Aksi Begal Bokong, Psikolog: Perilaku Seksual Menyimpang

Harian Terbit/Safari
Aksi Begal Bokong, Psikolog: Perilaku Seksual Menyimpang
Ilustrasi (ist)

Baharuddin, tersangka begal bokong terhadap seorang mahasiswi di Jalan Mulia Otista, Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur telah ditangkap polisi Polres Jakarta Timur. Dia mengaku baru satu kali melakukan aksi pelecehan seksual tersebut dan itu pun dilakukan secara spontan. Saat beraksi, Baharuddin meminjam motor milik temannya.

Pengamat sosial dari Universitas Indonesia (UI) Yophie Septiadi mengatakan, ada dua yang melandasi Baharuddin untuk melakukan aksi begal bokong. Pertama, hasrat seks (menyimpang) yang menggebu - penyalurannya tidak ada (misalnya, belum beristri) dan tidak mampu untuk membayar PSK. Kedua, yakin dengan kondisi motor dan skill (keahliannya) untuk bisa lepas atau tidak terjarat dari perbuatannya.

"Secara sosial, orang-orang seperti ini biasanya ada dalam lingkungan yang perempuannya cantik, menarik (menurut selera pelaku) dan berkelas (status sosial dan ekonominya lebih tinggi dari pelaku). Sementara perempuan-perempuan itu di luar atau jauh dari jangkauannya (si pelaku yakin bahwa ia bukan kelas (dibawah) perempuan - perempuan itu). Istilahnya, minder tapi doyan," ujar Yophie kepada Harian Terbit, Rabu (22/1/2020).

Menurutnya, untuk melampiaskan hasrat yang terpendam itu, dimangsalah perempuan yang menurutnya se-level (sosial dan ekonomi) dengannya; yaitu perempuan yang sedang ada (berjalan kaki) di jalan umum, yang identik dengan masyarakat pengguna angkutan umum. Polanya, seperti memindahkan tempat untuk melampiaskan kejahatan seksual, dan mencari korban yang dianggap lemah.

Menurut Yophie, ada juga yang melakukan hal itu karena terbiasa merendahkan kaum perempuan. Misalnya, orang yang suka mempermainkan ketulusan cinta perempuan, sering gonta-ganti pasangan, atau bahkan sering menggunakan jasa PSK. Karena merasa superior terhadap perempuan, maka pelaku tidak sungkan-sungkan untuk melakukan kejahatan seksual itu.

Menyimpang

Psikolog dari Universitas Nasional (Unas), Jakarta, Sigit Rochadi mengatakan, aksi begal bokong yang dilakukan Baharuddin merupakan perilaku menyimpang seksual yang didorong oleh hasrat biologis. Baharuddin menyalurkan penyimpangan seksualnya ke sasaran yamg bisa dijangkau. Apalagi pelaku tidak mampu mengendalikan diri jika melihat rangsangan. 

"Sangat mungkin pelaku adalah konsumen gambar dan video biru," ujar 
Sigit kepada Harian Terbit, Rabu (22/1/2020).

Menurut Sigit, sosok Baharuddin termasuk kategori deviant behavior (perilaku yang tidak puas dengan norma-norma yang ada dan cenderung melanggar). Baharuddin tidak akan merasa puas. Apalagi jika perempuan hanya dilihat sebagai objek. Oleh karena itu setelah berhasil satu kali akan terus mengulangi. Dia akan bangga dan merasa sebagai pemenang tiap kali berhasil melakukannya. 

Psikolog, Dra. A. Kasandra Putranto mengatakan, untuk mengetahui persis apa motif dan keinginan Baharuddin, tersangka begal bokong yang saat ini telah ditangkap polisi maka harus diperiksa terlebih dahulu tersangka  atau dokumennya. Dari pemeriksaan tersebut maka akan diketahui motif dibalik aksinya membegal bokong perempuan. 

"Harus periksa dulu orangnya. Saya tidak bisa memberikan tanggapan jika tidak memeriksa orangnya atau dokumennya. Psikolog kan bukan dukun," paparnya.

CCTV 

Kapolres Metro Jakarta Timur AKBP Arie Ardian mengatakan, penangkapan terhadap Baharudin dilakukan setelah pihaknya melihat rekaman CCTV di lokasi kejadian. Polisi pun mencari identitas tersangka dan akhirnya melakukan penangkapan. Dari hasil pemeriksaan, tersangka mengaku baru satu kali melakukan aksi cabulnya itu.

Arie memaparkan, tersangka mengaku tindakannya itu dilakukan secara spontan karena melihat perempuan yang membuat hasrat seksualnya naik.
Tersangka mengaku aksi cabulnya itu dilakukan saat berangkat ke rumah sakit untuk menemani anaknya.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 218 KUHP dengan ancaman pidana kurungan penjara selama dua tahun delapan bulan.