Optimis Terpilih, NL ke ARP: Abang di DPR Pusat Saja, 'Gue' Wagub. Pengamat: Hati-hati DPRD DKI Jangan Main Api

Sammy
Optimis Terpilih, NL ke ARP: Abang di DPR Pusat Saja, 'Gue' Wagub. Pengamat: Hati-hati DPRD DKI Jangan Main Api
Nurmansjah Lubis sedang menjadi barista atau peracik kopi di CFD (ist)

Jakarta, HanTer - Persaingan kedua kandidat Calon Wakil Gubernur (Cawagub) DKI Ketua DPP Gerindra Ahmad Riza Patria dan politikus PKS Nurmansjah Lubis, kian bergulir. Masing-masing pihak kedua calon mulai turun ke masyarakat. Bahkan, kedua Cawagub mulai saling berinteraksi dan saling lempar pernyataan satu sama lain.

Pada Minggu (26/1/2020), Cawagub DKI Jakarta, dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Nurmansjah Lubis, punya cara tersendiri dalam menyapa warga Ibukota yang sedang menikmati akhir pekan dalam Kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau biasa disebut Cara Free Day (CFD).

Pria yang akrab disapa Bang Ancah ini, dengan gerobak kopi miliknya menjamu warga Jakarta yang kebetulan melintas di sekitar Hotel Le Meridien, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.

Ancah yang lahir di Jakarta 8 Desember 1964 mengatakan, meskipun dirinya dinilai kurang populer dibandingkan lawannya dari Partai Gerindra, Ahmad Riza Patria, namun ia tetap optimis bisa mendampingi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk mewujudkan janji kampanyenya.

"Titanic itu gede. Begitu launching katanya Tuhan nggak bisa nenggelamin. Eh nggak lama dia tenggelam. Kalau orang berpikir gua kuat ni, akhirnya dia rontok juga. Yang penting kite ngibarin bendera sebagai Nurmansjah, jangan nurunin bendera orang lain," kata dia.

Nurmansjah berpendapat saling menghormati dan tidak menjelekan pasangan merupakan komitmen yang perlu diutamakan. Dengan begitu, pertarungan menjadi sehat.

"Itu prinsip dasar bahwa kita nggak bakal jelekin Bang Riza. Itu sohib gua. Kalau sohib gini, gue bilang, abang di DPR pusat aja, gua Wagub," pungkas Ancah disusul dengan tawa

Enggan Berkomentar
Sementara itu, Politikus Gerindra Ahmad Riza Patria, tidak mau banyak berkomentar atas kelakar Politikus PKS Nurmansyah Lubis terkait kursi Wagub DKI Jakarta. Dalam sebuah kesempatan, Nurmansyah mengatakan kepada Riza untuk fokus melaksanakan tugas sebagai anggota DPR RI, ketimbang menjadi Wagub DKI Jakarta. 

Menurut Riza, urusan Wagub diserahkan kepada anggota DPRD DKI Jakarta. Sebab, anggota DPRD memiliki hak untuk memilih sosok terbaik mendampingi Anies Baswedan memimpin Jakarta.

"Ya sepenuhnya, diserahkan kepada anggota dewan ya, mereka yang lebih mengerti, memahami, dan mengetahui yang terbaik," kata Riza di Jakarta, Minggu (26/1/2020).

Namun, Riza tidak bisa memilih ketika disinggung jabatan yang lebih diinginkannya antara menjadi anggota DPR atau Wagub DKI Jakarta. 

Ia hanya menjawab bahwa dirinya sudah ditugaskan partai untuk berkontestasi sebagai Wagub DKI Jakarta. Penugasan partai itulah yang membuat dirinya pantang mundur dari kontestasi.

Sambut Positif
Disisi lain, Eks Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyambut positif dua kandidat calon penggantinya di Ibu Kota, yaitu Menurut Sandiaga, kedua figur tersebut sangat pantas bersanding dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

"Dua sosok ini insyaallah yang bisa mendampingi Pak Anies dan menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan apa yang dicanangkan di awal," kata Sandiaga di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Minggu (26/1/2020).

Meski rekan satu partai, Sandiaga menolak menyampaikan dukungannya pada Riza. Ia mengaku menyerahkan sepenuhnya kepada DPRD DKI Jakarta, selaku pihak yang berwenang menentukan kandidat yang lebih pantas menjadi wakil gubernur DKI Jakarta.

Bagi Sandiaga, Riza dan Nurmansjah merupakan kader terbaik dari Gerindra dan PKS. Keduanya dinilai sangat mengenal Jakarta, dan dapat membantu Anies menjalankan program ekonomi Ibu Kota.

Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra ini pun berharap tak ada lagi kendala dalam proses pemilihan wagub DKI Jakarta. Menurutnya, keberadaan wagub DKI sudah sangat urgen untuk menuntaskan program kerja Pemprov DKI.

Menurutnya, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, setelah Sandiaga mengundurkan diri pada pertengahan Agustus 2018.

"Mari kita wujudkan segera, karena ini prosesnya sudah terlalu lama. Sudah ditunggu warga DKI. Tugas-tugas di Ibu Kota ini segera bisa dilakukan oleh wagub terpilih," ucapnya.

Untuk diketahui, Sandiaga sempat menjadi wakil gubernur, menemani Anies setelah memenangkan Pilgub DKI Jakarta 2017. Keduanya diusung oleh koalisi Gerindra dan PKS.

Pada medio 2018, Sandiaga memutuskan untuk mengikuti kontestasi Pilpres 2019. Ia maju menjadi calon wakil presiden, mendampingi Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Ajak KPK dan PPATK
Pengamat politik Ubedillah Badrun menilai, kuatnya dominasi Gerindra dalam pemilihan Wakil Gubernur DKI mengindikasikan lemahnya dominasi PKS.

"Yang menentukan kekuasaan itu Tuhan. Yang bakal jadi Wagub DKI itu sudah tercatat di lauhul mahfuzd sudah tercatat di langit. Demikian saya baca di media dari pernyataan Sakhir Purnomo, Ketua DPD PKS DKI. Teokratis banget," kata Ubedillah di Jakarta, Minggu (26/1/2020).

Ubedillah melanjutkan, PKS seolah tidak punya keterampilan lobi politik.

"Mentok. Saya amati efek psikologis politiknya dalam budaya politik Indonesia, unik juga, terlihat mengalah namun mendapat simpati publik karena terkesan mengutamakan kepentingan warga Jakarta agar segera punya wagub, kasihan Gubernur Anies diserang sendirian. Seperti itu kira kira bacaan sosiologis psikopolitiknya," terang Ubedillah.

Direktur Eksekutif Center for Social Political Economic and Law studies ini menilai, secara politik pemilihan wagub juga sebagai ujian bagi DPRD terkait etika politik dan integritas anggotanya. Apakah mereka mampu menjamin bahwa dalam pemilihan nanti tidak terjadi politik uang, tidak terjadi transaksi-transaksi tertentu yang mengarah pada jual beli dukungan dan suara.

"Untuk menjamin itu semua terbebas dari money politic sebaiknya panitia pemilihan di DPRD mengajak KPK dan PPATK untuk memantau langsung dan mengawasi langsung jalanya pemilihan Wagub DKI di DPRD ini. Hati-hati DPRD DKI jangan bermain api. Risiko besar menanti anggota DPRD jika terjebak money politic," kata Ubedillah.

Ubedillah melihat, beban masalah Jakarta yang begtu berat memerlukan gubernur dan wakil gubernur yang mampu bersinergi dengan baik. Wagub mampu membantu gubernur mewujudkan visi-misi dan programnya.

"Jakarta memerlukan wagub yang memiliki semacam chemistry dengan gubernur, bekerja profesional dan memiliki integritas," kata dia.