakan lingkungan.

“Untuk lapisan bawahnya nanti memakai bahan grass block sehingga fungsi RTH kami pertahankan,” kata Hafidh.

Dia mengatakan, jenis bangunan untuk binaan UMKM di sana juga berbahan semi permanen sehingga dapat dibongkar bila lahan dibutuhkan untuk kepentingan lain. Sedangkan untuk atap yang digunakan, diklaim ramah lingkungan dan mampu meredam radiasi sinar ultra violet (UV) karena memakai atap onduline.

“Proyek sudah dimulai sejak awal 2018 dan sempat terhenti selama setahun, sehingga target selesai menjadi tahun 2021. Saat ini progresnya belum sampai lima persen karena sekarang pelaksana proyek masih fokus pada pembersihan lahan (land clearing) dulu,” jelasnya.

Meski diklaim tetap mempertahankan RTH, namun dia tidak menampik bahwa peruntukan lahan di sana merupakan jalur hijau. Sejauh ini, lembaganya belum mendapat instruksi untuk mengganti 11 persen lahan RTH yang digunakan sebagai kawasan kuliner di tempat lain.

“Sejauh ini belum ada informasi ke kami, tapi kalaupun ada instruksi kami sudah siap menggantinya,” tambahnya.

Mendukung
Ketua Lembaga Masyarakat Kelurahan (LMK) Kelurahan Pluit, Purwanto, berharap, dengan adanya proyek tersebut dapat lebih memanusiakan pedagang.

"Kami sepakat mendukung agar ini cepat selesai. Perut kami bisa terisi, keluarga kami ada jaminan untuk usaha yang lebih baik," ungkapnya.

Ia mengungkapkan, para pedagang sudah capek berdagang yang tidak jelas. Karena di samping dagang tidak jelas, pasti akan berdampak pada kamtibmas yang tidak baik serta lingkungan yang tidak baik.

"Harapan kami karena proyek ini konsepnya bagus, memanusiakan manusia sesuai dengan programnya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ya kan, maju kotanya bahagia warganya. Nah inilah saatnya kami sangat dukung," ujarnya.