Berbagai Upaya Sistematis Penggembosan

Anies Tetap Fokus Bekerja dan Abaikan Serangan Buzzer

Sammy
Anies Tetap Fokus Bekerja dan Abaikan Serangan Buzzer
Gubernur DKI Anies Baswedan meninjau banjir Jakarta

Jakarta, HanTer - Berbagai serangan kerap dilancarkan pihak-pihak tertentu terhadap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melalui dunia maya. Berbagai kalangan menilai, serangan-serangan tersebut diduga dilakukan secara sistematis dengan tujuan menggembosi Anies, jelang kontestasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2022 dan pemilihan presiden (Pilpres) 2024.

Pengamat Politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, menduga ada upaya sistematis tersebut bisa dilihat dari berbagai serangan yang dilakukan para buzzer maupun parpol oposisi di DPRD DKI yang berusaha menggembosi Anies.

"Lalu juga adanya kebijakan pemerintah yang tidak Pro Anies, misalkan terkait dengan pemindahan ibu kota. Lalu juga terkait dengan pilkada serentak tidak ada di 2022," ujarnya di Jakarta, Jumat (10/1/2020).

Diketahui pilkada serentak dilakukan pada 2022. Sementara gelaran selanjutnya digelar pada 2024 bersamaan Pilpres dan Pileg.

Artinya, ditengarai ada upaya menjegal Anies sedini mungkin lewat sistem. Mengingat masa jabatan Anies sebagai Gubernur DKI Jakarta akan habis pada 2022.

Lebih lanjut, Ujang menyampaikan serangan bertubi-tubi yang dilakukan terhadap Anies membuktikan bahwa politik tidak dilakukan secara serampangan. Dia menyebut, serangan politik biasanya dilakukan secara sistematis, baik melalui partai, jabatan kenegaraan, hingga pihak ketiga.

"Itulah politik bisa terjadi kepada siapa saja ketika dia dianggap kuat," ujarnya.

Ujang membenarkan, Anies merupakan sosok potensial menjadi capres pada Pilpres 2024. Ia menilai Anies sosok intelek dan menjadi orang nomor satu di ibu kota Jakarta. Jika tidak ada upaya menghalau sejak dini, bukan tidak mungkin Anies menang Pilpres 2024.

Ujang menyarankan Anies tidak perlu merespon secara berlebihan serangan politik dari berbagai pihak. Anies harus tetap menunjukkan kinerjanya agar publik memberi penilaian baik.

"Ada juga serangan-serangan itu belum tentu negatif juga. Bisa jadi serangan itu menguntungkan Anies. Misal Anies terzalimi atau orang yang terzalimi. Jadi maknanya bisa dua, membusuki atau pihak yang terzalimi," ujarnya.

Tak Menghiraukan

Menyikapi hal itu, Anies tak ingin terlalu menghiraukan pembicaraan warganet di dunia maya atau media sosial soal banjir. Anies lebih ingin fokus bekerja di dunia nyata.

"Jadi ada percakapan, ada kenyataan. Saya fokus pada kenyataan. Kenyataannya Indonesia sedang mengalami tantangan cuaca yang luar biasa," kata Anies di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat,

Menurut Anies, wajar jika pemerintah daerah lebih fokus bekerja ketimbang menghiraukan semua yang beredar di media sosial.

"Nah, pemerintah harus bekerja menggunakan kenyataan, fakta, bukan memfokuskan pada percakapan, karena percakapan bisa naik turun dan bisa positif negatif. Tapi kita bekerja untuk memastikan pelayanan berjalan baik, warga terlindungi, itu semua yang jadi fokus," tutup dia.

Anies lalu menyinggung daerah lain yang juga terdampak banjir. Diantaranya Lebak, Banten dan Bekasi, Jawa Barat.

Namun, menurut Anies, banjir di dua daerah tersebut tidak dibicarakan di dunia maya yang intensif seperti Jakarta. Mantan Mendikbud itu menyayangkan karena ada perbedaan perhatian.

"Kalau di Jawa bagian barat, dari mulai Lebak sampai Bekasi. Sayangnya, tidak semua dapat perhatian dalam percakapan," ujar Anies.

Ia mencontohkan banyak bangunan rubuh di daerah Lebak. Beda dengan Jakarta, yang diklaim Anies tidak ada bangunan atau infrastruktur yang rusak.

"Coba dicek berapa jembatan yang hilang di banyak tempat. Di Jakarta ini alhamdulillah, gedung hilang tidak ada, rumah longsor tidak ada, jalan rusak tidak ada, betul ya?" ungkap Anies.

"Kantor tutup tidak ada, mal tutup tidak ada, Bundaran HI ketutup tidak ada. Itu semua tidak ada, tapi pembicaraannya tinggi.Tapi di tempat yang ada itu semua, malah tidak jadi pembicaraan," tambahnya.

Banjir yang terjadi di sejumlah wilayah pada 1 Januari lalu menjadi pembicaraan di media sosial terutama Twitter. Khususnya banjir di wilayah DKI Jakarta.

Tidak sedikit yang mengomentari tindak tanduk Gubernur Anies Baswedan dalam menangani banjir serta korban. Sejumlah hashtag sentimen negatif bermunculan di Twitter beberapa di antaranya ialah #AniesGabisakerja dan #4niesGaBecusKerja.

Bahaya Buzzer

Analis Politik Sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago, menjelaskan bahaya buzzer politik yang dapat merugikan seseorang.

"Karena itu tadi buzzer dianggap merongrong, merusak citra dan menyerang dan membuhuh karakter personal seseorang secara membabi buta, menyebarkan fitnah dan sebagainya," ujarnya di Jakarta, Jumat (10/1/2020).

Pangi melanjutkan, dalam bekerja buzzer ada yang mengarahkan, tergantung permintaan 'sang tuan'. Cara kerjanya kan terstruktur, kolektif, dan bahkan mesin buzzer yang ampuh pakai tokoh icon berpengaruh untuk menyerang dan downgrade figur yang bakal dirusak citranya.